Berbagai Stimulus Ekonomi dan Program Promosi Gairahkan Sektor Properti pada 2021

Rentfix.com – Meskipun pandemi Covid-19 masih melanda Indonesia, sektor properti diprediksi akan lebih bergairah pada 2021 dibandingkan tahun sebelumnya. Prediksi tersebut didukung kebijakan baru pemerintah Indonesia di sektor properti. Pemerintah mengeluarkan insentif pajak pertambahan nilai (PPN) untuk pembelian rumah tapak dan rumah susun sampai harga Rp 5 miliar.

Untuk rumah seharga Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar, pemerintah menanggung separuh biaya PPN pembelian. Sementara itu, rumah dengan harga di bawah Rp 2 miliar, PPN-nya ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Selain insentif pajak, pada 2021, pemerintah juga menjadikan infrastruktur sebagai ujung tombak transformasi perekonomian nasional. Anggaran yang disiapkan di sektor ini pun terbilang bombastis, yakni mencapai Rp 413,8 triliun.

Anggaran tersebut naik 47,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 281,1 triliun setelah mengalami penyesuaian terkait situasi pandemi. Tak hanya itu, Bank Indonesia (BI) juga merilis aturan baru terkait uang muka 0 persen untuk pembelian properti secara kredit dan menurunkan suku bunga acuan.

Dari sisi pengembang, sejumlah promosi pun dijalankan untuk mendorong dan memudahkan masyarakat membeli properti impian. Sinar Mas Land, misalnya, meluncurkan program nasional 2021 dengan tajuk Wish for Home yang berlaku untuk proyek-proyek Sinar Mas Land di berbagai wilayah Indonesia. Berbagai keringanan pembayaran pun diberikan Sinar Mas Land, baik untuk pembelian tunai maupun kredit kepemilikan rumah (KPR) express.

Managing Director Sinar Mas Land Alim Gunadi mengatakan, periode program Wish for Home dimulai dari 6 Maret hingga 31 Desember 2021. Selama jangka waktu tersebut, Wish for Home terbagi menjadi tiga periode, yakni 6 Maret-30 Juni, 1 Juli-30 September, dan 1 Oktober-31 Desember 2021. “Dari ketiga waktu tersebut, periode pertama menjadi periode yang memberikan promo paling tinggi. Promo yang ditawarkan pun akan semakin berkurang pada periode selanjutnya,” ujar Alim dalam keterangan resmi seperti di lansir dari Kompas.com, Kamis (25/3/2021).

Untuk pembelian pada periode pertama, lanjutnya, konsumen akan memperoleh keringanan pembiayaan hingga 15 persen, insentif huni sampai 10 persen untuk pembelian dengan tunai atau subsidi uang muka (down payment), subsidi bunga, serta bebas Bea Perolehan Hak atas Tanah, Bangunan (BPHTB), dan biaya pengalihan satu kali.

“Untuk pembelian beberapa produk pun diberikan tambahan diskon, seperti keringanan pembelian produk properti sebesar 1 persen untuk konsumen setia Sinar Mas Land yang sebelumnya telah melakukan transaksi pada program Move in Quickly tahun lalu,” beber Alim.

Pilihan apartemen ikonik di Jakarta Pada tahun ini, terdapat beberapa tipe produk yang ditawarkan Sinar Mas Land, yakni rumah ready stock dan under construction, kavling, ruko, kios, serta apartemen. Untuk tipe apartemen, misalnya, Sinar Mas Land memiliki daftar apartemen unggulan dengan lokasi strategis di berbagai kota, salah satunya di Jakarta. “Di Jakarta, terdapat tiga apartemen yang saat ini bisa Anda miliki dengan berbagai keunggulan dan karakteristiknya masing-masing, mulai dari The Elements, Aerium, hingga Southgate,” kata Alim.

Pilihan apartemen ikonik di Jakarta

Pada tahun ini, terdapat beberapa tipe produk yang ditawarkan Sinar Mas Land, yakni rumah ready stock dan under construction, kavling, ruko, kios, serta apartemen. Untuk tipe apartemen, misalnya, Sinar Mas Land memiliki daftar apartemen unggulan dengan lokasi strategis di berbagai kota, salah satunya di Jakarta.

“Di Jakarta, terdapat tiga apartemen yang saat ini bisa Anda miliki dengan berbagai keunggulan dan karakteristiknya masing-masing, mulai dari The Elements, Aerium, hingga Southgate,” kata Alim.

