Ini Dia Cara Hemat Bikin Kantor di Rumah

Rentfix.com – Dengan semakin banyaknya orang yang bekerja dari rumah di tengah pandemi Covid-19 ini, kantor rumah atau home office telah menjadi ruang penting.

Namun membuat ruang kerja profesional dilengkapi dengan fasilitas seperti di kantor membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Karenanya, untuk menghemat anggaran membuat kantor di rumah, Anda harus terlebih dahulu merencanakan secara matang konsepnya.

Berikut caranya:

1. Tentukan ruang kantor kerja Anda

Untuk efisiensi terbesar dalam pekerjaan, temukan ruang yang dapat didedikasikan untuk area kantor rumah. Anda dapat memanfaatkan ruang apa pun untuk kantor rumah misalnya di bawah tangga, kamar cadangan, atau sudut ruang tamu yang tidak terpakai.

2. Buat denah lantai

Mulailah mengukur luas ruang kantor yang Anda butuhkan. Jika Anda memiliki ruang terbatas, alokasikan ruang yang kecil dengan perlengkapan atau perabotan yang juga minimalis.

Misalnya, membeli meja, bangku, karpet dengan ukuran yang kecil. Dengan cara seperti itu Anda dapat membuat ruang kantor terbaik sesuai dengan kebutuhan dan luas ruang.

3. Tentukan apa yang dapat Anda lakukan sendiri

Sebelum memulai membuat ruang kerja kantor, cari tahu bagian pekerjaan apa yang dapat Anda kelola sendiri.

Misalnya, mengundang pelukis profesional untuk mengecat kantor rumah adalah kemewahan, tetapi ruang dengan ukuran kecil tentu saja dapat Anda lakukan sendiri. Dan cara itu akan menghemat banyak biaya yang mesti Anda keluarkan.

4. Gunakan apa yang Anda miliki

Perabotan yang Anda miliki saat ini boleh jadi sangat berfungsi untuk digunakan di kantor rumah, misalnya bangku, meja, lukisan, karpet, dan yang lainnya. Karenanya Anda tidak perlu lagi membeli banyak barang untuk kebutuhan kantor rumah, sehingga Anda bisa menghemat dengan cara seperti ini.

5. Buat perabot kantor sendiri

Anda dapat memilih opsi untuk membuat meja kantor di rumah sendiri. Caranya cukup sederhana, tempatkan dua lemari arsip di ruang kantor dan letakkan papan di atasnya.

Lalu ampelas tepinya, dan warnai dengan warna favorit Anda. Meja yang Anda buat dapat memangkas anggaran.

Tak hanya meja, Anda juga dapat membuat rak dengan menggunakan bahan-bahan yang ada di rumah atau dengan bahan yang harganya terjangkau.

Kemudian Anda juga dapat menggunakan pot bunga hias untuk menyimpan pensil dan gunting.

Belilah beberapa rak sepatu bertingkat untuk diletakkan di atas meja sebagai rak penyimpan printer, beberapa kertas, atau buku.

6. Belanja furnitur bekas

Anda dapat melihat barang-barang di toko-toko atau pasar yang menjual furnitur bekas atau seken.

Selain itu, Anda dapat mencari perabotan bekas di media sosial atau market place. Anda akan menemukan barang-baragg seken dari penggunanya langsung.

7. Beli dekorasi baru dengan harga murah

Toko diskon, pusat rumah, gerai furnitur, ruang pamer pencahayaan, dan pusat dekorasi rumah menawarkan berbagai macam barang luar biasa dengan harga diskon besar.

Anda mungkin terkejut menemukan meja yang indah kondisinya baru namun dengan harga terjangkau.

8. Tukar dengan teman

Pertimbangkan untuk menukar perabot dengan teman. Jika Anda memiliki meja makan yang tidak muat di rumah, dapat menukarnya dengan meja yang Anda butuhkan.

Atau apakah Anda memiliki furnitur anak-anak yang dapat digunakan oleh tetangga untuk ditukar dengan rak buku? Pertimbangkan juga untuk menukar layanan dengan furnitur.

Tawarkan keterampilan dekorasi Anda dengan imbalan kursi. Atau buatlah tirai untuk tetangga yang bisa membuatkan meja untuk Anda. Setiap orang memiliki sesuatu yang berharga yang dapat mereka tawarka satu sama lain. Dilansir dari Kompas.com.

Bangkit dari Pandemi, Tiga Negara Ini Bakal Memimpin Perkantoran Asia

Rentfix.com – Colliers International mengungkapkan, terdapat tiga negara  yang bakal memimpin pemulihan gedung perkantoran di Asia. Ketiga negara tersebut yakni, China, India, dan Singapura. Executive Director Research Asia Colliers Andrew Haskins mengatakan hal itu dalam laporannya seperti dilansir dari Kompas.com, Jumat (28/8/2020).

Menurut Haskins, permintaan gedung perkantoran di China dan India telah mengalami peningkatan. Khusus untuk Kota Bangalore di India kinerjanya harus dipertahankan. Sebab, Bangalore merupakan kota dengan prospek pertumbuhan jangka panjang tertinggi dan pusat teknologi utama se-Asia Pasifik.

Untuk Singapura, kata Haskins, pemulihan jangka menengah penyerapan gedung perkantoran mulai menunjukkan titik terang. “Kami optimistis dengan pemulihan jangka menengah dalam penyerapan di Singapura yang semakin muncul sebagai lokasi penyewa paling populer di Asia,” kata Haskins.

