Bangun Rumah Cuma 20 Hari, Ini Teknologi yang Digunakan

Rentfix.com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mendukung setiap inovasi di bidang teknologi yang digunakan untuk sektor perumahan dalam penyediaan rumah bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Salah satu inovasi teknologi tersebut adalah pembangunan rumah menggunakan Prima Wall System ( PWS).

Inovasi teknologi tersebut dikembangkan oleh PT Prima Graha Bangun Tunggal. “Prima Wall System (PWS) merupakan karya anak bangsa yang perlu diapresiasi dan dikembangkan,” ujar Ditjen Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Aabdul Hamid dalam siaran pers seperti dilansir dari Kompas.com, Selasa (28/7/2020).

Menurut Khalawi, sistem PWS merupakan inovasi dalam pembangunan perumahan yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan proses pengerjaan hunian yang efisien.

Ditambah dengan kebutuhan rumah masyarakat Indonesia masih cukup tinggi dan diperlukan inovasi untuk menyukseskan Program Sejuta Rumah.

Dalam hal ini, Kementerian PUPR juga berharap sistem ini dapat terus dikembangkan, digunakan, serta diekspor, karena menyangkut industri turunannya. Terutama, pada saat Pandemi Covid-19 karena akan menyerap banyak tenaga kerja dalam produksinya.

“Inovasi pembangunan perumahan tersebut juga dapat digunakan sebagai alternatif bagi para pengembang dalam membangun rumah bagi masyarakat,” ujar Khalawi.

Sementara itu, Direktur PT Prima Graha Bangun Tunggal Joseph Adian Chandra menjelaskan mekanisme pembangunan rumah menggunakan sistem tersebut yang telah diuji secara 2D dan hasilnya baik, tidak retak, goyang, maupun miring.

Bahkan, proses pembangunan hunian menggunakan sistem PWS ini hanya membutuhkan waktu 20 hari untuk membangun rumah tipe 35. 

“Sedangkan anggarannya membutuhkan biaya Rp 99 juta,” imbuhnya. Joseph optimistis, sistem PWS akan menjadi alternatif bagi para pengembang untuk membangun rumah MBR, meskipun sudah ada produk serupa dari luar negeri yang menggunakan sistem tersebut.

Menurut Joseph, alangkah baiknya kalau produk bangunan menggunakan sistem PWS ini dimanfaatkan pengembang properti karena buatan dalam negeri serta berdampak positif bagi sektor properti.

Pembangunan rumah dengan menggunakan sistem PWS ini tidak perlu menggunakan kolom, melainkan hanya menggunakan ‘sirip’ untuk memperkuat bentangan dinding setiap 2,5 meter.

Sirip ini juga dapat dimodifikasi untuk dijadikan lemari atau penyekat antar ruangan. Pada bagian atas hanya dibutuhkan balok untuk mengikat semua bentangan dari PWS ini.

“Saat ini, PWS diaplikasikan untuk rumah tapak satu lantai. Tapi, tidak menutup kemungkinan PT Prima Graha Bangun Tunggal akan melaksanakan pengembangan lebih lanjut untuk pembangunan rumah setinggi dua atau tiga lantai atau rumah deret,” kata Joseph.

ABYA: Ajang Kaum Muda Tentukan Arah Teknologi di Indonesia

Rentfix.com – Pada tahun 2025, ekonomi digital Indonesia di perikirakan akan mencapai 133 miliyar dollar. Saat ini, Indonesia menjadi tuan rumah salah satu pasar e-commerce paling dinamis di asia.

Hal di atas didukung dengan adanya teknologi industri 4.0 yang turut mengundang sebuah pertanyaan bagaimana cara para kaum muda untuk menentukan arah (menavigasikan) tata ruang (lanskap) dari teknologi Indonesia?

Terlebih saat ini dengan adanya pandemi covid-19, mencuat pertanyaan industri mana yang memiliki potensial untuk investasi berbasis teknologi. Dan bagaimana covid-19 mempengaruhi kesempatan bagi para kamu muda untuk mengakses pangsa pasar teknologi di Indonesia, serta bagaimana seharusnya kaum muda menentukan arah teknologi Indonesia.

Pengetahuan tentang pedoman arah dan teknik penggunaan teknologi haruslah dimiliki dan dipahami bagi para kaum muda. Sebab lewat tangan kreatif anak-anak mudalah akan ada banyak jawaban mengenai arah dan peran teknologi di Indonesia.

Untuk itu, ASEAN Business Youth Association (ABYA) menyelenggarakan program acara bertajuk “A Future In Asean: Tech in Indonesia: Where are the opportunities?” yang digelar Sabtu, 18 Juli 2020 pukul 15.00 – 16.30 (SGT) melalui tool Zoom. Bersama Pendiri dan CEO Rentfix.com, Effendy Tanuwidjaja, dan CEO OLX Autos Indonesia, Johnny Widodo.