1. The Elements Pertama, The Elements.

Apartemen ini dikhususkan bagi Anda yang ingin memiliki hunian mewah dan elegan dengan menawarkan luxurious living sebagai esensi gaya hidup modern di Jakarta. Dari segi konsep, The Elements mengusung tema the pinnacle of harmony dengan nuansa nyaman, mewah, elegan, dan digabungkan dengan kemudahan aksesibilitas serta fasilitas berkelas.

The Elements mengusung tema the pinnacle of harmony dengan nuansa nyaman, mewah, elegan, dan digabungkan dengan kemudahan aksesibilitas serta fasilitas berkelas.

Apartemen The Elements terletak di kawasan segitiga emas Kuningan yang terintegrasi dengan Epicentrum Walk. Apartemen ini dikelilingi berbagai pusat bisnis di jantung Kota Jakarta, seperti Bundaran HI, Plaza Indonesia, Semanggi, Mega Kuningan, dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).

2. Aerium

Selanjutnya, apartemen Aerium. Apartemen ini terletak di Taman Permata Buana, Kembangan, Jakarta Barat. Dengan lokasi yang terbilang strategis, Anda bisa mencapai Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR), Bandar Udara Soekarno Hatta, dan kawasan CBD Jakarta Barat dengan mudah.

Apartemen Aerium dikeliling berbagai fasilitas umum berkelas dan eksklusif, seperti tempat perbelanjaan, universitas, sekolah internasional, dan rumah sakit.

3. Southgate

Terakhir, apartemen Southgate. Apartemen ini mengusung konsep green living dengan mixed use development yang mengintegrasikan hunian apartemen, shopping mall, dan office tower dalam satu area.   Southgate dihadirkan dengan perpaduan kemewahan hidup perkotaan dan keasrian alam hijau.

Dengan begitu, Anda bisa mendapatkan berbagai fasilitas modern dan mewah untuk mendukung gaya hidup perkotaan masa kini sambil menikmati kenyamanan dan ketenangan alam.

Southgate memiliki tiga tower, yaitu Altuera, Elegance, dan Prime. Masing-masing tower tersebut menawarkan unit dengan karakteristik berbeda. Altuera menawarkan konsep desain modern untuk gaya hidup yang efisien.

Lalu, Elegance menawarkan konsep green living dengan kombinasi kemewahan, kenyamanan, dan harmoni. Sementara, Prime didesain dengan mengadopsi model apartemen ala Jepang yang menawarkan konsep luxury.

Pemerintah Diskon PPN Rumah, Kadin: Bisa Jadi Motor Pemulihan Ekonomi

Rentfix.com – Pemerintah memberikan insentif di sektor properti berupa keringanan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) atas rumah tapak dan rumah susun (rusun). Dengan kebijakan itu, maka pemerintah menanggung PPN atas rumah tapak dan rusun selama enam bulan yaitu sejak Maret hingga Agustus 2021.

Properti yang seluruh PPN-nya Ditanggung Pemerintah (DTP) merupakan rumah tapak dan rumah susun dengan harga jual maksimal Rp 2 miliar. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan hal itu dalam keterangan pers secara virtual, Senin (1/3/2021).

“Untuk PPN atas penyerahan rumah tapak dan rumah susun ini ditanggung pemerintah selama enam bulan atau efektif berlaku sejak 1 Maret hingga 30 Agustus 2021,” tegas Airlangga.

Tak hanya menanggung PPN 100 persen yang terutang atas penyerahan rumah tapak dan rumah susun dengan harga jual paling tinggi Rp 2 miliar, Pemerintah juga memberikan insentif untuk rumah dengan harga di atas Rp 2 miliar hingga maksimal Rp 5 miliar. PPN DTP yang terutang atas penyerahan rumah tapak atau rumah susun dengan harga jual sebesar itu diberikan hanya 50 persen.

Alasan diberikannya insentif untuk sektor properti yang meliputi real estat dan konstruksi dikarenakan sektor ini memiliki kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Kebijakan ini pun direspon positif oleh Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Bidang Properti Hendro Gondokusumo. “Semoga insentif ini bisa cepat kita implementasikan sehingga memberikan hasil nyata dalam 6 bulan ke depan,” tutur Hendro kepada Kompas.com, Rabu (3/3/2021).

Hendro berharap, insentif ini dapat menggerakkan sektor properti agar bisa menjadi motor pemulihan ekonomi. Hal ini bermanfaat untuk menggerakkan 175 industri turunan properti, 350 jenis Usaha Mikro Kecil dan Menengah ( UMKM), serta 30 jutaan tenaga kerja.

