Tren Pencarian Tanah Melonjak 60 Persen Selama “New Normal”

Rentfix.com – Tren pencarian tanah mengalami peningkatan signifikan selama masa  new normal diberlakukan. Menurut riset yang dilakukan 99 Group dalam kurun Mei- Juni 2020, pencarian tanah melalui portal properti yang dikelola 99 Group naik tajam sebesar 60 persen.

Hal ini sejalan dengan tren pencarian rumah tapak atau landed house yang masih menjadi primadona pencarian di antara tipe properti lainnya. “Perubahan positif terjadi dari April ke Mei 2020.

Kami menemukan kenaikan pencarian sebesar 60 persen. Sementara itu pada Juni, kenaikan masih terjadi sebesar 50 persen,” tutur Country Manager 99 Group Indonesia Maria Herawati Manik dalam konferensi virtual seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (16/7/2020).

Sayangnya, peningkatan pencarian ini tidak dibarengi dengan suplai tanah yang mengalami penurunan drastis sejak kurun Januari-Februari 2020 sebesar 90 persen. Penurunan terus berlanjut hingga Februari-Maret sebesar 28 persen.

Sementara untuk permintaan dan suplai harga properti saat new normal, riset 99 Group menunjukkan tidak ada perubahan fundamental. Properti dengan harga kurang dari Rp 300 juta paling banyak dicari, yaitu sebesar 30 persen.

Sementara itu dari sisi suplai, properti dengan harga Rp 2 miliar-Rp 5 miliar paling mendominasi dengan angka 22,5 persen. “Berdasarkan riset pasar, tercatat bahwa tren suplai dan pencarian mengalami peningkatan konstan pada Mei ke Juni 2020. Hal ini menunjukkan bahwa asa terhadap sektor properti kian membaik,” ungkap Maria.

Oleh karena itu, Maria memastikan, bahwa Juni 2020 merupakan momentum kenaikan permintaan dan suplai properti. Sedangkan untuk lokasi properti yang paling banyak diincar pada masa normal baru adalah kawasan Jakarta Selatan dengan angka 19,5 persen. Disusul Tangerang 16,5 persen, Bandung 15,2 persen, Jakarta Barat 9,4 persen, dan Jakarta Timur 8,9 persen.

Tips Praktis bagi Arsitek Hadapi Era “New Normal”

Rentfix.com – Selama masa pandemi, seluruh sektor perekonomian terdampak. Bahkan dunia desain dan arsitektur pun tak luput terkena imbasnya. Setelah melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna mengatasi pandemi, pemerintah menggaungkan wacana normal baru atau new normal.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan pernyataan bahwa masyarakat Indonesia harus hidup dan berdamai dengan Covid-19. Terkait hal ini, arsitek serta Editor in Chief Arsitag Evan Kriswandi membagikan rekomendasi yang bisa diimplementasikan oleh para arsitek, desainer, maupun praktisi desain dalam menghadapi era kenormalan baru.

Meningkatkan profil digital Kondisi normal baru mempercepat digitalisasi dalam segala hal, tak terkecuali dunia arsitektur dan desain. Evan menyarankan, arsitek dan desainer perlu untuk lebih hadir secara digital.

Caranya adalah dengan memiliki profil digital untuk memajang portofolio dan profil. Fase new normal menuntut adanya peruubahan ini. Evan menambahkan, dunia digital nantinya akan menjadi tempat utama calon klien mencari atau berkenalan dengan arsitek atau desainer pilihannya.

Kembali belajar

Evan menuturkan, arsitektur dan desain adalah keahlian yang tidak pernh berhenti berevolusi. Oleh karenanya, arsitek dan desainer dituntut untuk selalu belajar. “Masalahnya, profesi ini telah terkenal menuntut terlalu banyak waktu sehingga tidak ada lagi waktu tersisa untuk menimba ilmu kembali,” ucap Evan seperti dilansir dari Kompas.com, Senin (8/6/2020).

Untuk itu dia menyarankan, apabila pandemi membuat proyek menjadi terhambat dan mulai memiliki waktu luang, maka arsitek dan desainer bisa menggunakannya untuk memperkaya ilmu.

Dia mengatakan, saat ini banyak sumber dari universitas terkemuka di dunia yang menawarkan kuliah daring gratis. Seperti The University of Sydney, Harvard Graduate School of Design, Massachusetts Institute of Technology (MIT), hingga Princeton University. Bahkan kanal Netflix juga menyediakan siaran edukasi khusus desain bertajuk Abstract The Art f Design.

Berorganisasi

Evan menyarankan agar arsitek dan desainer menyisihkan waktu untuk berorganisasi. Bagi profesi arsitek, organisasi memiliki peran besar untuk keberhasilan jangka panjang.

Selain itu, berorganisasi juga bisa memperkaya pengetahuan, menambah dukugan moral, serta memperluas pertemanan. Dengan beroganisasi, arsitek dan desainer bisa menjalin kerja sama dengan rekan seprofesi bahkan menciptakan peluang-peluang baru.

Untuk arsitek, mereka bisa bergabung dengan Ikatan Arsitek Indonesia serta Himpunan Desainer Interior bagi desainer. “Arsitek dan desainer bisa saling berbagi dalam event-event online, mengikuti perkembangan desain terkini, berkompetisi dalam sayembara, saling mendukung, dan tentu saja tidak menutup peluang untuk berkolaborasi,” tutur dia.

Jangan malu merambah bisnis lain

Arsitektur dan desain adalah sebuah teknik pemecahan masalah atau problem solving.  Oleh karenanya, apabila bisnis bila bisnis arsitektur dan desain tersendat, tidak ada salahnya arsitek dan desainer juga menjajaki bisnis lain untuk mendukung kondisi finansialnya.

