Di Jakarta, Rumah Mewah Dominasi Penjualan sedangkan Rumah Murah Nihil

Rentfix.com – CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan, rumah primer dengan harga Rp 2 miliar mendominasi penjualan hunian di Jakarta pada kuartal II-2020. Dia menyebutkan, persentase penjualan rumah dengan harga di atas Rp 2 miliar sebesar 57,69 persen.

Sementara segmen rumah dengan harga Rp 1 miliar-Rp 2 miliar sebesar 42,31 persen. Menurut dia, tidak ada penjualan rumah di bawah Rp 1 miliar di Jakarta. “Tidak ada penjualan rumah di bawah Rp 1 miliar di Jakarta,” kata Ali dalam keterangan tertulis seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (16/7/2020).

Ali menambahkan, penjualan rumah primer di Ibu Kota pada triwulan ini mengalami peningkatan sebesar 21,9 persen dibanding triwulan sebelumnya.

Sementara pada kuartal pertama tahun 2020, penjualan hunian primer di Ibu Kota anjlok sebesar 33,3 persen. Anjloknya penjualan rumah di Jakarta pada kuartal lalu lebih disebabkan penerapan pembatasan sosial berskala besar ( PSBB) yang dilakukan guna mencegah menyebarnya virus Covid-19. Kemudian, setelah dilakukan pelonggaran PSBB, pasar perumahan kembali mengalami pertumbuhan.

Tren peningkatan penjualan ini terjadi sejak Mei, ketika banyak pengembang menawarkan berbagai promo menarik. Namun, menurut Ali, pasar tetap harus waspada dikarenakan kondisi saat ini masih belum stabil. “Hal ini juga memperlihatkan bahwa sebenarnya pasar perumahan primer Jakarta masih menyimpan daya beli,” ujar Ali.

Ali menuturkan, penjualan pada hunian di segmen harga Rp 1 miliar-Rp 2 miliar mengalami peningkatan yang signifikan, yakni mencapai 144,4 persen. Sementara tingkat penjualan rumah di atas Rp 2 miliar mengalami peningkatan sebesar 11,1 persen.

Ali juga mencatat, volume penjualan ini membuat rerata harga rumah yang terjual pada kuartal II-2020 mengalami pergeseran, yakni sebesar Rp 1,95 miliar.

Ke depan, dia memprediksi ada indikasi pergeseran pembelian rumah di segmen Rp 2 miliar ke luar Jakarta, baik ke timur maupun ke barat. Hal ini dikarenakan pengembangan kawasan yang lebih baik di luar Ibu Kota membuat pasar relatif mudah bergeser.

Sektor Properti Sumbang Perekonomian Jakarta Rp 32,3 Triliun

Rentfix.com – Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute Wendy Haryanto mengatakan sektor properti berkontribusi signifikan dalam pertumbuhan perekonomian.

Di Jakarta saja, sektor yang melibatkan sekitar 177 industri ini menyumbang sekitar Rp 32,3 triliun atau 17,61 persen pada tahun 2019. Rinciannya Rp 14,8 triliun atau 23,9 persen berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dan Rp 17,5 triliun atau 28,3 persen berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA).

Pada 2018, sektor properti juga menyerap tenaga kerja di Jakarta sebanyak 425.000 orang. Dengan kontribusi sebesar itu, sudah selayaknya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulihkan perekonomian yang terpuruk akibat Pandemi Covid-19, melalui sektor properti yang terdiri dari konstruksi dan  real estate ini.

“Sektor properti menjadi salah satu solusi dengan pengaruh yang signifikan untuk membangkitkan perekonomian,” kata Executive Director Jakarta Property Institute Wendy Haryanto dalam konferensi virtual, seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (9/7/2020).

Menurut Wendy, langkah pemulihan aktivitas perekonomian yang kondusif setelah dicabutnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa dimulai dengan pemberian fleksibilitas bagi developer yang siap membangun dalam tiga tahun mendatang.

Dia mengungkapkan, fleksibilitas penting diberikan, sebab pandemi Covid-19 telah membuat developer yang sudah memiliki rencana pengembangan memilih untuk menghentikan kegiatannya.

Kebijakan pemberian fleksibilitas tersebut bisa berupa diskresi gubernur yang mengizinkan penambahan intensitas bangunan dari nilai yang tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.

Untuk pelaku usaha atau developer, penambahan intensitas bangunan berarti tambahan ruang usaha. Sedangkan bagi pemerintah, kebijakan tersebut akan menggerakkan perekonomian dan menghasilkan pajak bagi daerah.