Dia memaparkan, terdapat empat kendala penting yang menghambat masa depan gedung perkantoran. Keempatnya adalah aspek fundamental perkantoran, ruang kantor baru, evolusi ruang kerja fleksibel, serta sentimen investor pada masa yang tak pasti ini.

Menurut Managing Director Occupier Services Asia Colliers Sam-Harvey Jones, kantor akan mempertahankan peran kunci dalam strategi real estat. “Kami mengharapkan beberapa perusahaan akan beralih ke strategi real estat yang lebih beragam dan berdasarkan pilihan karyawan,” tuturnya.

Jakarta

Bagaimana dengan Indonesia? Jakarta masih tetap menjadi barometer pasar perkantoran di negeri kepulauan ini. Selama pandemi, permintaan turun drastis, di sisi lain pasokan berlebih.

Sebagaimana dikatakan Head of Office Services for Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo. Dia berpendapat, pasar perkantoran di Jakarta terus mengalami kelebihan pasokan.

Menurut Bagus, hal ini bagus untuk mengamankan transaksi sewa guna usaha (leasing) yang baik di pasar. Namun di sisi lain, pemilik gedung harus memfokuskan diri pada peningkatan hunian bangunan untuk meminimalisasi dana tambahan yang dibutuhan untuk menutupi biaya operasional.

Pada saat yang sama, memberikan fleksibilitas sewa, dan insentif lainnya, diperlukan untuk meningkatkan tingkat hunian sebagai kantor masa depan. “Hal ini karena permintaan akan semakin berkurang dengan banyak perusahaan secara serius mempertimbangkan untuk bekerja dari rumah,” kata Bagus.

Apa Perbedaan Berkomunikasi Virtual di Negara Maju dan Negara Berkembang?

Rentfix.com – Hampir seluruh negara di dunia saat ini sedang berhadapan dengan krisis pandemi Covid-19. Akibatnya, banyak orang tidak bisa bepergian seperti biasa dan harus lebih banyak berada di rumah agar tetap aman.

Imbauan untuk tetap berada di dalam rumah itu pun membuat banyak orang harus melakukan sebagian aktivitas secara virtual.

Untungnya, di zaman digital banyak teknologi pendukung untuk menyokong aktivitas tersebut. Ingin belajar tanpa harus pergi ke sekolah? Tenang, karena kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan secara online dengan bantuan platform pendidikan.

Lalu, bagaimana dengan para pekerja yang harus datang ke kantor? Jangan risau, karena saat ini beberapa pekerjaan bisa dilakukan secara remote tanpa kehadiran diri di kantor.

“Hal yang terpenting adalah komunikasi. Ini menjadi kunci agar aktivitas yang kita lakukan di era new normal sepenuhnya berjalan lancar,” jelas Pemimpin Redaksi Kompas TV Rosianna Silalahi, Jumat (12/6/2020).

Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan pelatihan soft skills online dalam Leadership Development Series untuk Beswan Djarum (sebutan bagi para penerima program Djarum Beasiswa Plus dari Djarum Foundation) angkatan 2019/2020.

Dalam kelas tersebut, Rosi membawakan tema “Berkomunikasi di New Normal: Building Trust in Virtual Communication”. Ia memaparkan tentang perbedaan tantangan berkomunikasi virtual di negara maju dan negara berkembang.

Berkomunikasi virtual di negara maju

Pada kesempatan itu, perempuan yang akrab disapa Rosi ini memaparkan sebuah data riset yang dilakukan Buffer, perusahaan penyedia layanan internet asal Amerika. Riset tersebut mendapati fakta unik terkait fenomena work from home ( WFH) selama era new normal.

“Tercatat sekitar 98 persen koresponden bersedia untuk bekerja remote dalam beberapa waktu untuk sepanjang kariernya. Ini menandakan bahwa banyak orang yang suka bekerja dari rumah,” ujar Rosi. Dari 98 persen tersebut, 32 persen koresponden mengaku saat bekerja di rumah mereka memiliki waktu yang lebih fleksibel.

Kemudian, 26 persen di antaranya senang bekerja remote karena dapat bekerja di lokasi mana saja. Ya, asal ada internet dan laptop bekerja di mana saja tidak menjadi masalah.

Selanjutnya, 21 persen sisanya beranggapan bahwa bekerja remote tidak mengharuskan mereka bepergian (commute) sehingga lebih hemat waktu dan hemat energi.

Namun, lanjut Rosi, koresponden riset tersebut sebagian besar berasal dari negara maju yang memiliki infrastruktur internet lebih canggih. Jadi, kendala eksternal seperti gangguan internet mungkin akan jarang terjadi.

Berkomunikasi virtual di negara berkembang

Menurut Rosi, hasil riset Buffer tersebut tentu akan berbeda jika dilakukan di negara berkembang, seperti Indonesia. Pasalnya, koneksi internet di Indonesia yang masih tidak terlalu mumpuni kerap menjadi tantangan bagi orang Indonesia saat berkomunikasi virtual.

Melansir penelitian terakhir yang dilakukan WebsiteToolTester (11/2019), Indonesia bahkan berada di posisi ke-92 dari total 207 negara dengan kecepatan rata-rata hanya 6,65 Mbps.