“Mari kita semua berkolaborasi dan bergerak bersama untuk menyukseskan program pemerintah guna memperluas investasi, memudahkan usaha, serta menciptakan lapangan kerja,” tutup Hendro.

Empat Pengembang Berpeluang Catat Pertumbuhan Sales Tahun Ini, Pakuwon Memimpin 35 Persen

Rentfix.com – PT Sinarmas Sekuritas memprediksi kinerja sektor properti berpeluang mengalami perbaikan signifikan pada tahun ini. Hal itu terjadi karena adanya sejumlah relaksasi yang diberikan oleh Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah untuk mendorong tumbuhnya sektor tersebut.

Equity Analyst Sinarmas Sekuritas Andrianto Saputra mengatakan sejumlah kebijakan yang menjadi katalis bagus untuk mendorong pulihnya sektor properti meliputi suku bunga rendah, DP 0 persen, dan Omnibus Law yang memperbolehkan kepemilikan apartmen oleh orang asing.

“Termasuk juga adanya rencana pemberian insentif fiskal berupa pembebasan tarif PPh final atas sewa tanah dan bangunan,” kata Andrianto dalam keterangan yang dikutip Kompas.com, Minggu (28/02/2021).

Andrianto juga menyebutkan berdasarkan riset yang dilakukan PT Sinarmas Sekuritas, kebijakan yang ada saat ini akan mampu mengkerek penjualan saham emiten properti.

PT Bumi Serpong Damai Tbk ( BSDE), PT Ciputra Development Tbk ( CTRA), PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), dan PT Summarecon Agung tbk (SMRA) berpeluang membukukan sales yang bagus tahun 2021 ini.

Untuk saham emiten BSDE dan CTRA pertumbuhan penjualannya didorong oleh katalis positif dari kebijakan DP 0 persen dan suku bunga rendah dengan penjualan rumah tapak atau landed house.

Sedangkan untuk PWON dan SMRA katalis positifnya adalah relaksasi dari UU Cipta Kerja yang mengizinkan Warga Negara Asing memiliki apartemen di Indonesia.

Andrianto memprediksi pertumbuhan prapenjualan emiten properti PWON 35 persen, CTRA 7 persen, BSDE 4,6 persen, dan SMRA sebesar 4,1 persen.

Sedangkan untuk target harganya BSDE Rp 1.500, CTRA Rp 1.150, SMRA Rp 1.100 dan PWON Rp 650. Sebelumnya diberitakan, di tengah lesunya daya beli konsumen akibat pandemi Covid-19, BI telah memangkas suku bunga acuan menjadi 3,5 persen pada pekan lalu.

Terhitung sejak Februari 2020 lalu, BI telah menurunkan bunga sebanyak enam kali dari semula 4,75 persen pada Februari 2020 menjadi 3,5 persen pada Februari 2021. 

Selanjutnya setelah penurunan bunga, pemerintah menetapkan uang muka atau down payment (DP) kendaraan dan rumah sebesar 0 persen pada Maret mendatang.

Serta relaksasi pajak PPnBM untuk kendaraan sebesar 0 persen. Relaksasi tersebut diberikan untuk memacu pertumbuhan, terdorong kenaikan penjualan kendaraan dan properti. Dilansir dari Kompas.com

Simak! Properti 2021 Bangkit, Ini Alasan & Syaratnya

Rentfix.comSektor properti di Indonesia diproyeksikan akan bangkit setelah pandemi usai. CEO Rentfix.com Effendy Tanuwidjaja mengatakan hal ini dikarenakan Indonesia akan mengalami bonus demografi terutama untuk usia produktif sehingga menjadi peluang sektor properti bangkit.

“Untuk siap bangkit memang perlu dipersiapkan ekosistem digital yang kuat terutama untuk sektor properti antara pemilik, pengembang, dengan konsumen,” ujarnya dalam pembukaan acara pameran virtual yang digelar portal jual beli dan sewa properti itu pada Kamis (17/12/2020).

Menurutnya, saat ini ada mismatch yaitu properti hunian di pasaran tak terserap maksimal di masyarakat. Pasalnya, harga yang ditawarkan properti tersebut cukup tinggi dan jauh dari kemampuan masyarakat.

“Proyek perumahan semestinya memiliki harga maupun secara fasilitas yang tepat sasaran sesuai dengan kemampuan dan keinginan membeli,” ucapnya.