Sementara dari sisi perpajakan, Wendy mengapresiasi kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang memberi keringanan berupa diskon Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Namun, menurut dia, diperlukan inovasi kebijakan yang mampu membuat efek perbaikan ekonomi dalam jangka yang lebih panjang.

Sebab, krisis yang ditimbulkan oleh pandemi pada perekonomian saat ini belum mencapai titik terendahnya. Senada dengan Wendy, Adjunct Associate Professor SBM ITB Aries Firman mengatakan industri sektor properti memiliki peran penting dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat.

Sektor ini memiliki keterkaitan langsung dengan sektor lainnya seperti manufaktur dan jasa-jasa yang mencakup backward dan forward linkages. Keterkaitan tersebut akan menimbulkan efek berganda pada perekonomian. “Akan ada multiplier effect yang menjadi akselerator sistem perekonomian daerah dan nasional,” kata dia.

Pandemi juga mendorong sektor properti untuk mengkaji ulang semua proses yang membutuhkan perbaikan yang berkelanjutan dari faktor internal maupun pengaruh eksternal. Pelaku usaha harus menemukan solusi untuk berbagai kendala bagi perkembangan industri ini.

Sementara Senior Advisor bidang Strategy & Transactions di Ernst & Young Bernardus Djonoputro berpendapat disrupsi akibat pandemi Covid-19 membuat pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berfokus pada tiga hal sesuai survei Ernst & Young di 136 negara.

Ketiganya yakni pengendalian darurat pandemi, persiapan penurunan ekonomi global, dan penyiapan stimulus. “Industri properti, termasuk di dalamnya real estate dan konstruksi serta seluruh rantai pasoknya menjadi sektor penting dalam menggerakkan ekonomi pasca-pandemi,” kata Bernardus.

Sebagai sektor penghela pertumbuhan ekonomi, Bernardus mengatakan pandemi Covid-19 mengubah pola bisnis properti dan konstruksi dunia. Pandemi pun mengubah pola hidup dan ekspektasi masyarakat. “Industri ini akan berubah pula sesuai perubahan tren di masyarakat,” tuntas dia.

6 Panduan Pembukaan Kembali Ruang Kerja di Perkantoran

Rentfix.com – Konsultan properti Cushman & Wakefield merilis panduan komprehensif bertema “Kesiapan Pemulihan: Panduan Pembukaan Kembali Lingkungan Kerja”. Cushman & Wakefield membidik para pemilik maupun penyewa properti dalam rangka pembukaan kembali lingkungan kerja dan perkantoran dalam beberapa bulan ke depan.

Panduan ini dirilis untuk melengkapi Recovery Readiness Task Force (RRTF atau Satuan Tugas Kesiapan Pemulihan) dan produk social distancing (pembatasan sosial) terbaru bernama Six Feet Office.

Para ahli dan peneliti lingkungan kerja di Cushman & Wakefield dan Vanke Service  mengembangkan panduan ini dengan solusi yang tanggap dan mudah disesuaikan dengan implementasi hemat biaya. Dalam menciptakan panduan ini, Cushman & Wakefield menyaring pemahaman dan praktik terbaik dari proses pembukaan kembali 10.000 perusahaan di China.

Di negara Tirai Bambu ini, hampir satu juta orang bakal bekerja kembali di gedung-gedung perkantoran dengan total luas 74 juta meter persegi. ‘The Safe Six’ atau enam langkah keamanan esensial kesiapan lingkungan kerja menjadi garis besar yang bisa diimplementasikan pemilik perkantoran, terdiri dari:

1. Persiapan bangunan, berupa rencana pembersihan, inspeksi sebelum pembukaan kembali, dan pengecekan jaringan mekanik dan HVAC,

2. Persiapan tenaga kerja, berupa kebijakan yang mengatur pegawai kembali bekerja, menggilir atau menjadwalkan komunikasi antar pegawai dan manajemen,

3. Pengendalian akses, berupa penerapan protokol untuk keamanan dan pengecekan kesehatan, akses masuk bangunan, pengiriman atau penerimaan barang, penggunaan elevator dan kebijakan terhadap pengunjung,

4. Pembuatan rencana pembatasan sosial (social distancing), berupa petunjuk untuk menurunkan kepadatan dalam ruangan dan perencanaan sirkulasi pada area kerja,

5. Pengurangan area sentuh dan tingkatkan pembersihan, berupa pemberlakuan kebijakan kebersihan meja, jaga pintu tetap terbuka, pembersihan di area bersama, pengaturan area makan, dan

6. Komunikasi untuk kepercayaan diri, berupa memahami kecemasan yang mungkin dialami pegawai saat kembali ke lingkungan kerja, komunikasikan dengan transparan dan lakukan survei secara regular.