Berbeda dengan negara maju di Asia lainnya seperti Taiwan di posisi pertama (85,02 Mbps), Singapura di posisi ke-2 (70,86 Mbps), dan Jepang di posisi ke-6 dunia (42,77 Mbps).

Kendala ini pun merembet ke kualitas komunikasi virtual yang tidak terlalu apik. Mulai dari masalah buffer saat menonton video pembelajaran, interaksi yang terlambat (delay), audio feedback, hingga lag yang menyebabkan komunikasi tidak berjalan maksimal saat melakukan conference call.

“Mau tidak mau, untuk mengatasi masalah ini Anda harus menggunakan provider internet yang mumpuni,” jelas Rosi. Selain jaringan internet, situasi tempat tinggal juga dapat menjadi gangguan komunikasi virtual di Indonesia.

Alasannya, lanjut Rosi, masyarakat Indonesia masih banyak yang tinggal dengan keluarga besar dan sulit mencari ketenangan saat sedang berkomunikasi virtual Oleh karena itu, sebelum memulai meeting virtual Anda harus mengomunikasikannya kepada orang rumah agar mereka bisa memahami tugas yang hendak Anda lakukan.

“Pilih pula lokasi yang agak hening, bisa di pojok ruangan atau kamar pribadi. Namun, sebelum memulai meeting virtual singkirkan terlebih dahulu barang-barang yang sifatnya privasi agar Anda tetap tampak profesional,” ujar Rosi.

Tak hanya itu, Rosi mengatakan, dalam komunikasi virtual, blocking adalah sesuatu yang juga harus diperhatikan. Ini akan membuat tubuh pembicara terlihat jelas. Caranya, sesuaikan jarak kamera dengan diri Anda seukuran medium close up.

“Berikan jarak kosong di atas kepala (headroom) Anda. Lalu, berikan pula jarak di sebelah kiri dan kanan tubuh agar Anda bisa menggerakkan tangan saat berbicara,” jelas perempuan yang juga pernah mengisi kelas untuk pelatihan Beswan Djarum angkatan sebelumnya. Namun, tambahnya, jangan terlalu banyak bergerak agar tidak mengganggu visual lawan bicara.

Sebab, transmisi jaringan internet memerlukan beberapa waktu agar terkirim sepenuhnya. Dengan demikian, tantangan untuk berkomunikasi virtual tidak akan menjadi hambatan yang berarti. Hal terpenting adalah fokus dalam menemukan solusi dan Anda akan tetap bisa melakukan komunikasi digital dengan lancar seperti dilansir dari Kompas.com.

6 Juli, Google Buka Aktivitas Perkantoran

Rentfix.com – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Google, berencana membuka kembali sejumlah perkantoran di beberapa kota milik perusahaan pada 6 Juli mendatang. Hal tersebut disampaikan CEO Google Sundar Pichai seperti dikutip dari CNN Business, Rabu (27/5/2020).

Namun, belum diketahui secara pasti perkantoran mana saja yang akan dibuka kembali oleh Google di Amerika Serikat. Pichai memastikan, pembukaan tersebut dilakukan secara bertahap dengan membatasi kapasitas karyawan yang masuk kerja. Pada bulan Juli nanti, hanya 10 persen karyawan yang diizinkan untuk memasuki gedung perkantoran Google.

Selanjutnya, pada September, perusahaan akan meningkatkan kapasitas karyawan yang diizinkan bekerja di kantor menjadi 30 persen. “Kami akan menerapkan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang ketat untuk memastikan pedoman sosialisasi dan jaga jarak sosial diikuti,” kata Pichai.

Sebelumnya, Google mengatakan karyawan boleh bekerja dari rumah hingga akhir tahun 2020 mendatang jika mereka menginginkannya. Perusahaan akan memberikan tunjangan sebesar Rp 14,7 juta untuk para karyawan yang membutuhkan peralatan dan perabotan demi menunjang pekerjaan mereka. 

Kebijakan baru Google ini berbeda dengan Facebook dan Twitter yang menerapkan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) secara permanen untuk setiap karyawannya. Tujuannya untuk menekan penyebaran virus Corona serta meningkatkan produktifitas para karyawan.

Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg menyatakan, sebanyak 50 persen pegawai Facebook dapat bekerja dari rumah dalam lima hingga 10 tahun ke depan.

Twitter juga memberlakukan kebijakan serupa dengan mengizinkan sejumlah pegawainya kerja dari rumah “selamanya” apabila mereka memilih demikian. Meski begitu, pihak Twitter tidak menjelaskan secara rinci posisi pekerjaan seperti apa yang diperbolehkan dilakukan dari rumah seperti dilansir dari Kompas.com.

“New Normal”, Keseimbangan, dan Sinyal Kebangkitan Properti

Rentfix.com – Tak dimungkiri Pandemi Covid-19 telah memengaruhi sektor properti secara luas. Perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen, perumahan, perhotelan, dan kawasan industri mengalami kontraksi, setelah perlambatan dalam tiga tahun terakhir. Fakta global menunjukkan, perkantoran adalah sub-sektor properti yang terdampak paling parah selain perhotelan.

Kinerja tingkat hunian dan permintaan terus menurun drastis. Sebut saja Singapura yang hanya tumbuh 3,6 persen pada 2019, setelah merosot cukup dalam 22,2 persen pada tahun sebelumnya. Krisis Covid-19 menjadikan perkantoran Singapura makin terpuruk.