Oleh sebab itu, diperlukan peran penggabungan untuk sebuah ekosistem dengan menggunakan teknologi sebagai jembatan. “Ini akan membantu pemerintah, pengembang, bank, dan masyarakat. Untuk membeli rumah yang dihadapi ini harga dan fasilitas pasar,” ucap Effendy.

Rentfix sendiri melakukan terobosan untuk menawarkan konsumen dalam menyediakan kebutuhan properti baik apartemen, rumah, perkantoran maupun pergudangan secara digital atau menggunakan teknologi.

Menurutnya, sektor properti tergolong lambat dalam bertransformasi digital selama 10 tahun terakhir. Selama ini platform yang ada hanya bisa melihat iklan properti lalu transaksi dan viewing unit dilakukan secara offline.

“Ini fokusnya kebanyakan jual beli properti second. Kami hadir secara online dengan menawarkan properti jual beli, sewa menyewa properti yang bisa juga dicicil maupun dibayar sekaligus secara digital,” ucapnya seperti dilansir dari Bisnis.com.

Adapun properti yang disewakan Rentfix seperti gudang dan perkantoran, tak seluruhnya harus disewa. Konsumen pun bisa sharing economy dengan tak menyewa seluruhnya.

“Gudang-gudang bisa disewakan per 60 meter  per bulan. Ini sharing economy baru gudang-gudang kosong ini tanpa harus menyewakan full, tetapi secara parsial kepada tiga hingga enam penyewa yang dapat menggunakan tempat itu bersama. Ini dampak positif sektor properti,” tuturnya.

Pandemi, lanjutnya, sangat berdampak positif bagi penggunaan teknologi digital dimana saat ini apapun dilalukan menggunakan digital. Hal ini tentu berdampak pada sektor properti yang perlahan mulai berubah ke arah digital yakni dengan pameran virtual dan show unit secara virtual.

“Sebelum pandemi, minat pemilik properti untuk bekerja sama dengan kami sedikit, dari 10 presentasi hanya satu atau dua mitra yang berminat. Adanya pandemi membuat sekarang [dari 10 presentasi] empat sampai lima mitra minat untuk bergabung dengan kami,” lanjutnya.

Jika Sektor Properti Pulih, Perekonomian Nasional Bangkit

Rentfix.com – Sektor properti disebut bisa menggerakkan perekonomian di Indonesia. Ini karena, sektor properti memilik dampak langsung ke 177 industri turunan lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Pahala N Mansury dalam seminar daring yang diselenggarakan pada Rabu (29/7/2020).

“Sektor properti, terutama perumahan dapat menjadi salah satu andalan untuk bisa menggerakkan perekonomian Indonesia ke depannya,” ujar Pahala.

Pahala melanjutkan, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia selama beberapa bulan terakhir turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Salah satu indikatornya terlihat dari penurunan kegiatan ekonomi di sektor real estat. Ini terlihat dari pertumbuhan sektor perumahan pada kuartal I-2020 mengalami pelambatan bila dibandingkan dengan kuartal I-2019.

“Yaitu sebesar 3,8 persen dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I-2019 yang tumbuh mencapai 5,4 persen,” kata Pahala. Besarnya pengaruh industri ini juga disampaikan oleh Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida.

Dia mengungkapkan, selama pandemi, sebanyak 4,1 juta karyawan dari total 30 juta orang dirumahkan. “Kalau sekarang kita tidak mendapatkan stimulus di sini, properti juga enggak jalan, industri lain kayak semen juga enggak jalan,” tutur Totok.

Oleh karenanya, Pemerintah menggelontorkan berbagai stimulus selama pandemi. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, selama pandemi, Pemerintah telah memberikan berbagai stimulus.

“Pemerintah mendesain apa yang disebut dengan program pemulihan ekonomi nasional,” kata Suahasil. Salah satu manfaat yang bisa dirasakan di sektor perumahan adalah subsidi bunga kepada debitur KPR sampai dengan tipe 70.

“Artinya teman-teman yang memiliki KPR 70 seyogyanya nama dan nasabahnya tercatat di OJK. Lalu OJK akan menginformasikan ke Kemenkeu dan akan bekerja sama dengan bank penyalur untuk menghitung besarnya subsidi bunga yang bisa diberikan kepada nasabah,” ucap Suahasil.

Sementara khusus di sektor perumahan, Pemerintah juga memberikan tambahan stimulus pembiayaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Stimulus tersebut berupa berupa pengalokasian dana untuk Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan tetap melaksanakaan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Selain itu, ada pula Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Berbagai upaya ini diharapkan dapat mendongkrak ekonomi nasional serta mengakselerasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional. “Saya berharap dengan sektor perumahan meningkat, properti meningkat, konstruksi membaik lalu 170 industri turunan dari properti kemudian bisa menggeliat,” kata dia.

