Ini Alasan Bung Karno Membongkar Rumah Proklamasi

Rentfix.comRumah Proklamasi memiliki arti penting dalam perabadan sejarah Indonesia. Sebab, di tempat itulah Presiden Pertama Republik Indonesia (RI), Ir Soekarno membacakan rumusan teks Proklamasi yang menandai Hari Kemerdekaan Indonesia yang jatuh pada tanggal 17 Agustus 1945.

Rumah yang berlokasi di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Menteng, Jakarta Pusat, ini dirobohkan pada 27 Agustus 1950. Bukan tanpa alasan, perobohan gedung bersejarah tersebut atas permintaan Bung Karno sendiri.

Apa alasan di balik itu? Arsitek dan pemerhati bangunan bersejarah Bambang Eryudhawan mengungkapkan, Bung Karno dan beberapa pejuang Indonesia serta perwakilan daerah melakukan Musyawarah Nasional yang menghasilkan “Pernjataan Bersama” (Pernyataan Bersama). Pernyataan bersama tersebut diteken oleh Bung Karno beserta Wakil Presiden Pertama RI Mohammad Hatta pada 14 September 1957.

“Tidak lama setelah itu, terjadilah PRRI/Permesta,” kata Bambang dalam webinar “Di Balik Robohnya Bangunan Rumah Proklamasi”, seperti dilansir dari Kompas.com Senin (17/8/2020).

Setelah itu, dibentuk Dewan Perancang Nasional atau “arsitek” dalam artian luas. Arsitek inilah yang membantu mewujudkan kebutuhan masyarakat Indonesia berupa rancangan  335 proyek.

Proyek tersebut dibagi dua, Proyek A dan Proyek B. Proyek A mencakup seluruh fasilitas dasar atau primer yang dibutuhkan masyarakat Indonesia. Sementara proyek B meliputi hasil bumi atau hasil kekayaan Indonesia untuk membiayai proyek A. Proyek ini diumumkan oleh Profesor Mohammad Yamin.

Semua pihak yang terlibat, mendukung proyek tersebut hingga banyak diiklankan di surat kabar dengan tagline “Maju Terus Pembangunan Semesta Berentjana”.

Pada 1 Januari 1961, Bung Karno memutuskan untuk memulai pembangunan semesta berencana dan mencanangkan cangkulan pertama di rumah kesayangannya, Rumah Proklamasi.

Gatot Subroto dan Gubernur DKI Jakarta Periode 1960-1964 Soemarno Sosroatmodjo tercatat menjadi saksi atas peristiwa bersejarah itu. “Bung Karno pun memutuskan, rumah yang dia sayangi ditumbalkan.

Rumah beliau yang sempat menjadi “milik RI” dan dijadikan Wisma Nasional ini dikorbankan untuk sebuah proyek yang lebih besar,” urai Bambang.

Namun, keputusan Bung Karno ini bukannya tanpa protes. Wakil Gubernur DKI Jakarta Henk Ngantung pada saat itu sempat mengajukan protes keras dan bertanya mengapa Bung Karno melakukan hal tersebut.

Terang saja Bung Karno marah. Hingga akhirnya Henk Ngantung membuat maket kompleks Rumah Proklamasi dan disimpan di salah satu kantor PT PP (Persero) Tbk yang berlokasi di Jalan Thamrin.

Sebelum Rumah Proklamasi dibongkar, pada saat bersamaan tengah dibangun Gedung Pola yang berada di belakangnya.

Pemikiran Nasser

Menurut Bambang, Bung Karno memiliki pemikiran yang sama dengan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser.

Pada saat itu, Nasser mengorbankan monumen bersejarah Abu Simbel untuk dipindahkan atau dipotong sebagai tempat pembangunan Bendungan Aswan.

“Karena yang saya perlukan saat ini adalah Bendungan Aswan untuk menghidupi kehidupan masyarakat Mesir pada hari ini dan masa depan,” tutur Bambang yang menceritakan Nasser.