Cushman & Wakefield Indonesia akan membantu para pemilik bangunan dan perusahaan di sektor komersial dan ritel untuk kembali ke lingkungan kerja mereka saat kebijakan pembatasan aktivitas mulai dilonggarkan dalam beberapa bulan mendatang.

Managing Director Cushman & Wakefield Indonesia David Cheadle mengatakan, pedoman tersebut sangatlah penting untuk menjadi rujukan para pemilik dan penyewa perkantoran. “Pedoman ini berlaku sebagai langkah awal untuk menginformasikan para klien kami mengenai bagaimana bangunan akan beroperasi pada “kebiasaan baru” dan bagaimana para penghuni dapat mengelola kebutuhan real estat mereka di masa depan dengan fokus pada isu finansial,” ucap David seperti dilansir dari Kompas.com, Senin (11/5/2020).

David melanjutkan, pihaknya berupaya membantu para pemilik gedung dalam menciptakan kerangka perencanaan terpadu untuk kembali beroperasi penuh.

Bisnis Perkantoran Jakarta Tersendat Di Kala Covid-19, Ini Saran Pengamat

Rentfix.com – Wabah Covid-19 yang menjangkiti dunia sejak Kuartal I-2020, telah melumpuhkan bisnis perkantoran. Hal ini kemudian disikapi sejumlah perusahaan dengan menerapkan kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) untuk meminimalisasi penyebaran virus tersebut.

Akibatnya, ruangan kantor mulai sepi dan bisnis persewaan kantor terkoreksi. Tentu saja, kondisi ini merupakan saat-saat yang berat untuk pemilik dan pengelola gedung. Termasuk pebisnis dan pengelola co-working space yang sebagian besar klien utamanya adalah perusahaan rintisan atau start up.

Senior Director Office Services Colliers Bagus Adikusumo mengatakan, para operator perlu melakukan beberapa cara agar tetap mempertahankan bisnisnya pada masa krisis seperti saat ini. “Klien utama operator co-working space itu adalah para start up companies sekitar 80 persen, dan 20 persen lainnya adalah klien dari multinational company.

Start up yang terkoreksi akan tidak memperpanjang sewanya atau memilih opsi terminate,” tutur Bagus seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (3/5/2020). Fenomena relokasi dari pusat-pusat bisnis pun mulai terjadi. Operator memilih membuka operasionalnya di kawasan perumahan atau yang dekat pusat bisnis namun terjangkau komunitas.

Namun demikian, meski sudah ada fenomena demikian, dan terlihat peluang menjanjikan, Bagus menyarankan operator untuk tidak melakukan ekspansi terlebih dahulu.   “Bisnis start up sedang terganggu, dan kita tidak tahu kapan pandemi akan berakhir,” lanjutnya. Bahkan, Bagus mengakui ada beberapa co-working space yang mulai melakukan pengurangan ruang sewa atau down sizing

Namun dia enggan menyebutkan nama operator tersebut. “Beberapa gedung mau ditutup. Itu sangat wajar karena klien utamanya hilang, start up companies sekarang terkoreksi secara alam karena pandemi ini, hanya [start up] yang investor dan platformnya kuat mereka bisa bertahan,” imbuh dia.

Selain berdampak pada bisnis co-working space, pandemi ini juga memengaruhi jumlah kebutuhan ruang kantor di wilayah Jakarta. Apabila model bisnis WFH ini berlanjut, maka akan lebih sedikit kebutuhan ruang kantor. Dengan demikian, biaya sewa kantor pun tereduksi secara signifikan. “Akan membutuhan beberapa tahun agar perkantoran yang tersedia dapat terserap pasar sebelum pasokan dan permintaanya menjadi seimbang,” lanjut Bagus.

Padahal, proyek pembangunan perkantoran baru sebagian besar diperkirakan selesai pada tahun 2021. Beberapa di antaranya adalah Daswin Tower seluas 80.000 meter persegi, Thamrin Nine 97.500 meter persegi, Indonesia Satu North Tower 43.000 meter persegi, Indonesia Satu South Tower 88.500 meter persegi, dan Jakarta Office Tower by MORI 90.000 meter persegi.