Sementara Kuala Lumpur, meski terjadi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, masih sedikit lebih baik dengan tingkat hunian relatif stabil. Namun, kondisi memburuk setelah dihantam krisis ini.

Bagaimana dengan Jakarta? Jika Pandemi Covid-19 tak kunjung teratasi, stagnasi bakal terus terjadi. Bukan tanpa alasan, ada sejumlah variabel yang menunjukkan stagnasi ini. Selain faktor eksternal turunnya ekonomi dunia, faktor internal juga berdampak signifikan, yakni keterlambatan transaksi yang diprediksi akan mengarah pada koreksi pertumbuhan.

Termasuk potensi hilangnya sektor ekonomi yang tidak beroperasi di Jakarta, dengan perhitungan sekitar Rp 100 triliun hingga Rp 150 triliun. Alhasil, tingkat kekosongan terus meluas hingga mencapai 23,8 persen atau 1,6 juta meter persegi menurut studi Knight Frank, dan sekitar 25 persen atau 1,65 juta meter persegi menurut riset Savills Indonesia. Sebagian besar pasokan ruang-ruang perkantoran tersebut merupakan Grade B dan Grade C sebagai tandem menurunnya sewa ruang Grade A.

Director Business Development Knight Frank Indonesia Martin Wijaya menuturkan, secara indikatif, kondisi jalan di tempat akan terus berlanjut, dan mungkin cenderung terus merosot. “Hal ini terkait dengan kemampuan finansial perusahaan penyewa atau tenant sejauh mana mereka dapat bertahan, serta seberapa jauh pemilik gedung dapat mengakomodasi kebutuhan dan kesulitan para penyewa,” ujar Martin seperti dilansir dari Kompas.com, Jumat (15/5/2020).

New Normal di Kantor, Apa yang Harus Dilakukan Manajemen?

Relokasi merupakan jalan terakhir yang bisa ditempuh para penyewa, meski hal ini juga tidak direkomendasikan untuk dilakukan pada saat Pandemi Covid-19. Para penyewa akan berpikir ketimbang harus membayar ongkos operasional sementara pemasukan berkurang, karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Oleh karena itu, Knight Frak merekomendasikan sejumlah langkah strategis yang dapat dijalankan oleh kedua pihak baik pengelola dan pemilik gedung maupun perusahaan penyewa. Ada tiga tahapan, yakni Periode I saat Pandemi Covid-19, Periode II penerapan social and physycal distancing atau protokol baru yang mengakomodasi kebiasaan baru (new normal), dan Periode III adalah restrukturisasi bisnis.

Rekomendasi ini, menurut Associate Director Research Knight Frank Indonesia Donan Aditria, terangkum setelah studi yang dilakukan selama dua bulan terakhir sejak Pandemi Covid-19 mulai memasuki Indonesia.

“Dari studi ini, kami melihat tren relokasi memang belum ada. Mereka memilih untuk menunda atau wait and see, hingga kondisi normal kembali baru memutuskan langkah strategis ke depan,” kata Donan.  Kompromi, imbuh dia, bisa menjadi langkah paling realistis yang dapat ditempuh baik oleh perusahaan penyewa maupun pemilik atau pengelola gedung perkantoran.

Caranya, dengan melakukan negosiasi ulang dengan pemilik dan pengelola gedung jika mengalami kesulitan keuangan untuk term jangka waktu pembayaran. Atau bisa juga dengan meminta diskon pembayaran.

Renegosiasi

Associate Director Property & Engineering Services Knight Frank Indonesia Lioni Sugiarto menambahkan, bagi penyewa lama, melakukan kalibrasi ulang sistem kerja dan tenaga kerja dapat dilakukan demi menyelamatkan investasi. “Sistem kerja dan tenaga kerja merupakan investasi terbesar perusahaan,” ucap Lioni.

Jika perlu, perusahaan dapat mengubah ukuran, melakukan renegosiasi kontrak sewa, menerapkan fleksibilitas sistem kerja dan tentu saja secara profesional mengimplementasikan sanksi dan implikasi terhadap karyawan. Sementara untuk penyewa baru, perencanaan strategis tempat kerja adalah hal utama. Hal ini menyangkut operational head cost.

Hal ini karena kebiasaan baru atau new normal  di sektor perkantoran akan terjadi secara masif. Para pengelola atau manajemen gedung perkantoran, perusahaan penyewa, dan karyawannya harus terbiasa hidup dalam kebiasaan baru.

Untuk pengelola dan pemilik gedung, harus memperhatikan faktor Teknologi informasi (TI) yang diterjemahkan ke dalam kemudahan mendapatkan dan mengelola informasi adalah kebutuhan utama dalam menghadapi new normal ini.

Terlebih lagi, sebelumnya masyarakat sudah akrab dengan pola kerja dari rumah atau work from home, yang membutuhkan internet of things (IoT) dengan kecepatan tinggi dan segala kemudahan lainnya.

Selain itu, pengelola gedung perlu membuat perencanaan strategis di tempat kerja, termasuk memutuskan jumlah dan karyawan divisi mana yang harus mendatangi kantor hanya untuk keperluan penting. “Di sini, kantor digunakan hanya sebagai ‘pilihan’ untuk memenuhi keperluan yang sangat penting.