Sektor Properti Sumbang Perekonomian Jakarta Rp 32,3 Triliun

Rentfix.com – Direktur Eksekutif Jakarta Property Institute Wendy Haryanto mengatakan sektor properti berkontribusi signifikan dalam pertumbuhan perekonomian.

Di Jakarta saja, sektor yang melibatkan sekitar 177 industri ini menyumbang sekitar Rp 32,3 triliun atau 17,61 persen pada tahun 2019. Rinciannya Rp 14,8 triliun atau 23,9 persen berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), dan Rp 17,5 triliun atau 28,3 persen berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA).

Pada 2018, sektor properti juga menyerap tenaga kerja di Jakarta sebanyak 425.000 orang. Dengan kontribusi sebesar itu, sudah selayaknya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memulihkan perekonomian yang terpuruk akibat Pandemi Covid-19, melalui sektor properti yang terdiri dari konstruksi dan  real estate ini.

“Sektor properti menjadi salah satu solusi dengan pengaruh yang signifikan untuk membangkitkan perekonomian,” kata Executive Director Jakarta Property Institute Wendy Haryanto dalam konferensi virtual, seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (9/7/2020).

Menurut Wendy, langkah pemulihan aktivitas perekonomian yang kondusif setelah dicabutnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) bisa dimulai dengan pemberian fleksibilitas bagi developer yang siap membangun dalam tiga tahun mendatang.

Dia mengungkapkan, fleksibilitas penting diberikan, sebab pandemi Covid-19 telah membuat developer yang sudah memiliki rencana pengembangan memilih untuk menghentikan kegiatannya.

Kebijakan pemberian fleksibilitas tersebut bisa berupa diskresi gubernur yang mengizinkan penambahan intensitas bangunan dari nilai yang tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2014 tentang Rencana Detail Tata Ruang dan Peraturan Zonasi.

Untuk pelaku usaha atau developer, penambahan intensitas bangunan berarti tambahan ruang usaha. Sedangkan bagi pemerintah, kebijakan tersebut akan menggerakkan perekonomian dan menghasilkan pajak bagi daerah.

Sementara dari sisi perpajakan, Wendy mengapresiasi kebijakan Pemerintah DKI Jakarta yang memberi keringanan berupa diskon Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Namun, menurut dia, diperlukan inovasi kebijakan yang mampu membuat efek perbaikan ekonomi dalam jangka yang lebih panjang.

Sebab, krisis yang ditimbulkan oleh pandemi pada perekonomian saat ini belum mencapai titik terendahnya. Senada dengan Wendy, Adjunct Associate Professor SBM ITB Aries Firman mengatakan industri sektor properti memiliki peran penting dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat.

Sektor ini memiliki keterkaitan langsung dengan sektor lainnya seperti manufaktur dan jasa-jasa yang mencakup backward dan forward linkages. Keterkaitan tersebut akan menimbulkan efek berganda pada perekonomian. “Akan ada multiplier effect yang menjadi akselerator sistem perekonomian daerah dan nasional,” kata dia.

Pandemi juga mendorong sektor properti untuk mengkaji ulang semua proses yang membutuhkan perbaikan yang berkelanjutan dari faktor internal maupun pengaruh eksternal. Pelaku usaha harus menemukan solusi untuk berbagai kendala bagi perkembangan industri ini.

Sementara Senior Advisor bidang Strategy & Transactions di Ernst & Young Bernardus Djonoputro berpendapat disrupsi akibat pandemi Covid-19 membuat pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus berfokus pada tiga hal sesuai survei Ernst & Young di 136 negara.

Ketiganya yakni pengendalian darurat pandemi, persiapan penurunan ekonomi global, dan penyiapan stimulus. “Industri properti, termasuk di dalamnya real estate dan konstruksi serta seluruh rantai pasoknya menjadi sektor penting dalam menggerakkan ekonomi pasca-pandemi,” kata Bernardus.

Sebagai sektor penghela pertumbuhan ekonomi, Bernardus mengatakan pandemi Covid-19 mengubah pola bisnis properti dan konstruksi dunia. Pandemi pun mengubah pola hidup dan ekspektasi masyarakat. “Industri ini akan berubah pula sesuai perubahan tren di masyarakat,” tuntas dia.