Efisiensi

Bagus menyarankan perusahaan-perusahaan yang telah, atau sedang merencanakan untuk relokasi sebaiknya melakukan perhitungan ulang model bisnis baru dan dapat meninjaunya kembali setelah semuanya kembali normal. “Efisiensi dapat dihitung antara pendapatan dan pengeluaran, jadi untuk menyusun ulang strategi jangka panjang, operasi dan keuangan harus benar-benar diperhitungkan,” ucap dia.

Senada dengan Colliers, Head of Research JLL James Taylor mengatakan bahwa bisnis perkantoran hampir mendekati level terbawahnya karena situasi ini. “Tingkat sewa tidak menunda penyewa melakukan penawaran baru, namun Covid-19 memberikan dampak yang tak terkira. Kami memprediksi tidak akan banyak kontrak sewa yang ditandatangani pada Kuartal II tahun ini,” tutur Taylor dalam laporan penelitian pasar edisi April 2020.

Penundaan ini menyebabkan harga sewa perkantoran ikut melandai. Contohnya perkantoran kelas A telah yang turun sepertiga dari harga tertingginya pada pertengahan 2015 ke harga terendah awal tahun ini. Selain penundaan ekspansi, juga karena volume pasokan ruang kantor baru yang terhitung  besar pada lima tahun terakhir.

Bersama Para Mitra Tunjukkan Komitmen dalam Pelayanan Sewa Properti

Rentfix.com – Pemerintah Indonesia telah mengambil keputusan agar masyarakat berkegiatan di dalam rumah, mulai dari belajar, bekerja, hingga beribadah dalam pandemi virus corona yang tengah melanda dunia membuat banyak aktivitas terganggu.

Masyarakat diminta untuk menjaga jarak supaya terhindar dari virus berbahaya ini. Namun, bagi platform sewa menyewa properti Rentfix tetap melayani dalam bidang layanan sewa menyewa properti dan pasang properti gratis untuk kebutuhan masyarakat Indonesia selama #dirumahaja secara daring.

Bersama dengan mitra propertinya yaitu Ciputra Citra Landmark, LMAN, Eraprima Daan Mogot, Seven Star, Puri Orchard, Padina, Cengkareng Business City, Boutique Office, AKR Tower. Coworking space Ruang dan Tempo, Mula Indonesia (Galeria Jakarta), Greenhub, Urbanspace, dan Dreamhub hingga kantor agent properti Prop2Go, More Property, Lexus, dan Seven Star Property bersama menunjukkan komitmen agar user terus dapat bertransaksi dan pasang properti #dirumahaja dengan aman dan nyaman.

“Seluruh jajaran mitra kami berharap agar situasi pandemi ini dapat segera dilewati oleh Indonesia. Kami berharap untuk bisa memberikan yang terbaik, dengan segala kemampuan kita, untuk orang-orang di sekitar kita dalam memenuhi kebutuhan sewa menyewa properti” ujar Direktur Rentfix Effendy Tanuwidjaja.

Pihaknya berusaha untuk mengoptimalkan layanan bisnis walaupun dalam situasi seperti ini. “Kami terus menjaga sanitasi fasilitas operasional, memastikan kesehatan karyawan. Terima kasih untuk Anda yang beraktivitas #dirumahaja untuk menjaga kesehatan bersama. Terima kasih juga untuk Anda yang tetap bekerja dari rumah dan mengiklankan properti di Rentfix.com.”, pungkas Effendy.

Jaga Kebersihan Rumah Saat Social Distancing

Rentfix.com – Sejak awal tahun 2020, dunia dibuat cemas oleh wabah Corona Virus Disease-19 ( Covid-19). Bermula dari Wuhan, China, virus ini kemudian menyebar dengan cepat ke berbagai negara. Hingga Jumat (27/3/2020), virus yang menyerang sistem pernapasan itu telah menginfeksi 532.692 orang di seluruh dunia.

Sementara itu, di Indonesia kasus positif telah mencapai angka 893 per 27 Maret 2020. Sebagai upaya mencegah penularan Covid-19, World Health Organization (WHO) mengeluarkan beberapa anjuran, seperti rajin mencuci tangan, menggunakan masker bila sakit, hingga social distancing atau mengurangi kontak dengan orang lain dan menghindari berkegiatan di keramaian.

Social distancing

Demikian pula dengan Indonesia. Presiden Joko Widodo melalui keterangan resminya, Minggu (15/3/2020), mengimbau masyarakat untuk menerapkan social distancing. Tujuannya, meningkatkan kewaspadaan serta mencegah penyebaran virus corona. “Menurut saya yang paling penting adalah social distancing.