Maka dari itu, perlu peran TI untuk mendukung kerja jarak jauh,” kata Lioni. Satu hal menarik adalah resizing ruang perkantoran. Resizing di sini bukan berarti memperkecil ruang perkantoran yang disewa, melainkan mengubah fungsi, tata letak, dan keutamaan (vitalitas), dengan penekanan pada efisiensi dan efektivitas.

Pada akhirnya, lanjut Lioni, pengelola dan pemilik gedung harus berorientasi pada kepentingan penyewa. Mereka harus memahami penyewa melalui pendekatan dan diskusi. Bahwa sejatinya ada peluang dan tantangan yang sama besar untuk menemukan penyewa pengganti.

“Itu tidak mudah. Untuk gedung Grade Premium dan Grade A mungkin akan bisa mengatasi, karena sebagian besar penyewanya merupakan multi national company (MNC), sebaliknya bagi Grade B dan C, mungkin menghadapi kesulitan yang amat rumit,” ungkap dia.

Keseimbangan Baru

Kondisi new normal saat enam bulan berikutnya yakni Semester II hingga beberapa tahun ke depan akan melahirkan kebutuhan smart and green building. Selain itu, Senior Advisor Research Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengungkapkan, bangunan kantor yang hijau dan cerdas ini akan menjadi bagian dari protokol baru yang terkait dengan kesehatan, kebersihan, dan pelestarian lingkungan.

Smart and green building akan menjadi new normal  itu sendiri,” imbuh Syarifah. Safety protocol yang digencarkan pada Semester I atau periode perdana Pandemi Covid-19, akan terus diterapkan pada periode selanjutnya. 

Pelonggaran PSBB di Jakarta setelah 22 Mei, menurut Syarifah, menjadikan kebiasaan baru sebagai pilihan wajib untuk beradaptasi di area perkantoran. Selama periode transformasi ini, penggunaan masker, pemeriksaan suhu tubuh, kebijakan meja bersih, jarak fisik, pemeriksaan kesehatan rutin, menghindari keramaian di ruang publik termasuk pantry, dan ruang rapat harus dilakukan.

Jika seluruh stake holders di bisnis perkantoran menjalankan langkah-langkah tersebut, bukan tidak mungkin perbaikan akan terjadi pada pertengahan Semester II-2020. Apalagi jika pemilik atau pengelola gedung dan perusahaan penyewa sama-sama memahami kondisi untuk membuat kesepakatan baru, maka akan tercapai keseimbangan atau balancing.

Keseimbangan ini tidak hanya terjadi antara kedua pihak, melainkan memengaruhi ekosistem bisnis perkantoran secara komprehensif. Pertumbuhan harga pun akan kembali normal, dan tidak tertekan lagi meskipun pada periode selanjutnya terdapat 1 juta meter persegi ruang perkantoran baru.

Keseimbangan akan terjadi secara natural, kembali pada prinsip permintaan, penawaran, dan pertumbuhan harga yang wajar dan diterima pasar. “Dan jika keseimbangan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kebangkitan perkantoran dan sektor properti secara luas akan terjadi lebih cepat,” tuntas Martin.

Pengamat Ungkap Nilai Investasi Properti Meningkat

Rentfix.com – Laporan realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negri (PMDN) dari Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) selama Kuartal Pertama 2020 telah resmi dirilis. Berdasarkan laporan tersebut, realisasi investasi di sektor properti dan hospitalitas mengantongi nilai investasi yang cukup tinggi yakni Rp 100 triliun dan Rp 58 triliun.

Tampaknya sektor properti akan mendapatkan angin segar di tengah Pandemi Covid-19. Associate Director Coldwell Banker Commercial Dani Indra Bhatara mengatakan bahwa ini merupakan angka yang memberikan sentimen positif untuk pengembangan properti secara umum pada tahun 2020.

“Sebenarnya untuk Kuartal-1 sekitar dua bulan awal, bisnis cenderung masih cukup normal, dan baru bulan Maret pengaruh Covid-19 ini sangat terasa,” tutur seperti dilansir dari Kompas.com Sabtu (9/5/2020). Dani melanjutkan, apabila dilihat nilai investasi dari angka PMA, hal itu menjadi pertanda baik  bahkan untuk sektor hotel dan restoran yang mengalami kenaikan investasi yang signifikan.

“Jika dilihat dari hasil kajian kami untuk sektor properti komersial pada Kuartal I-2020, hotel menjadi sektor yang sangat terpengaruh dan mengalami penurunan yang cukup signifikan, dan sudah terjadi,” lanjutnya. Demikian juga di sektor apartemen dan perumahan yang mengalami penurunan dari sisi penjualan khususnya terjadi mulai pada minggu kedua bulan Maret.

Sementara untuk ritel dan perkantoran, masih cenderung stagnan karena secara operasionalnya menurun drastis. Namun dari sisi okupansi cenderung masih belum banyak perubahan. “Dari sisi perbaikan, hotel cenderung akan menjadi sektor paling awal yang akan bergerak positif, kemudian diikuti perumahan, dan perlahan ke apartemen,” prediksi Dani.

Sedangkan perkantoran dan kawasan industri akan menjadi sektor yang justru akan lebih lama pulih. Dani juga menyebutkan bahwa para pengembang perlu berhati-hati terhadap catatan realisasi angka investasi PMA pada kuartal pertama ini.