“New Normal”, Keseimbangan, dan Sinyal Kebangkitan Properti

Rentfix.com – Tak dimungkiri Pandemi Covid-19 telah memengaruhi sektor properti secara luas. Perkantoran, pusat perbelanjaan, apartemen, perumahan, perhotelan, dan kawasan industri mengalami kontraksi, setelah perlambatan dalam tiga tahun terakhir. Fakta global menunjukkan, perkantoran adalah sub-sektor properti yang terdampak paling parah selain perhotelan.

Kinerja tingkat hunian dan permintaan terus menurun drastis. Sebut saja Singapura yang hanya tumbuh 3,6 persen pada 2019, setelah merosot cukup dalam 22,2 persen pada tahun sebelumnya. Krisis Covid-19 menjadikan perkantoran Singapura makin terpuruk.

Sementara Kuala Lumpur, meski terjadi ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan, masih sedikit lebih baik dengan tingkat hunian relatif stabil. Namun, kondisi memburuk setelah dihantam krisis ini.

Bagaimana dengan Jakarta? Jika Pandemi Covid-19 tak kunjung teratasi, stagnasi bakal terus terjadi. Bukan tanpa alasan, ada sejumlah variabel yang menunjukkan stagnasi ini. Selain faktor eksternal turunnya ekonomi dunia, faktor internal juga berdampak signifikan, yakni keterlambatan transaksi yang diprediksi akan mengarah pada koreksi pertumbuhan.

Termasuk potensi hilangnya sektor ekonomi yang tidak beroperasi di Jakarta, dengan perhitungan sekitar Rp 100 triliun hingga Rp 150 triliun. Alhasil, tingkat kekosongan terus meluas hingga mencapai 23,8 persen atau 1,6 juta meter persegi menurut studi Knight Frank, dan sekitar 25 persen atau 1,65 juta meter persegi menurut riset Savills Indonesia. Sebagian besar pasokan ruang-ruang perkantoran tersebut merupakan Grade B dan Grade C sebagai tandem menurunnya sewa ruang Grade A.

Director Business Development Knight Frank Indonesia Martin Wijaya menuturkan, secara indikatif, kondisi jalan di tempat akan terus berlanjut, dan mungkin cenderung terus merosot. “Hal ini terkait dengan kemampuan finansial perusahaan penyewa atau tenant sejauh mana mereka dapat bertahan, serta seberapa jauh pemilik gedung dapat mengakomodasi kebutuhan dan kesulitan para penyewa,” ujar Martin seperti dilansir dari Kompas.com, Jumat (15/5/2020).

New Normal di Kantor, Apa yang Harus Dilakukan Manajemen?

Relokasi merupakan jalan terakhir yang bisa ditempuh para penyewa, meski hal ini juga tidak direkomendasikan untuk dilakukan pada saat Pandemi Covid-19. Para penyewa akan berpikir ketimbang harus membayar ongkos operasional sementara pemasukan berkurang, karena kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Oleh karena itu, Knight Frak merekomendasikan sejumlah langkah strategis yang dapat dijalankan oleh kedua pihak baik pengelola dan pemilik gedung maupun perusahaan penyewa. Ada tiga tahapan, yakni Periode I saat Pandemi Covid-19, Periode II penerapan social and physycal distancing atau protokol baru yang mengakomodasi kebiasaan baru (new normal), dan Periode III adalah restrukturisasi bisnis.

Rekomendasi ini, menurut Associate Director Research Knight Frank Indonesia Donan Aditria, terangkum setelah studi yang dilakukan selama dua bulan terakhir sejak Pandemi Covid-19 mulai memasuki Indonesia.

“Dari studi ini, kami melihat tren relokasi memang belum ada. Mereka memilih untuk menunda atau wait and see, hingga kondisi normal kembali baru memutuskan langkah strategis ke depan,” kata Donan.  Kompromi, imbuh dia, bisa menjadi langkah paling realistis yang dapat ditempuh baik oleh perusahaan penyewa maupun pemilik atau pengelola gedung perkantoran.

Caranya, dengan melakukan negosiasi ulang dengan pemilik dan pengelola gedung jika mengalami kesulitan keuangan untuk term jangka waktu pembayaran. Atau bisa juga dengan meminta diskon pembayaran.

Renegosiasi

Associate Director Property & Engineering Services Knight Frank Indonesia Lioni Sugiarto menambahkan, bagi penyewa lama, melakukan kalibrasi ulang sistem kerja dan tenaga kerja dapat dilakukan demi menyelamatkan investasi. “Sistem kerja dan tenaga kerja merupakan investasi terbesar perusahaan,” ucap Lioni.