Menurut Bambang, pemikiran Bung Karno pada saat itu tentu berbeda dengan orang yang hidup pada saat ini. Namun tak dapat dimungkiri, imbuh Bambang, peristiwa tersebut merupakan bagian dari sejarah Indonesia saat ini.

Hari Pendidikan Nasional dan Momen Mengenang Ki Hadjar Dewantara

Rentfix.com – Setiap 2 Mei, seperti hari ini, Sabtu (2/5/2020), masyarakat Indonesia memperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei diambil dari tanggal lahir sosok yang dianggap berjasa dalam bidang pendidikan di Tanah Air, yaitu Ki Hadjar Dewantara.

Hari Pendidikan Nasional diperingati untuk mengenang dan menghormati jasa Ki Hadjar Dewantara. Pria kelahiran Pakualaman, Yogyakarta, 2 Mei 1889, ini dikenal sebagai pencetus Taman Siswa dan jargon terkenal Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Sistem pendidikan yang diajarkannya bahwa segala ilmu pengetahuan harus didasarkan pada jati diri bangsa. Ajaran ini masih terus diimplementasikan hingga hari ini.

Dikutip dari pemberitaan harian Kompas edisi 16 Agustus 1985, pandangan ini banyak dikenal sebagai “Teori Nasi Goreng”. Maksudnya, bahan dasar tetaplah nasi yang merupakan bahan makanan pokok asli masyarakat Indonesia, tetapi dalam pembuatannya bisa menggunakan mentega, sosis, dan bahan lain yang asalnya dari negara lain. Rasanya tetap enak, tetapi nasi goreng berbahan tambahan apa pun tetaplah makanan berbahan dasar nasi.

Berdasarkan pemberitaan harian Kompas, 2 Mei 1968, karena jasa-jasanya, Ki Hadjar Dewantara mendapatkan penghargaan dari pemerintah. Ia dianggap telah memelopori sistem pendidikan nasional berbasis kepribadian dan kebudayaan nasional. Ki Hadjar ditetapkan sebagai Bapak Pendidikan Nasional melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 305 Tahun 1959 pada Tanggal 28 November 1959.

Kisah Ki Hadjar Dewantara

Banyak kisah tentang Ki Hadjar Dewantara, yang bernama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Ia tidak menginginkan namanya diabadikan sebagai nama jalan atau taman-taman. Hal itu ternyata merupakan wasiat Ki Hadjar Dewantara kepada keluarganya, sebelum mengembuskan napas terakhir pada 26 April 1959.

Melansir artikel lain dari harian Kompas edisi 23 April 1985, pihak keluarga dan Majelis Luhur Taman Siswa telah menyampaikan hal ini kepada semua wali kota dan bupati se-Indonesia. Surat berisi informasi yang sama juga pernah dikirimkan kepada semua menteri di Kabinet Pembangunan III. Dalam surat itu, dilampirkan kesaksian dari pihak Taman Siswa dan keluarga yang benar-benar mendengar dan mengetahui wasiat itu.

Beberapa di antaranya yang menjadi saksi adalah ketiga putra dan putri Ki Hadjar Dewantara, yaitu Ki Subroto Arya Mataram, Nyi Ratih Saleh Lahade, dan Ki Sudiro Alimurtolo. Meski penamaan ini menunjukkan penghormatan dan upaya bangsa untuk tetap mengingat sosoknya, Ki Hadjar Dewantara merasa keberatan dan tak berkenan.

Ketika itu, kepada harian Kompas, Panitera Umum Majelis Luhur Farnan Siswa H Moesman W berharap pemerintah dan masyarakat memberi perhatian terhadap wasiat tersebut dan menghargainya dengan tidak menamai jalan atau taman dengan nama “Ki Hadjar Dewantara”.

“Pengabadian nama Ki Hadjar Dewantara sebetulnya membesarkan hati Majelis Luhur Taman Siswa, namun bagaimana lagi kalau beliau keberatan,” ujar Moesman. Namun, menurut dia, saat itu sudah ada kota-kota di Indonesia yang menggunakan nama Ki Hadjar Dewantara sebagai nama jalan atau taman, misalnya di Cilacap, Bukittinggi, Pekanbaru, dan Tanjungkarang.