Bagaimana kita menjaga jarak. Dengan kondisi itu kita sekarang kerja dari rumah, sekolah dari rumah, dan ibadah di rumah,” ujar Jokowi, seperti dikutip dari akun Youtube Kompas.com Reporter on Location, Minggu (15/3/2020).

Menanggapi imbauan tersebut, banyak perusahaan serta sekolah yang berada di daerah terdampak mulai menerapkan sistem kerja dan belajar dari rumah. Meski tidak lagi beraktivitas di luar rumah, bukan berarti anjuran untuk menjaga kesehatan dan kebersihan dapat diabaikan.

Rekomendasi WHO untuk rutin mencuci tangan, menerapkan etika bersin dan batuk, hingga mengisolasi diri jika sakit tetap harus dilakukan.

Jaga kebersihan rumah

Selain menjaga kesehatan dan kebersihan diri, menjaga kebersihan rumah juga sangat penting. Apalagi, ketika social distancing hampir seluruh kegiatan dilakukan di dalam rumah. Pasalnya, penelitian terbaru dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit ( CDC) Amerika Serikat yang terbit pada Selasa (17/3/2020) mengatakan, virus corona bisa bertahan berhari-hari di permukaan benda. Jika menempel di permukaan tembaga, virus dapat bertahan sampai 4 jam.

Saat menempel pada plastik, virus dapat bertahan hingga 3 hari. Kemudian, jika menempel pada kardus bisa bertahan selama 24 jam. Karena itulah, rutin membersihkan rumah berserta perabotannya menjadi langkah penting untuk mencegah penularan virus corona. Informasi dari laman CDC mengungkapkan, langkah itu pun dapat membantu melindungi seluruh keluarga atau penghuni rumah selama wabah Covid-19. Adapun CDC menganjurkan untuk membersihkan dan mendisinfeksi permukaan dan benda yang sering disentuh penghuni rumah (high touch surface).

Menurut CDC, penggunaan air bersih dan sabun biasa sudah cukup untuk membersihkan perabotan rumah, seperti gagang pintu, meja, sakelar lampu, gagang lemari, keran, hingga dudukan toilet. Jangan lupa juga untuk rutin membersihkan lantai rumah dengan air bersih serta sabun. Bisa juga menggunakan cairan pembersih khusus lantai, seperti SoKlin Lantai.

Cairan pembersih lantai itu mampu membersihkan lantai dan menjaganya bebas dari bakteri serta virus penyebab penyakit. Pasalnya, Soklin Lantai mengandung antibacterial agent yang dapat membunuh kuman tanpa perlu dicampur dengan cairan pembersih lain. Selain itu, teknologi fast dry-nya membuat lantai cepat kering setelah dipel. Ada juga shine lock formula yang mampu membuat lantai bersih dan kilap.

Terkait penyemprotan disinfektan di rumah, CDC menyarankan, penyemprotan dilakukan setelah permukaan benda dibersihkan dengan sabun dan air. Sebabnya, penyemprotan dengan disinfektan hanya membunuh kuman di permukaan benda. Tidak bisa membersihkan permukaan benda yang kotor. Dengan disiplin menjaga kesehatan dan kebersihan diri, menjaga jarak aman dengan orang lain, serta rutin membersihkan rumah, diharapkan risiko penyebaran dan penularan Covid-19 dapat diminimalisir.

Pasca Corona Reda, Pasar Properti Diyakini Bangkit

Pelaku usaha di sektor properti optimistis pasar properti di Indonesia masih memiliki masa depan yang cerah setelah wabah virus corona atau Covid-19 berhasil tertangani sepenuhnya.

Rentfix.com – Pasar properti di Indonesia diyakini bisa kembali bangkit selepas badai virus corona jenis baru atau Covid-19 telah reda.

Direktur PT Real Estate Teknologi (Rentfix.com) Effendy Tanuwidjaja mengatakan bahwa prospek bisnis properti Tanah Air diyakini masih memiliki masa depan yang cerah.

“Prospek ke depan akan lebih terang untuk perusahaan e-commerce properti yang mengandalkan digital ekonomi dalam situasi pandemi. Masyarakat akan tetap mengandalkan dan membutuhkan perusahaan teknologi properti untuk berbagai keperluan tempat tinggal,” kata Effendy, seperti dilansir dari Bisnis.com, Senin (30/3/2020).

Selain itu, adanya berbagai kerja sama dengan para pengembang lokal, dukungan asosiasi properti hingga investor global dinilai menjadi dorongan yang besar agar sektor ini kembali bergairah di masa mendatang.