Jika perlu, perusahaan dapat mengubah ukuran, melakukan renegosiasi kontrak sewa, menerapkan fleksibilitas sistem kerja dan tentu saja secara profesional mengimplementasikan sanksi dan implikasi terhadap karyawan. Sementara untuk penyewa baru, perencanaan strategis tempat kerja adalah hal utama. Hal ini menyangkut operational head cost.

Hal ini karena kebiasaan baru atau new normal  di sektor perkantoran akan terjadi secara masif. Para pengelola atau manajemen gedung perkantoran, perusahaan penyewa, dan karyawannya harus terbiasa hidup dalam kebiasaan baru.

Untuk pengelola dan pemilik gedung, harus memperhatikan faktor Teknologi informasi (TI) yang diterjemahkan ke dalam kemudahan mendapatkan dan mengelola informasi adalah kebutuhan utama dalam menghadapi new normal ini.

Terlebih lagi, sebelumnya masyarakat sudah akrab dengan pola kerja dari rumah atau work from home, yang membutuhkan internet of things (IoT) dengan kecepatan tinggi dan segala kemudahan lainnya.

Selain itu, pengelola gedung perlu membuat perencanaan strategis di tempat kerja, termasuk memutuskan jumlah dan karyawan divisi mana yang harus mendatangi kantor hanya untuk keperluan penting. “Di sini, kantor digunakan hanya sebagai ‘pilihan’ untuk memenuhi keperluan yang sangat penting.

Maka dari itu, perlu peran TI untuk mendukung kerja jarak jauh,” kata Lioni. Satu hal menarik adalah resizing ruang perkantoran. Resizing di sini bukan berarti memperkecil ruang perkantoran yang disewa, melainkan mengubah fungsi, tata letak, dan keutamaan (vitalitas), dengan penekanan pada efisiensi dan efektivitas.

Pada akhirnya, lanjut Lioni, pengelola dan pemilik gedung harus berorientasi pada kepentingan penyewa. Mereka harus memahami penyewa melalui pendekatan dan diskusi. Bahwa sejatinya ada peluang dan tantangan yang sama besar untuk menemukan penyewa pengganti.

“Itu tidak mudah. Untuk gedung Grade Premium dan Grade A mungkin akan bisa mengatasi, karena sebagian besar penyewanya merupakan multi national company (MNC), sebaliknya bagi Grade B dan C, mungkin menghadapi kesulitan yang amat rumit,” ungkap dia.

Keseimbangan Baru

Kondisi new normal saat enam bulan berikutnya yakni Semester II hingga beberapa tahun ke depan akan melahirkan kebutuhan smart and green building. Selain itu, Senior Advisor Research Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat mengungkapkan, bangunan kantor yang hijau dan cerdas ini akan menjadi bagian dari protokol baru yang terkait dengan kesehatan, kebersihan, dan pelestarian lingkungan.

Smart and green building akan menjadi new normal  itu sendiri,” imbuh Syarifah. Safety protocol yang digencarkan pada Semester I atau periode perdana Pandemi Covid-19, akan terus diterapkan pada periode selanjutnya. 

Pelonggaran PSBB di Jakarta setelah 22 Mei, menurut Syarifah, menjadikan kebiasaan baru sebagai pilihan wajib untuk beradaptasi di area perkantoran. Selama periode transformasi ini, penggunaan masker, pemeriksaan suhu tubuh, kebijakan meja bersih, jarak fisik, pemeriksaan kesehatan rutin, menghindari keramaian di ruang publik termasuk pantry, dan ruang rapat harus dilakukan.

Jika seluruh stake holders di bisnis perkantoran menjalankan langkah-langkah tersebut, bukan tidak mungkin perbaikan akan terjadi pada pertengahan Semester II-2020. Apalagi jika pemilik atau pengelola gedung dan perusahaan penyewa sama-sama memahami kondisi untuk membuat kesepakatan baru, maka akan tercapai keseimbangan atau balancing.

Keseimbangan ini tidak hanya terjadi antara kedua pihak, melainkan memengaruhi ekosistem bisnis perkantoran secara komprehensif. Pertumbuhan harga pun akan kembali normal, dan tidak tertekan lagi meskipun pada periode selanjutnya terdapat 1 juta meter persegi ruang perkantoran baru.

Keseimbangan akan terjadi secara natural, kembali pada prinsip permintaan, penawaran, dan pertumbuhan harga yang wajar dan diterima pasar. “Dan jika keseimbangan ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin kebangkitan perkantoran dan sektor properti secara luas akan terjadi lebih cepat,” tuntas Martin.