“Kami mengharap segera diganti dengan nama lain,” ujar Moesman. Menurut dia, penggunaan nama itu tidak ada konsultasi atau izin dengan pihak keluarga atau Taman Siswa.

Hingga saat ini, nama Ki Hadjar Dewantara juga masih digunakan untuk penamaan ruas jalan di sejumlah kota. Dengan mengetikkan nama tersebut di pencarian Google Maps, terlihat beberapa daerah masih menggunakan namanya sebagai nama jalan.

Beberapa wilayah itu di antaranya Sidoarjo, Surakarta, Jombang, Pasuruan, dan Probolinggo. Jika melihat Yogyakarta sebagai tempatnya, tidak ada penggunaan nama Ki Hadjar Dewantara untuk menamai fasilitas umum, seperti jalan dan taman kota.

Di Yogyakarta, hanya ada sebuah jalan di Kecamatan Mergangsan yang bisa mengingatkan masyarakat pada sosok Ki Hadjar Dewantara. Jalan itu bernama Jalan Taman Siswa, sesuai dengan organisasi cikal-bakal pendidikan nasional bentukan Ki Hadjar Dewantara.

Yuni Shara, Dari Panggung Musik Hingga Terjun Ke Dunia Pendidikan

Rentfix.com –  Di tengah rutinitasnya menghiasi panggung musik tanah air membuat salah satu penyanyi terbaik Indonesia Yuni Shara tetap mendedikasikan diri bagi dunia pendidikan. Hal itu dibuktikannya dengan mendirikan PAUD Cahaya Permata Abadi yang berada di kampung halamannya di Batu, Jawa Timur. 

Wanita bernama lengkap Wahyu Setyaning Budi ini telah mendirikan sekolah bagi para anak-anak usia dini sejak 7 tahun yang lalu. Bukan tanpa alasan ia membangunnya, tekad itu berawal dari rasa peduli dan cintanya terhadap masa depan pendidikan anak-anak di Indonesia. 

Baca Juga: Kak Seto, Rumah Itu Ibarat Harta Karun, Keluarga Sumber Kekuatan dan Rasa Syukur

“Rasa antusias dan kepedulian selalu muncul ketika saya melihat anak-anak tidak bersekolah. Saya ingin mereka tetap bisa belajar. Wadah ini kami peruntukkan untuk anak-anak yang ingin belajar. Semoga dari sini bisa tumbuh cita-cita, mimpi, dan masa depannya,” ucap Yuni Shara kepada Rentfix.com, (Rabu, 23/04/2020). 

Berkat konsisten dan ketekunannya dalam mewujudkan sekolah non-profit bagi anak-anak Indonesia, membuatnya didaulat sebagai Perempuan PGRI Penggerak Perubahan dari para guru di seluruh penjuru Nusantara. “Kita semua harus menjadi penggerak perubahan untuk bersama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujar wanita lulusan Keuangan dan Perbankan Universitas Borobudur, Jakarta.

Baca Juga: Presenter Kondang Feni Rose, Bagikan Cara Kreatif Selama di #DiRumahAjA

Baginya bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya. “Kita harus terus mengingat, menghargai, dan belajar dari tokoh bangsa. Seperti mengenang salah satu pahlawan perempuan RA Kartini yang saat ini kita sedang peringati untuk membangun semangat generasi muda Indonesia yang lebih baik,” tambah kakak kandung penyanyi cantik Krisdayanti ini. 

Menurutnya, RA Kartini adalah salah satu pahlawan yang memiliki gagasan-gagasan hebat sehingga dapat mengubah hidup perempuan di sekitarnya. Perempuan mandiri ini juga telah banyak melahirkan sejumlah tulisan dan karya yang fenomenal diantaranya “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan “Upacara Perkawinan pada Suku Koja”.