Effendy mengatakan bahwa pihaknya juga optimistis terhadap pasar properti sewa pada kondisi seperti saat ini. Pada tahun ini pihaknya fokus mengembangkan kerja sama bisnis melalui kemitraan. Terlebih, segmen pengguna di Rentfix mendominasi dengan persentase hingga 85 persen.

“Hal itulah yang membuat kami akan selalu memiliki prospek yang optimis. Kami percaya bahwa pasar properti akan bisa bangkit kembali,” ujarnya.

Kepercayaan ini juga sejalan dengan riset konsultan properti Cushman and Wakefield Indonesia yang menyatakan bahwa properti sewa akan tetap menarik di tengah kondisi ketidakpastian yang melanda.

Menurut Effendy, berdasarkan riset itu salah satu subsektor yang masih prospektif adalah properti perkantoran. Dia menilai pasar sewa untuk perkantoran dinilai akan tetap menarik meskipun tingkat permintaan sewa mengalami penurunan yang signifikan.

Sejalan dengan itu, imbuhnya, pangsa pasar di Rentfix juga lebih menyasar pada properti komersial yang mencapai 70 persen dan residensial 30 persen. Adapun Rentfix Inventory alias pergudangan juga dinilai paling banyak peminat dari segi sewa dalam jangka waktu dua tahun terakhir ini.

“Jenis properti komersial ini mengalami perkembangan yang sangat besar dan pesat dengan adanya bisnis online yang membutuhkan tempat penyimpanan dan distribusi,” ucapnya.

Menurut Effendy, Rentfix melihat adanya peluang tersebut lantaran segi permintaan untuk gudang dinilai sangat tinggi, akan tetapi tidak sebanding dengan segi pasokan.

Selain itu, konsep logistik yang diterapkan saat ini dinilai sudah tidak seperti zaman sebelumnya di mana gudang disewakan sudah ditentukan, misalnya, selama 1 tahun atau 2 tahun. Sementara untuk saat ini lebih berdasarkan permintaan.

“Di mana untuk bisnis online itu pada saat permintaan sedang tinggi akan membutuhkan tempat penyimpanan yang sementara untuk dalam keadaan yang memuncak,” ungkapnya.

Sektor Properti Masih Optimis Di Tengah Pandemi Corona

Rentfix.com – Corona ( Covid-19) menghantam Indonesia dalam beberapa waktu terakhir. Untuk mengurangi penyebarannya, Pemerintah memberlakukan sejumlah kebijakan. Namun, kebijakan-kebijakan tersebut mengakibatkan surutnya aktivitas ekonomi.

Para peritel hingga pusat perbelanjaan menutup tokonya. Akan tetapi, masih ada optimisme untuk sektor properti. Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Totok Lusida mengatakan, meski Indonesia saat ini sedang menghadapi wabah Covid-19, namun transaksi properti masih tetap berjalan normal.

Tak hanya itu, Totok mengungkapkan harga properti bisa dibilang masih normal. Bahkan transaksinya tidak berubah. “Memang beberapa unit (properti) menengah ke atas itu harganya agak naik, pembeliannya kan barang-barangnya impor. Tapi rumah sederhana tetap (harga),” ujar Totok seperti di kutip dari Kompas.com, Rabu (25/3/2020).

Hal senada diungkapkan oleh CEO dan Presiden Direktur PT Perintis Triniti Properti Tbk Ishak Candra. Menurutnya, properti tahun ini seharusnya mengalami peningkatan. Hal ini terlihat dari optimisme konsumen yang sudah mulai meningkat sejak Oktober 2019. Pada saat itu, indeks keyakinan konsumen mulai naik. Lalu muncullah kasus Jiwasraya yang mengakibatkan rekening investor diblokir. “Belum kelar itu, corona menyebar dengan efek pasar saham kena dampak, turun semua,” ucap dia.

Kondisi ini membuat rupiah yang tengah stabil, anjlok kembali terhadap dollar AS. Tak hanya itu, corona membuat perekonomian dunia diprediksi mengalami perlambatan -1,5 persen. Dengan begitu, ekonomi dunia juga diproyeksi turun 0,9 persen. Menurut Ishak, dampak corona membuat pasar saham dan obligasi terpengaruh signifikan.

Meski ditempa sejumlah kondisi negatif, tetapi hal ini tidak langsung berdampak negatif ke sektor properti. Memang, corona membuat ritel dan perhotelan mengalami guncangan. Misalnya okupansi hotel mengalami penurunan. Selain itu, pusat perbelanjaan pun mengalami sepi pengunjung. Masyarakat masih khawatir dengan wabah ini dan membuat beberapa peritel menutup tokonya.