Pasalnya pengaruh pademi baru terasa pada bulan Maret, dan berlanjut hingga saat ini karena belum diketahui kapan Covid-19 teratasi. “Memang awal 2020 PMA sektor properti memberikan sentimen positif, namun dengan perubahan situasi yang signifikan saat ini diperkirakan tidak berlanjut secara positif pada Kuartal II,” ucap Dani.

6 Panduan Pembukaan Kembali Ruang Kerja di Perkantoran

Rentfix.com – Konsultan properti Cushman & Wakefield merilis panduan komprehensif bertema “Kesiapan Pemulihan: Panduan Pembukaan Kembali Lingkungan Kerja”. Cushman & Wakefield membidik para pemilik maupun penyewa properti dalam rangka pembukaan kembali lingkungan kerja dan perkantoran dalam beberapa bulan ke depan.

Panduan ini dirilis untuk melengkapi Recovery Readiness Task Force (RRTF atau Satuan Tugas Kesiapan Pemulihan) dan produk social distancing (pembatasan sosial) terbaru bernama Six Feet Office.

Para ahli dan peneliti lingkungan kerja di Cushman & Wakefield dan Vanke Service  mengembangkan panduan ini dengan solusi yang tanggap dan mudah disesuaikan dengan implementasi hemat biaya. Dalam menciptakan panduan ini, Cushman & Wakefield menyaring pemahaman dan praktik terbaik dari proses pembukaan kembali 10.000 perusahaan di China.

Di negara Tirai Bambu ini, hampir satu juta orang bakal bekerja kembali di gedung-gedung perkantoran dengan total luas 74 juta meter persegi. ‘The Safe Six’ atau enam langkah keamanan esensial kesiapan lingkungan kerja menjadi garis besar yang bisa diimplementasikan pemilik perkantoran, terdiri dari:

1. Persiapan bangunan, berupa rencana pembersihan, inspeksi sebelum pembukaan kembali, dan pengecekan jaringan mekanik dan HVAC,

2. Persiapan tenaga kerja, berupa kebijakan yang mengatur pegawai kembali bekerja, menggilir atau menjadwalkan komunikasi antar pegawai dan manajemen,

3. Pengendalian akses, berupa penerapan protokol untuk keamanan dan pengecekan kesehatan, akses masuk bangunan, pengiriman atau penerimaan barang, penggunaan elevator dan kebijakan terhadap pengunjung,

4. Pembuatan rencana pembatasan sosial (social distancing), berupa petunjuk untuk menurunkan kepadatan dalam ruangan dan perencanaan sirkulasi pada area kerja,

5. Pengurangan area sentuh dan tingkatkan pembersihan, berupa pemberlakuan kebijakan kebersihan meja, jaga pintu tetap terbuka, pembersihan di area bersama, pengaturan area makan, dan

6. Komunikasi untuk kepercayaan diri, berupa memahami kecemasan yang mungkin dialami pegawai saat kembali ke lingkungan kerja, komunikasikan dengan transparan dan lakukan survei secara regular.

Cushman & Wakefield Indonesia akan membantu para pemilik bangunan dan perusahaan di sektor komersial dan ritel untuk kembali ke lingkungan kerja mereka saat kebijakan pembatasan aktivitas mulai dilonggarkan dalam beberapa bulan mendatang.

Managing Director Cushman & Wakefield Indonesia David Cheadle mengatakan, pedoman tersebut sangatlah penting untuk menjadi rujukan para pemilik dan penyewa perkantoran. “Pedoman ini berlaku sebagai langkah awal untuk menginformasikan para klien kami mengenai bagaimana bangunan akan beroperasi pada “kebiasaan baru” dan bagaimana para penghuni dapat mengelola kebutuhan real estat mereka di masa depan dengan fokus pada isu finansial,” ucap David seperti dilansir dari Kompas.com, Senin (11/5/2020).

David melanjutkan, pihaknya berupaya membantu para pemilik gedung dalam menciptakan kerangka perencanaan terpadu untuk kembali beroperasi penuh.

Bisnis Perkantoran Jakarta Tersendat Di Kala Covid-19, Ini Saran Pengamat

Rentfix.com – Wabah Covid-19 yang menjangkiti dunia sejak Kuartal I-2020, telah melumpuhkan bisnis perkantoran. Hal ini kemudian disikapi sejumlah perusahaan dengan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk meminimalisasi penyebaran virus tersebut.

Akibatnya, ruangan kantor mulai sepi dan bisnis persewaan kantor terkoreksi. Tentu saja, kondisi ini merupakan saat-saat yang berat untuk pemilik dan pengelola gedung. Termasuk pebisnis dan pengelola co-working space yang sebagian besar klien utamanya adalah perusahaan rintisan atau start up.

Senior Director Office Services Colliers Bagus Adikusumo mengatakan, para operator perlu melakukan beberapa cara agar tetap mempertahankan bisnisnya pada masa krisis seperti saat ini. “Klien utama operator co-working space itu adalah para start up companies sekitar 80 persen, dan 20 persen lainnya adalah klien dari multinational company.

Start up yang terkoreksi akan tidak memperpanjang sewanya atau memilih opsi terminate,” tutur Bagus seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (3/5/2020). Fenomena relokasi dari pusat-pusat bisnis pun mulai terjadi. Operator memilih membuka operasionalnya di kawasan perumahan atau yang dekat pusat bisnis namun terjangkau komunitas.