Baca Juga: Putri Indonesia Offie Dwi Natalia Bagikan Cara Social Distancing

“Surat yang ditulis oleh Kartini banyak memberi inspirasi bagi para perempuan masa kini. Kita harus bisa menjadi perempuan dengan kualitas yang baik dengan mengembangkan kemampuan yang kita miliki, baik untuk kemajuan diri kita maupun keluarga. Apapun profesi seorang perempuan harus mampu memiliki semangat pengetahun agar mengubah pandangan secara luas bahwa perempuan bisa maju dan mandiri seperti halnya cakap dalam mengatur urusan rumah tangga,” terang penyanyi yang terkenal dengan tembang Jatuh Cinta Lagi.

Menariknya lagi, ia menceritakan di masa pandemi saat ini dirinya memiliki cara tersendiri untuk tetap produktif di rumah. Yaitu, membuat akun Youtube untuk memanfaatkan waktu dengan berbagi hal positif. Ia juga tetap menjalankan dan mengembangkan bisnis-bisnis online shop miliknya. “Bermanfaat bagi orang lain, terutama orang-orang di sekitarnya adalah hal yang paling penting,” pungkas perempuan yang lahir 3 Juni 1972 ini.

Mengenang Sosok RA Kartini dan Perjuangannya

Rentfix.com – Hari ini 141 tahun lalu, tepatnya 21 April 1879, Raden Ajeng Kartini lahir di Rembang, Jawa Tengah. Hari lahirnya, 21 April, diperingati sebagai Hari Kartini setiap tahunnya. Selamat ulang tahun, Ibu Kartini! RA Kartini dikenal sebagai pejuang emansipasi perempuan. Meskipun mengalami banyak rintangan saat memperjuangkan kesetaraan untuk perempuan, Kartini dapat membuktikan bahwa peran perempuan sangat besar. Mari mengenang sosok RA Kartini dan perjuangannya.

Sosok Kartini

Melansir Harian Kompas, 23 April 1977, Kartini berasal dari sebuah keluarga ningrat Jawa. Ayahnya merupakan seorang Bupati Jepara yang bernama Raden Mas Ario Adipati Sosroningrat. Sementara, ibunya adalah putri dari seorang guru agama di Teluwakur, Jepara, yang bernama M.A Ngasirah. Kakek Kartini adalah Pangeran Ario Tjondronegoro IV, yang menjadi bupati di usianya yang baru menginjak 25 tahun. Selain terpandang, Kartini juga berasal dari keluarga yang dikenal cerdas.

Kakak Kartini, Sosrokartono, dikenal sebagai orang yang ahli dalam bidang bahasa. Di zamannya saat itu, belum banyak perempuan yang dapat memperoleh pendidikan seperti saat ini. Hingga menginjak usia 12 tahun, Kartini memperoleh pendidikan di ELS (Europes Lagere School). Di ELS, murid-murid diwajibkan berbahasa Belanda pada kesehariannya. Kartini pun menyukai pelajaran bahasa Belanda tersebut. Akan tetapi, menurut tradisi Jawa, anak perempuan harus tinggal di rumah sejak usia 12 tahun hingga menikah. Oleh karena itu, ia pun dipingit dan harus tinggal di rumah.

Perjuangan Kartini

5e9d7519a92ab.png

Meskipun tak lagi bersekolah, Kartini tetap memiliki keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Ia terus belajar, membaca, dan menulis. Dalam masa itu, Kartini juga mengisi waktunya dengan mengajar membatik abdi-abdi perempuan dan gadis-gadis kecil hingga membuka sekolah kerajinan putri di kabupaten khusus untuk putri bangsawan kota itu.

Sekolah kerajinan ini juga dikelola bersama kedua saudaranya, RA Kardinah dan RA Rukmini, Pada periode tahun 1896 hingga 1903, Kartini menuliskan pemikirannya lewat tulisan yang dimuat oleh majalah perempuan di Belanda yang bernama De Hoandsche Lelie, De Nederlandasche Taal, De Gida, dan Soerabainsche Nieus Handelsblad. Selain itu, ia juga saling berkirim surat dengan teman-temannya yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Abendanon.