Wabah ini dinilai tidak terlalu memengaruhi penjualan properti. Menurutnya, corona hanya memberikan dampak terhadap pengembang yang menjual properti untuk asing. Akan tetapi, jika kondisi ini terus berlangsung, maka suplai produk akan terhambat. “Sehingga beban bakal bertambah dan margin semakin menipis,” ucap Ishak.

“End user” naik

Dia menambahkan, meski masyarakat tengah mengahadapi corona, namun hal ini tidak mengurangi minat konsumen end user untuk membeli properti. Menurut Ishak, jika end user memiliki keperluan, maka mereka akan membelinya.

Apalagi saat ini komposisi pasar pembeli properti berubah. Sebelum 2010, porsi konsumen properti seimbang antara investor maupun end user. Namun sekarang, sebanyak 70-80 persen konsumen didominasi oleh end user. Sedangkan 20-30 persennya merupakan investor. Keyakinan tersebut ditambah dengan sejumlah insentif yang diberikan oleh Pemerintah.

Insentif tersebut berupa pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penghasilan ( PPh) Pasal 22, prosedur pengurusan pajak.
Insentif-insentif lainnya adalah simplifikasi atas prosedur PPh penjualan tanah dan bangunan dari 15 hari menjadi tiga hari. Kemudian untuk properti golongan super mewah, pemerintah juga memberikan insentif peningkatan batasan hunian yang dikenakan PPh dan PPNBM dari Rp 5 miliar hingga Rp 10 miliar menjadi Rp 30 miliar hingga relaksasi Loan to Value (LTV).

Terakhir, Pemerintah memberi dua stimulus cicilan rumah bersubsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sebagai dampak pandemi Covid-19. Stimulus pertama adalah subsidi selisih bunga selama 10 tahun. Kemudian bantuan pembayaran uang muka anggaran untuk pembelian rumah bersubsidi. “Corona enggak bakal long-term. Cuma sekarang bagaimana supaya tidak menyebar,” kata Ishak.

Generasi Milenial Lebih Senang Menyewa Dibandingkan Membeli Properti

Rentfix.com – Platform penyedia layanan sewa properti pada tahun 2020 kian meningkat pesat. Berbagai aplikasi hadir guna memenuhi kebutuhan tempat tinggal. Menangkap peluang itu, para pelaku industri pun tak tinggal diam dalam melakukan inovasi agar memberi warna baru pada sektor properti di tanah air.

Direktur PT Real Estate Teknologi (Rentfix.com) Effendy Tanuwidjaja mengatakan, sektor properti pada tahun 2020 berpotensi lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Kreativitas para pelaku industri properti hadir untuk mengemas produk yang menarik dan menyediakan hunian sewa yang mudah diakses melalui sistem daring atau aplikasi.

Senada yang disampaikan oleh Department Head Research & Consultancy PT Savills Consultants Indonesia Anton Sitorus bahwa agar pertumbuhan sektor properti menjadi lebih maksimal harus didukung oleh kreativitas pengembang maupun perusahaan dalam mengemas produk unggul dan yang menarik.

“Permintaan besar, tetapi untuk bisa tumbuh pengembangnya harus kreatif dalam membuat produk, dan harga terjangkau. Jika itu terpenuhi, saya yakin market meningkat. salah satu konsep yang saat ini tengah digemari adalah co-living. Namun konsep ini ditawarkan dengan harga tinggi, pembelinya tentu juga akan terbatas. Market co-living seperti properti lain pasarnya ada, asalkan harga cocok,” ungkapnya.

Hal itu juga disampaikan oleh Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda bahwa saat ini harga properti sudah sangat tinggi sehingga kesulitan untuk dijual. Namun masih ada juga investor yang membeli, dengan harapan harganya akan terus naik. “Padahal pasar properti sama seperti ekonomi mempunyai siklus pasar, ini sering kali diabaikan oleh investor,” jelas Ali.

Itu sebabnya, tak heran jika saat ini banyak masyarakat yang lebih memilih untuk menyewa dibandingkan untuk membeli, terutama di kota-kota besar. Bahkan dalam survei yang dilakukan oleh IPW, generasi milenial di kota-kota besar, seperti di Jakarta, lebih senang menyewa dibandingkan membeli properti. “Hasil survei kami sekitar 47,4 persen pilih tinggal di kos-kosan, kemudian sebanyak 47,1 persen berkeinginan untuk tinggal di apartemen, sedangkan sisanya memilih tinggal di kediaman keluarga atau saudara,” tambah Ali.