Namun demikian, meski sudah ada fenomena demikian, dan terlihat peluang menjanjikan, Bagus menyarankan operator untuk tidak melakukan ekspansi terlebih dahulu.   “Bisnis start up sedang terganggu, dan kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir,” lanjutnya. Bahkan, Bagus mengakui ada beberapa co-working space yang mulai melakukan pengurangan ruang sewa atau down sizing

Namun dia enggan menyebutkan nama operator tersebut. “Beberapa gedung mau ditutup. Itu sangat wajar karena klien utamanya hilang, start up companies sekarang terkoreksi secara alam karena pandemi ini, hanya [start up] yang investor dan platformnya kuat mereka bisa bertahan,” imbuh dia.

Selain berdampak pada bisnis co-working space, pandemi ini juga memengaruhi jumlah kebutuhan ruang kantor di wilayah Jakarta. Apabila model bisnis WFH ini berlanjut, maka akan lebih sedikit kebutuhan ruang kantor. Dengan demikian, biaya sewa kantor pun tereduksi secara signifikan. “Akan membutuhan beberapa tahun agar perkantoran yang tersedia dapat terserap pasar sebelum pasokan dan permintaanya menjadi seimbang,” lanjut Bagus.

Padahal, proyek pembangunan perkantoran baru sebagian besar diperkirakan selesai pada tahun 2021. Beberapa di antaranya adalah Daswin Tower seluas 80.000 meter persegi, Thamrin Nine 97.500 meter persegi, Indonesia Satu North Tower 43.000 meter persegi, Indonesia Satu South Tower 88.500 meter persegi, dan Jakarta Office Tower by MORI 90.000 meter persegi.

Efisiensi

Bagus menyarankan perusahaan-perusahaan yang telah, atau sedang merencanakan untuk relokasi sebaiknya melakukan perhitungan ulang model bisnis baru dan dapat meninjaunya kembali setelah semuanya kembali normal. “Efisiensi dapat dihitung antara pendapatan dan pengeluaran, jadi untuk menyusun ulang strategi jangka panjang, operasi dan keuangan harus benar-benar diperhitungkan,” ucap dia.

Senada dengan Colliers, Head of Research JLL James Taylor mengatakan bahwa bisnis perkantoran hampir mendekati level terbawahnya karena situasi ini. “Tingkat sewa tidak menunda penyewa melakukan penawaran baru, namun Covid-19 memberikan dampak yang tak terkira. Kami memprediksi tidak akan banyak kontrak sewa yang ditandatangani pada Kuartal II tahun ini,” tutur Taylor dalam laporan penelitian pasar edisi April 2020.

Penundaan ini menyebabkan harga sewa perkantoran ikut melandai. Contohnya perkantoran kelas A telah yang turun sepertiga dari harga tertingginya pada pertengahan 2015 ke harga terendah awal tahun ini. Selain penundaan ekspansi, juga karena volume pasokan ruang kantor baru yang terhitung  besar pada lima tahun terakhir.

Ternyata Begini Trik yang Harus Dilakukan Pemilik Perkantoran Saat Pandemi Corona

Rentfix.com – Ketika pandemi Covid-19 mengganggu ekonomi global, hal ini juga berdampak pada ekonomi Indonesia. Seluruh sektor seperti properti pun terdampak. Selama beberapa minggu terakhir, para pelaku bisnis properti khususnya perkantoran telah bertahan di tengah situasi yang tidak pasti.

Ketika wabah semakin meluas, bagaimana seharusnya pengembang, investor, pemilik, hingga penyewa perkantoran di Indonesia menyiapkan diri untuk dampak jangka panjangnya? Tim Colliers telah merangkum beberapa peluang yang bisa diterapkan untuk mengatasi dampak jangka pendek.

Senior Director, Office Services Colliers International Indonesia Bagus Adikusumo menjelaskan, investor bisa lebih memanfaatkan teknologi digital. Misalnya menggunakan teknologi virtual reality untuk menawarkan propertinya kepada penyewa. Video VR dan pertemuan online dapat dilakukan tanpa perlu bertemu dengan orang secara fisik.

“Teknologi digital perlu diimplementasikan di sebagian besar wilayah, karena kita juga sekarang menghadapi era digitalisasi,” ucap Bagus seperti dilansir dari Kompas.com, Rabu (22/4/2020). Selain itu penggunaan material promosi digital juga bisa menjaga kegiatan branding tetap berjalan. Ini karena sebagian besar orang beralih ke situs web dan media sosial untuk mencari informasi.

Bagus menambahkan, kesulitan yang dihadapi penyewa saat ini tidak jauh dari apa yang dihadapi oleh pengembang dan investor. Rapat fisik dan kegiatan saat ini dilakukan dengan terbatas. Untuk itu, dia merekomendasikan para pengembang, investor, dan penyewa perkantoran untuk mencari peluang bekerja dari rumah dalam waktu lama hingga kondisi kembali normal.

Dampak jangka panjang Tak dimungkiri, protokol bekerja dari rumah selama pandemi diprediksi turut mengubah kebiasaan beberapa tempat kerja. Bisa jadi ke depannya, hal ini dianggap lumrah dan menjadi fenomenaa baru, Jika kebiasaan tersebut terjadi, tentu permintaan akan ruang kantor berkurang.