Menurut surat tertanggal 19 Oktober 1903 kepada Abendanon, Kartini menuliskan bahwa ia akan menikah. Acara pernikahan tersebut berlangsung pada 8 November 1903. Kartini menikah dengan seorang bangsawan Rembang bernama KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 1903. Meski telah menikah, Kartini tidak menghentikan perjuangannya untuk membela hak-hak perempuan.

Suaminya juga mengerti akan keinginan Kartini dan memberikan kebebasan padanya. Dari pernikahannya ini, RA Kartini memiliki anak pertama sekaligus anak terakhirnya yang bernama Soesalit Djojo Adhiningrat pada 13 September 1904. Namun, empat hari setelah melahirkan, tepatnya pada 17 September 1904, Kartini mengembuskan napas terakhir di usianya yang baru menginjak 25 tahun.

Surat-surat Kartini

0540140COLLECTIE-TROPENMUSEUM-Studioportret-van-Raden-Ajeng-Kartini-met-haar-ouders-zussen-en-broer-TMnr-10018778780x390.jpg

Melansir Harian Kompas, 1 Januari 2000, perjuangan Kartini banyak diketahui melalui surat-surat yang ditinggalkan olehnya. Setidaknya ada 106 surat Kartini kepada para sahabatnya. Sebagian surat Kartini dipilih dan diterbitkan pertama kali pada tahun 1911 dalam buku Door Duisternis tot Lict oleh pejabat Belanda, JH Abendanon yang mengenal Kartini dengan dekat dan keluarga Bupati Jepara. Buku tersebut pun dicetak ulang sebanyak empat kali hingga tahun 1923.

Cetakan kelima pada tahun 1976 merupakan edisi baru yang diperluas dengan tambahan surat Kartini yang tidak diterbitkan pada edisi I. Abendanon kemudian juga menulis artikel tentang Kartini Les Idees d’une Jeune Javanaise (Pikiran-pikiran Perempuan Muda Jawa) pada tahun 1913 dalam majalah Perancis L’Asie Francaise. Terjemahan surat-surat Kartini terbit dalam Bahasa Perancis tahun 1960.

Edisi Inggris pertama terbit di New York tahun 1920 berjudul Letters of a Javanese Princess terjemahan Agnes L Symmers, dengan kata pengantar oleh sastrawan Belanda, Louis Couperus, yang mengalami beberapa kali cetak ulang. Edisi berbahasa Melayu, terbit tahun 1922 dalam seri Volkslectuur (Bacaan Rakyat) di Jakarta. Edisi tersebut memuat pilihan tertentu dari surat-surat Kartini yang ada dalam edisi Belanda di bawah judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Terjemahan dilakukan oleh empat orang Indonesia dengan kata pengantar oleh Abendanon sendiri.

Hari Kartini

RA Kartini ditetapkan sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964. Penetapan ini dilakukan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Nomor 108 Tahun 1964. Selain itu, tanggal lahir RA Kartini pada 21 April juga diperingati sebagai Hari Kartini. Peringatan ini bertujuan untuk menghormati jasa-jasanya dalam memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia. Wahai ibu kita Kartini Putri yang mulia Sungguh besar cita-citanya Bagi Indonesia…

Kak Seto, Rumah Itu Ibarat Harta Karun, Keluarga Sumber Kekuatan dan Rasa Syukur

Rumah itu seperti harta karun. Keluarga adalah sumber kekuatan dan rasa syukur. Di rumahlah tersimpan ide, potensi, bakat, dan gagasan-gagasan

Rentfix.com – Suara khas dan penampilannya yang bersahaja membuatnya banyak disegani oleh kolega dan teman sejawat. Sosoknya yang hangat dan ramah membuat Pencipta tokoh Si Komo ini begitu dicintai dan disayangi oleh anak-anak di Indonesia. Tokoh yang satu ini tentu sangat akrab di telinga keluarga Indonesia. Ya, Seto Mulyadi, seorang Psikolog dan Pemerhati Anak yang telah menceritakan pengalaman serunya bersama keluarga dalam mengisi masa physical distancing di tengah situasi pandemi covid-19.