Dengan penghasilan rata-rata kaum milenial berkisar Rp 6 juta – Rp7 juta per bulan artinya mereka hanya mampu membeli properti dengan cicilan Rp 2 juta – Rp 2,5 juta per bulan atau seharga Rp 200 juta- Rp300 jutaan. Dengan rentang harga tersebut sulit untuk mendapatkan properti di Jakarta. Itu sebabnya, milenial lebih memilih menyewa apartemen atau kosan.

Berdasarkan riset IPW, saat ini ada sebanyak 39,9 persen kaum milenial tinggal di kos atau apartemen dengan besaran sewa di bawah Rp 2 juta per bulan. Lalu sebanyak 38,5 persen menyewa dengan harga Rp 2 juta-Rp 3 juta per bulan, dan 21,6 persen menyewa dengan harga di atas Rp 3 juta per bulan.

Menyewa apartemen atau kos menjadi cara yang lebih mudah dan praktis. Sebab, jika membeli apartemen cukup membutuhkan anggaran lebih besar seperti halnya untuk furnitur baru, biaya bulanan seperti pajak properti dan asuransi pemilik apartemen, serta perbaikan apartemen yang membutuhkan pengeluaran tak terduga.

Jakarta Nomor 24 Dunia Pertumbuhan Harga Rumah Mewah

Rentfix.comJakarta masih menunjukkan potensi besar untuk perumahan mewah. Terbukti dari pertumbuhan harga residensial mewah di ibu kota Indonesia ini yang mencapai 3,9 persen pada 2019. Angka pertumbuhan ini menempatkan Jakarta di posisi ke-24 di antara 100 kota teratas dunia dalam indeks Prime International Residential Index (PIRI) keluaran Knight Frank.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan, pertumbuhan ini digrakkan oleh selesainya jalur moda raya terpadu atau MRT serta membaiknya sentimen setelah kontestasi politik pemilihan presiden pada pertengahan 2019.

Pengembangan infrastruktur ini, Willson menambahkan, membangkitkan optimisme tinggi bagi pasar residensial hanya di segmen premium, juga di segmen menengah ke bawah, dan potensi ultra high net worth individual (UHNWI) yang masih prospektif. Hal ini diharapkan berdampak positif pada kondisi pasar properti dan pertumbuhan ekonomi Nasional,” tutur Willson dalam riset yang dikutip Kompas.com, Selasa (17/3/2020).

Adapun dalam laporan PIRI 100, Knight Frank mencatat rata-rata pertumbuhan harga residensial premium tahun 2019 sebesar 1,8 persen, sementara tahun sebelumnya 1,3 persen. Di seluruh Asia Pasifik, rata-rata pertumbuhan harga tahunan di pasar primer adalah 3,1 persen, lebih tinggi dari 2,7 persen yang tercatat pada 2018. Terdapat empat negara Asia Pasifik yang berada di posisi 10 teratas yakni Taipei, Seoul, Manila, dan Guangzhou.

Berikut 25 besar kota dengan pertumbuhan hunian premium tertinggi di dunia:

  1. Frankfurt, Eropa, 10.3 persen
  2. Lisbon, Eropa, 9.6 persen
  3. Taipei, Asia, 8.9 persen
  4. Seoul, Asia, 7.6 persen
  5. Houston, Amerika Utara, 7.4 persen
  6. Athens, Eropa, 7.0 persen
  7. Mexico City, Amerika Latin, 6.6 persen
  8. Manila, Asia, 6.5 persen
  9. Berlin, Eropa, 6.5 persen
  10. Guangzhou, Asia, 6.3 persen
  11. Stockholm, Eropa, 5,2 persen
  12. Madrid, Eropa, 5,1 persen
  13. Aspen, Eropa, 5 persen
  14. British Virginia Island, Atlantik Utara, 5 persen
  15. Toronto, Amerika Utara, 4,9 persen
  16. Delhi, Asia, 4,7 persen
  17. Moskow, Eropa, 4,7 persen
  18. Zurich 4,5 persen
  19. Siprus, Eropa, 4,3 persen
  20. Paris, Eropa, 4,3 persen
  21. St Barts, Kepulauan Karibia, 4 persen
  22. Milan, Eropa, 4 persen
  23. Amsterdam, Eropa, 4 persen
  24. Jakarta, Asia, 3,9 persen
  25. Barcelona, Eropa, 3,8 persen