Kadin, Apindo, dan REI Desak Pemerintah Perhatikan Sektor Properti

Retfix.com – Di tengah tekanan Pandemi Covid-19, para pengembang berupaya untuk mempertahankan kelangsungan usaha beserta nasib jutaan pekerja di sektor properti dan industri ikutannya. Oleh karena itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Asosiasi Pengusaha Indonesia ( Apindo), dan Real Estat Indonesia ( REI) mendesak Pemerintah untuk lebih memperhatikan sektor properti. Desakan ini bulan tanpa alasan.

Menurut Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti Hendro Gondokusumo, dalam situasi pandemi saat ini pergerakan sektor properti dalam negeri perlu dioptimalkan. Hendro menuturkan, industri properti Indonesia memiliki kandungan lokal sebanyak 90 persen, dengan angka terbanyak merupakan pengembangan rumah sederhana.

“Sekarang saatnya untuk memaksimalkan potensi lokal. Ini sangat strategis untuk menggerakkan perekonomian kita,” ungkap Hendro dalam Konferensi Pers yang dilaksanakan secara virtual, Kamis (14/5/2020).

Menurut Hendro, kedudukan sektor properti sangat berkaitan erat dengan 175 industri lainnya yang bergerak dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung. “Industri properti memiliki pangsa permintaan akhir 33,9 persen sehingga ini yang menjadikan industri properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional,” imbuh Hendro.

Menurutnya, angka ini menunjukkan efek domino yang tinggi, apabila sektor properti dapat diperhatikan pemerintah. Sementara Ketua Bidang Properti Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sanny Iskandar mengatakan, keberlangsungan usaha properti dalam kondisi pandemik juga akan sangat berimbas pada persoalan ketenagakerjaan.

Berdasarkan hasil kajian terbatas Kadin, Apindo dan REI, jika industri properti dan industri ikutannya terganggu, maka sekitar 30 juta pekerja akan terdampak.  “Belum lagi ditambah dengan sektor informal yang juga ikut terdampak seperti sewa kontrakan dan warung-warung untuk para pekerja lapangan,” kata Sanny seperti dilansir dari Kompas.com.

Di sisi lain, industri properti Indonesia dinilai masih memiliki peluang untuk berkembang jika diberikan porsi yang seimbang oleh pemerintah. Porsi seimbang yang dimaksud oleh Kadin, Apindo dan REI adalah kebijakan yang terintegrasi untuk pendanaan, perizinan dan pertanahan, perpajakan, kepemilikan properti, dan lain sebagainya.

“Jadi kita semua harus berupaya agar industri properti ini jangan sampai terganggu karena ada 30 jutaan pekerja yang berpotensi terdampak. Ini kan jumlah yang sangat besar dan tidak main-main,” ujar Sanny. Selain itu, kontribusi sektor properti Indonesia terhadap PDB masih kecil dibandingkan dengan negara-negara di ASEAN.

Kontribusi properti nasional terhadap PDB pada Tahun 2019 adalah sebesar 2,77 persen, sementara Thailand bisa mencapai 8,3 persen, Malaysia 20,53 persen, Filipina 21,09 persen dan Singapura 23,34 persen. Menurut Sanny, dengan kontribusi PDB yang masih kecil saja sektor properti nasional memiliki pengaruh yang demikian besar untuk industri ikutannya.

“Kami harapkan ke depan sektor ini mendapat perhatian lebih, apalagi berkaitan langsung tidak hanya dengan karyawan saja, tetapi dampaknya juga langsung bersentuhan dengan rakyat terutama kaitannya dengan perumahan,” tuntas dia.

Live Instagram: Perkembangan Sektor Properti di Kala Pandemi

Rentfix.com – Sektor properti tidak lepas dari dampak penyebaran wabah virus corona di Indonesia, Deputy Director Utilization Property I LMAN, Yanuar Utomo, bersama Rentfix akan membahas perkembangan sektor properti di Indonesia saat pandemi.

Kami akan mengulas bagaimana perkembangan sektor properti, peran dan cara menyiasati, dan strategi mengoptimalkan aset properti negara serta harapan besar LMAN pasca situasi pandemi.

Seperti apa Bapak Yanuar Utomo melihat dampak wabah corona bagi pertumbuhan sektor properti? Selengkapnya saksikan dialog Rentfix dengan Deputy Director Utilization Property I LMAN, Yanuar Utomo, dalam Live Instagram Rentfix (Rabu, 06/052020).