Pria yang akrab disapa Kak Seto ini membangun komunikasi yang sangat baik kepada keluarga, anak, dan cucu. Dialog hangat dibangun bersama keluarga tercinta untuk menjalin ikatan harmonis agar dapat memanfaatkan dan mengisi waktu physical distancing dengan mengembangkan kreativitas, bakat, dan potensi yang dimiliki oleh anak dan cucu sebagai sesuatu yang mengembirakan. “Kehadiran dan peran orang tua memberi warna bagi kehidupan anak-anak. Kita sebagai orang tua kembali jadi pemeran utama bagi pendidikan anak. Orang tua adalah guru bagi anak-anak. Kunci utamanya adalah orang tua,” ujar Kak Seto kepada Rentfix.com.

Penuhi dengan mengucap rasa syukur bahwa kita bisa bersama dengan anak-anak. Kita semua merasa disadarkan dengan situasi seperti ini agar terus bisa menyayangi dan mencintai anak dengan memperhatikan kesehatan dan perlindungan bagi mereka. Orang tua sebagai pondasi utama pendidikan karakter di rumah dengan menanamkan dan menumbuhkan etika, norma agama yang dibangun hangat penuh nuansa persahabatan dan keteladanan. Menumbuhkan unsur estetika untuk menciptakan keindahan di rumah, seperti merapikan dan menata rumah agar selalu terlihat bersih dan indah.

Menciptakan sebuah rumah yang indah itu seperti menghadirkan sebuah restoran keluarga di rumah, saling bangun kekompakan dan kebersamaan. Tanamkan nilai-nilai religius dan beribadah secara khusyuk harus tetap terus hidup di dalam rumah. “Rumah itu seperti harta karun. Keluarga adalah sumber kekuatan dan rasa syukur. Di rumahlah tersimpan ide, potensi, bakat, gagasan-gagasan. Kita ciptakan suasana penuh ide-ide kreatif dengan prinsip Gembira (Gerak badan teratur, Emosi cerdas, Makan yang bergizi, Beribadah dan Berdoa, Istirahat yang cukup, Ramah dan rukun, Aktif berkarya),” ujar Pria yang lahir di Klaten, 28 Agustus 1951 ini.

Suasana rasa gembira dan berpikir positif bisa diterapkan dengan mengembangkan kreativitas bersama keluarga seperti bernyanyi, menggambar, menulis, membaca, dan memasak serta memanfaatkan teknologi sebagai sarana edukasi dan hiburan. Orang tua harus mampu memberi kenyamanan dan ketenangan bagi anak agar anak dapat menumbuhkan rasa percaya diri untuk menyalurkan ide, bakat, dan kreativitas yang sebenarnya ada dalam diri mereka.

Penuhi rasa syukur dengan terus jalani persahabatan dan persaudaraan bagi seluruh umat manusia serta tingkatkan kepedulian sosial maka akan selalu tumbuh rasa syukur. Kenikmatan rasa syukur itu pula, yang kini ia dapatkan di 50 tahun pengabdiannya sebagai suatu keberhasilan yang didedikasikan bagi seluruh anak-anak Indonesia. Sesuai amanat yang telah dititipkan oleh seorang tokoh seniman dan pendidik anak legendaris Pak Kasur, yang sudah sangat berjasa mendidik anak-anak Indonesia lewat lagu.

Ia berharap hak-hak anak dapat terus terpenuhi dengan perlindungan anak dari segala tindak kekerasan, penelantaran, perlakuan salah, diskriminasi dan eksploitasi. Sayangi dan cintailah anak-anak kita. Sesungguhnya dalam diri mereka ada sebuah bakat dan minat yang perlu dikembangkan dengan penuh rasa percaya diri. Seperti contoh tokoh sukses Indonesia Rudy Habibie, Rudy Hartono, Rudy Salam, dan Rudy Kelana yang sukses pada bidangnya masih-masing. Mereka itu bisa memberi inspirasi bagi anak-anak kita dan yakin bahwa semua anak-anak Indonesia memiliki potensi meraih keberhasilan dan kesuksesan.