Dipandu oleh Moderator Ms Khushbu Topandasani, Investment Associate at Vertex Ventures dengan pengalaman di Singapura dan Indonesia. Mari bersama mendaftar untuk webinar di www.aseanbusinessya.com/upcomingevents/afutureinasean

6 Juli, Google Buka Aktivitas Perkantoran

Rentfix.com – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Google, berencana membuka kembali sejumlah perkantoran di beberapa kota milik perusahaan pada 6 Juli mendatang. Hal tersebut disampaikan CEO Google Sundar Pichai seperti dikutip dari CNN Business, Rabu (27/5/2020).

Namun, belum diketahui secara pasti perkantoran mana saja yang akan dibuka kembali oleh Google di Amerika Serikat. Pichai memastikan, pembukaan tersebut dilakukan secara bertahap dengan membatasi kapasitas karyawan yang masuk kerja. Pada bulan Juli nanti, hanya 10 persen karyawan yang diizinkan untuk memasuki gedung perkantoran Google.

Selanjutnya, pada September, perusahaan akan meningkatkan kapasitas karyawan yang diizinkan bekerja di kantor menjadi 30 persen. “Kami akan menerapkan langkah-langkah kesehatan dan keselamatan yang ketat untuk memastikan pedoman sosialisasi dan jaga jarak sosial diikuti,” kata Pichai.

Sebelumnya, Google mengatakan karyawan boleh bekerja dari rumah hingga akhir tahun 2020 mendatang jika mereka menginginkannya. Perusahaan akan memberikan tunjangan sebesar Rp 14,7 juta untuk para karyawan yang membutuhkan peralatan dan perabotan demi menunjang pekerjaan mereka. 

Kebijakan baru Google ini berbeda dengan Facebook dan Twitter yang menerapkan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) secara permanen untuk setiap karyawannya. Tujuannya untuk menekan penyebaran virus Corona serta meningkatkan produktifitas para karyawan.

Pendiri dan CEO Facebook Mark Zuckerberg menyatakan, sebanyak 50 persen pegawai Facebook dapat bekerja dari rumah dalam lima hingga 10 tahun ke depan.

Twitter juga memberlakukan kebijakan serupa dengan mengizinkan sejumlah pegawainya kerja dari rumah “selamanya” apabila mereka memilih demikian. Meski begitu, pihak Twitter tidak menjelaskan secara rinci posisi pekerjaan seperti apa yang diperbolehkan dilakukan dari rumah seperti dilansir dari Kompas.com.

Teknologi Properti Dinilai Bisa Cegah Perluasan Wabah Corona?

Teknologi properti berkonsep smartcity dengan database yang cukup canggih dinilai bisa menekan korban kasus corona sehingga relatif tak naik secara signifikan.

Rentfix.com – Teknologi properti dinilai bisa mencegah wabah virus corona jenis baru atau Covid-19 makin meluas jika telah diterapkan secara multifungsi.

Chairman Indonesia Proptech Association Rusmin Lawin mengatakan bahwa Indonesia sebetulnya bisa mencontoh negara-negara lain dalam penanganan Covid-19 yang saat ini sudah menjadi pandemi.

Dia mengatakan bahwa di negara-negara maju seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan Singapura yang kotanya menerapkan teknologi properti berkonsep kota pintar dengan basis data yang cukup canggih dinilai bisa menekan korban kasus corona sehingga relatif tak naik secara signifikan.

Hal ini lantaran penerapan teknologi properti di dalam kota pintar dinilai akan memudahkan pemerintah untuk mengatasi bencana wabah corona.

“Itu adalah keuntungan karena mereka siap menghadapi pandemi corona sebab bisa mendeteksi pergerakan orang. Itulah mengapa cepat sekali meminimalisir korban,” katanya seperti dilansir di Bisnis, Kamis (2/4/2020).

Rusmin yang juga Wakil Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) itu menyatakan bahwa penerapan teknologi properti di tengah kondisi saat ini sangat dibutuhkan.

“Justru teknologi itu diuji kehebatannya supaya bagaimana bisa menjawab tantangan [akibat] virus corona itu, termasuk proptech dan database seperti bagaimana sekarang orang kerja dari rumah tanpa harus mengurangi kualitas kerjanya. Jadi, teknologi kuncinya,” tuturnya.

Sayangnya, Rusmin menyebut bahwa penerapan teknologi properti di Indonesia masih minim. Untuk itu, dia mendorong agar pemerintah dalam hal ini Kominfo dan Bappenas perlu mempersiapkan cetak biru (blue print) mengingat perkembangan teknologi juga membutuhkan big data.

Menurutnya, big data di Indonesia saat ini belum mencapai sinkronisasi atau jauh dari kata standar. Selain percepatan infrastruktur, pemerintah juga harus mendorong standardisasi data agar bisa mengembangkan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

“Termasuk nantinya kita bisa menghadapi pandemi seperti corona, kita bisa lebih siap dengan proptech, juga mencegah munculnya problem baru,” tuturnya.

Selain percepatan infrastruktur dan standardisasi data, industri teknologi properti juga dinilai membutuhkan insentif kepada para perusahaan rintisan yang bergerak di sektor ini.

Pemerintah dalam hal ini bisa mencontoh Malaysia dan Singapura yang sangat aktif menyalurkan insentif pada perusahaan rintisan untuk pengembangan ekonomi digitalnya.