Para pemilik properti perlu mencari penyewa baru untuk menutupi kekosongan ruang yang ditinggalkan oleh penyewa lama. Untuk itu, Bagus menyarankan pengembang maupun pemilik perkantoran untuk menggunakan pendekatan baru guna menemukan target pasar baru. Selain itu pengembang juga harus kreatif serta menghasilkan produk inovatif yang sesuai dengan minat pasar.

Bagi penyewa, mereka perlu melakukan penghitungan ulang model bisnis baru untuk dapat meningkatkan efisiensi, dan meninjaunya setelah semuanya kembali normal. Efisiensi dapat dihitung antara pendapatan dan pengeluaran. Dengan demikian, untuk menyusun ulang strategi untuk jangka panjang, operasi dan keuangan harus benar-benar dihitung.

Perusahaan penyewa juga perlu memastikan mereka menyiapkan teknologi yang dibutuhkan bagi karyawan yang bekerja dari rumah, untuk memastikan kelangsungan bisnis. “Penyewa harus mulai menganalisis jumlah kepala mereka saat ini dan di masa depan untuk menghitung luasan ruang kantor yang sebenarnya dibutuhkan,” ucap Bagus seperti dilansir dari Kompas.com.

Corona Ubah Sistem Kerja, Ini Cara Efektif Bikin Kantor di Rumah

Rentfix.com – Virus Corona penyebab Covid-19 membuat sejumlah perusahan di beberapa negara mengimbau karyawannya untuk bekerja dari rumah. Head of Research and Consultancy Savills Indonesia Anton Sitorus memuturkan, merebaknya virus Corona di sejumlah negara dapat memunculkan tren baru baru bagi karyawannya, yakni bekerja dari rumah.

Di beberapa negara terjadi peningkatan besar terkait para karyawan yang bekerja di rumah. Usaha “merumahkan” para pekerja ini sebagai imbas dari menyebarnya Corona. Di tempat-tempat tersebut, banyak perusahaan memberikan fleksibilitas dengan menerapkan sistem kerja dari rumah. “Mungkin ke depan secara global, tren untuk bekerja secara jarak jauh dari rumah atau dari luar kantor akan semakin meningkat kebutuhannya,” ucap Anton seperti dikutip dari Kompas.com, Jumat (6/3/2020).

Riset Savills juga menyebut, hal ini telah terjadi di beberapa negara di Asia Pasifik. Dengan cara ini diharapkan penyebaran wabah dapat diminimalisasi. Akan tetapi banyak orang yang merasa tidak bisa bekerja maksimal saat berada di rumah. Untuk itu, ada beberapa cara agar bekerja jarak jauh tidak mengubah produktivitas.

Psikolog lingkungan Sally Austin dalam bukunya Built to Thrive: How to Build the Best Workplaces for Health, Well-Being, & Productivity, seperti dilansir dari laman Forbes, menyoroti pentingnya faktor estetika seperti warna dinding dan konfigurasi furnitur dalam memengaruhi kinerja di tempat kerja.

Austin menuturkan, dengan bekerja dari rumah, maka karyawan memiliki banyak kebebasan yang sebelumnya tidak diperoleh di lingkungan kerja. Seperti diketahui, kartawan akan lebih bahagia jika memiliki hak atas kondisi kerja mereka, seperti jam masuk, lokasi, dan jenis pekerjaanya. Kondisi ini membuat tingkat stres lebih rendah serta keterlibatan yang tinggi dalam setiap agenda perusahaan. Selain itu, saat mendesain rumah sebagai tempat kerja, pertimbangkan pencahayaan.

Cahaya alami merupakan penerangan ideal dan seimbang yang Anda butuhkan. Kemudian jangan lupa untuk memastikan privasi Anda terjaga, terutama jika ada orang lain yang ada di rumah selama bekerja. Menurut laman The Verge lebih baik Anda memiliki ruang terpisah. Namun perlu diketahui, ruangan trpisah bukan hanya sekadar ruangan yang digunakan untuk bekerja.

Ruangan tersebut harus memberikan Anda kenyamanan dan suasana kerja. Anda bisa menempatkan meja, kursi, atau perlengkapan lain. Idealnya, ruangan tersebut tidak didesain untuk bersantai. Dengan demikian, Anda bisa fokus menyelesaikan pekerjaan di ruangan tersebut. Jika Anda merasa paling produktif dengan laptop di sofa, maka lakukan itu. Jika Anda belum mengetahui gaya kerja yang sesuai, silakan berimprovisasi dan coba berbagai cara guna mengetahui cara dan area mana yang bisa digunakan untuk bekerja.

Seperti diketahui, kebisingan bisa mengganggu pekerjaan. Untuk itu, Anda bisa menandai area mana yang khusus digunakan untuk bekerja. Dengan cara ini, anggota keluarga dapat menghargai privasi dan tidak mengganggu Anda selama bekerja. Austin menambahkan, dengan bekerja jarak jauh, maka perusahaan biasanya tidak memberikan tunjangan kesehatan. Namun itu bukan berarti Anda bisa mengabaikan kesehatan.

Salah satu hal yang mengancam kesehatan Anda adalah waktu duduk yang relatif lama.
“Daripada duduk sepanjang hari, Anda perlu menambahkan kegiatan. Anda sebaiknya bangun baik untuk menjawab telepon atau berbicara dengan orang lain. Anda harus melakukan gerakan kecil seperti yang dilakukan saat di kantor,” ucap Austin.