Presenter Kondang Feni Rose, Bagikan Cara Kreatif Selama di #DiRumahAjA

Rentfix.com – Presenter kondang tanah air Feni Rose membagikan cara kreatif dalam mengisi waktu #DiRumahAja dalam situasi pandemi covid-19 yang terjadi saat ini. Wanita asal Malang yang memiliki nama lengkap Feni Rosewidyadhari ini memiliki cara unik dalam mengisi masa physical distancing.

Ia mengaku memiliki ritual khusus setiap pulang syuting maupun berbelanja untuk kerap melakukan penyemprotan cairan disinfektan pada semua barang yang dibawa dan telah digunakan saat ia tiba di rumah.

“Sekarang saya masih ada jadwal syuting walaupun tidak full, seminggu hanya 3 hari. “Semalam apapun saya pulang syuting ketika tiba di rumah tentu tetap menjaga kebersihan diri sebelum ngobrol, memeluk anak, sampai mau tidur semua harus dalam kondisi bersih. Perihal menjaga kebersihan diri bagi saya adalah nomor satu,” ujar Feni Rose kepada Rentfix.com.

Sehabis syuting ia rutin membersihkan barang mulai gagang pintu, sepatu, tas, ponsel, dan segera membersihkan diri dengan mencuci tangan, mandi, keramas dan ganti baju. Semua itu merupakan hal penting yang harus diterapkan untuk mencegah datangnya virus.

Keesokan harinya tiap pagi ia penuhi gizi sarapan dengan mengonsumsi jus buah dan jamu. Siang hingga sore hari, ia menambahkannya dengan minum kunyit asam. Sebelum tidur, ia pun meminum jahe hangat yang dicampur jeruk nipis dan madu serta ditambah istirahat yang cukup.

Demi tetap menjaga kesehatan tubuh, ia rajin berolahraga melalui trainer online atau memutar video senam sambil mempraktikkannya di depan cermin. Tak lupa ia bersama keluarga membiasakan diri berjemur tiap pukul 10.00 pagi. Setelah itu, ia memanfaatkan momen makan bersama dan menonton. Baginya hal itu sangat menyenangkan karena lebih banyak waktu untuk saling berinteraksi bersama keluarga di rumah.

Justru ia tak pernah merasa bosan ketika berada di rumah karena pada dasarnya ia sangat senang bisa bertemu keluarga. Kalau rasa ingin ngobrol sama teman pun ia masih bisa melakukannya di lokasi syuting, namun tidak bisa ngobrol lama karena harus saling menjaga kesehatan antar teman se-profesi. “Di samping itu, kita juga dapat menggunakan aplikasi smartphone untuk tetap berinteraksi secara online dengan keluarga, saudara, sahabat melalui panggilan suara atau video dan rekaman suara untuk saling melepas rindu.

Menariknya lagi, ia bercerita menjalin komunikasi melalui grup chat antar anggota cheerleaders semasa duduk di bangku SMA. “Kita mengikuti koreografi dari rumah masing-masing selama beberapa detik dan kita kompilasikan, kemudian kita unggah di sosial media. Hal itu juga jadi salah satu cara untuk menumbuhkan sikap positif dan sikap gembira. Di tambah dengan membekali diri dengan menyimak infromasi perkembangan covid agar bisa lebih preventif dalam menyikapi berbagai persoalan,” terang wanita lulusan FISIP Antropologi Universitas Indonesia ini.

Selain itu, untuk meningkatkan mood, ia menggunakan essential oil agar dapat menumbuhkan mood positif. Juga dengan bersyukur dan berdoa. Di samping itu, ia menambahkan, kita juga bisa berdonasi membantu saudara yang membutuhkan di kala situasi pandemi. Kita harus mampu melakukan upaya-upaya yang terbaik dan bermanfaat bagi sesama. “Semoga kita bisa mendisiplinkan diri dengan tetap #DirumahAja. Semoga pandemi ini segera usai dan semua keadaan kembali pulih dan membaik,” pungkasnya.

Putri Indonesia Offie Dwi Natalia Bagikan Cara Social Distancing

Rentfix.com – Situasi pandemi corona atau covid-19 saat ini mengharuskan masyarakat untuk menjaga jarak atau social distancing agar tetap berada di rumah guna mencegah penyebaran virus. Hal itu juga yang tengah dilakukan oleh Offie Dwi Natalia Putri Indonesia Jambi 2019 ini dalam menerapkan social distancing selama karantina mandiri di rumah. Wanita yang akrab disapa Offie ini menjalani karantina dengan melakukan kegiatan seperti membantu orangtua berkebun, menanam hidroponik, membersihkan rumah, dan menjalin komunikasi untuk tetap menjaga hubungan harmonis dengan orangtua dan keluarga.

Dara cantik kelahiran Jambi 25 Desember 1993 yang pernah meraih prestasi sebagai Putri Pariwisata Jambi 2011, Putri Olahraga Indonesia 2011, Duta Ayam dan Telur 2018 ini telah menempuh Program Magister Psikologi Pendidikan di Universitas Tarumanagara, Jakarta. Ia memaknai bahwa selama social distancing dalam situasi covid, ia bisa memanfaatkan momen bertemu dengan keluarga tercinta sehingga memiliki waktu yang lebih lama di rumah. Saat ini, ia berada di kampung halaman dalam urusan pekerjaan tepat sebelum isu covid itu terjadi. Sementara ia fokus untuk tetap berada di kota yang terkenal dengan semboyan Tanah Pilih Pesako Betuah itu.

Offie mengisahkan saat ia tiba di Jambi beberapa pekan lalu, ia menerapkan cara membatasi diri dengan melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Bahkan sebelum isu covid itu merebak, ia dan keluarganya pun telah menerapkan social distancing. “Saat social distancing kunci terpenting adalah membangun komunikasi baik dengan keluarga, kolega, rekan kerja, sahabat, dan teman. Selagi kita bisa mengkomunikasikan itu secara baik, orang lain pun bisa memahami, mengerti, dan menerima bahwa kita menjaga jarak dengan maksud yang baik,” ujar Offie kepada Rentfix.com.

Ia mengatakan selama social distancing rutinitas yang dilakukan tak berbeda jauh dengan aktivitas biasanya. “Masih dengan kuliah dan mengajar namun semuanya itu dilakukan secara daring. Untuk pekerjaan sendiri sementara postpone, namun tetap melakukan kegiatan produktif untuk mendukung setiap pekerjaan,” tambah Offie. Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa kita mesti dapat memanfaatkan momen social distancing ini agar menjadi sesuatu yang lebih produktif dalam setiap bidang pekerjaan yang ada dengan tetap mempersiapkan, melakukan, dan mengerjakannya secara profesional.

Menariknya lagi, ia juga membagikan tips untuk mengatasi rasa bosan selama social distancing yaitu dengan mencari dan mengisi kegiatan yang bermanfaat, misalnya dengan membantu orang tua, berolahraga, berjemur, menonton bioskop di rumah, dan memanfaatkan internet yang sebagai sesuatu yang mendukung pekerjaan.

“Dan yang tak kalah penting tetap menjaga kesehatan dengan tetap mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi dan menjaga kebersihan diri seperti rajin mencuci tangan serta memakai masker agar dapat mengantisipasi dan melindungi diri. Semoga pandemi covid ini segera usai dan jangan ada lagi korban dan rekan medis agar diberikan kesehatan dan perlindungan kapanpun dan dimananpun agar tetap semangat dan tegar untuk melindungi bangsa Indonesia,” pungkasnya.