“Temukan masalah yang ada dalam kondisi saat ini dan rancang solusi yang bisa dijual secara online,” tutur Evan. Dengan demikian, dibanding menunggu proyek datang, arsitek dan desainer bisa membuat proyek atau bisnis sendiri.

Bisnis ini bisa dirintis dengan skala kecil sembari memperhatikan perkembangannya. Evan berpesan, arsitek dan desainer tidak perlu gengsi untuk merambah ke bisnis lain.

“Ada banyak sekali kisah pebisnis yang sukses lantaran latar belakang keilmuan arsitektur dan desain yang membekali mereka dengan problem solving mindset, higher order thinking, dan atensi terhadap detail,” pungkas dia.

Apa Perbedaan Berkomunikasi Virtual di Negara Maju dan Negara Berkembang?

Rentfix.com – Hampir seluruh negara di dunia saat ini sedang berhadapan dengan krisis pandemi Covid-19. Akibatnya, banyak orang tidak bisa bepergian seperti biasa dan harus lebih banyak berada di rumah agar tetap aman.

Imbauan untuk tetap berada di dalam rumah itu pun membuat banyak orang harus melakukan sebagian aktivitas secara virtual.

Untungnya, di zaman digital banyak teknologi pendukung untuk menyokong aktivitas tersebut. Ingin belajar tanpa harus pergi ke sekolah? Tenang, karena kegiatan belajar mengajar bisa dilakukan secara online dengan bantuan platform pendidikan.

Lalu, bagaimana dengan para pekerja yang harus datang ke kantor? Jangan risau, karena saat ini beberapa pekerjaan bisa dilakukan secara remote tanpa kehadiran diri di kantor.

“Hal yang terpenting adalah komunikasi. Ini menjadi kunci agar aktivitas yang kita lakukan di era new normal sepenuhnya berjalan lancar,” jelas Pemimpin Redaksi Kompas TV Rosianna Silalahi, Jumat (12/6/2020).

Hal tersebut ia sampaikan saat memberikan pelatihan soft skills online dalam Leadership Development Series untuk Beswan Djarum (sebutan bagi para penerima program Djarum Beasiswa Plus dari Djarum Foundation) angkatan 2019/2020.

Dalam kelas tersebut, Rosi membawakan tema “Berkomunikasi di New Normal: Building Trust in Virtual Communication”. Ia memaparkan tentang perbedaan tantangan berkomunikasi virtual di negara maju dan negara berkembang.

Berkomunikasi virtual di negara maju

Pada kesempatan itu, perempuan yang akrab disapa Rosi ini memaparkan sebuah data riset yang dilakukan Buffer, perusahaan penyedia layanan internet asal Amerika. Riset tersebut mendapati fakta unik terkait fenomena work from home ( WFH) selama era new normal.

“Tercatat sekitar 98 persen koresponden bersedia untuk bekerja remote dalam beberapa waktu untuk sepanjang kariernya. Ini menandakan bahwa banyak orang yang suka bekerja dari rumah,” ujar Rosi. Dari 98 persen tersebut, 32 persen koresponden mengaku saat bekerja di rumah mereka memiliki waktu yang lebih fleksibel.

Kemudian, 26 persen di antaranya senang bekerja remote karena dapat bekerja di lokasi mana saja. Ya, asal ada internet dan laptop bekerja di mana saja tidak menjadi masalah.

Selanjutnya, 21 persen sisanya beranggapan bahwa bekerja remote tidak mengharuskan mereka bepergian (commute) sehingga lebih hemat waktu dan hemat energi.

Namun, lanjut Rosi, koresponden riset tersebut sebagian besar berasal dari negara maju yang memiliki infrastruktur internet lebih canggih. Jadi, kendala eksternal seperti gangguan internet mungkin akan jarang terjadi.

Berkomunikasi virtual di negara berkembang

Menurut Rosi, hasil riset Buffer tersebut tentu akan berbeda jika dilakukan di negara berkembang, seperti Indonesia. Pasalnya, koneksi internet di Indonesia yang masih tidak terlalu mumpuni kerap menjadi tantangan bagi orang Indonesia saat berkomunikasi virtual.

Melansir penelitian terakhir yang dilakukan WebsiteToolTester (11/2019), Indonesia bahkan berada di posisi ke-92 dari total 207 negara dengan kecepatan rata-rata hanya 6,65 Mbps.

Berbeda dengan negara maju di Asia lainnya seperti Taiwan di posisi pertama (85,02 Mbps), Singapura di posisi ke-2 (70,86 Mbps), dan Jepang di posisi ke-6 dunia (42,77 Mbps).

Kendala ini pun merembet ke kualitas komunikasi virtual yang tidak terlalu apik. Mulai dari masalah buffer saat menonton video pembelajaran, interaksi yang terlambat (delay), audio feedback, hingga lag yang menyebabkan komunikasi tidak berjalan maksimal saat melakukan conference call.

“Mau tidak mau, untuk mengatasi masalah ini Anda harus menggunakan provider internet yang mumpuni,” jelas Rosi. Selain jaringan internet, situasi tempat tinggal juga dapat menjadi gangguan komunikasi virtual di Indonesia.

Alasannya, lanjut Rosi, masyarakat Indonesia masih banyak yang tinggal dengan keluarga besar dan sulit mencari ketenangan saat sedang berkomunikasi virtual Oleh karena itu, sebelum memulai meeting virtual Anda harus mengomunikasikannya kepada orang rumah agar mereka bisa memahami tugas yang hendak Anda lakukan.

“Pilih pula lokasi yang agak hening, bisa di pojok ruangan atau kamar pribadi. Namun, sebelum memulai meeting virtual singkirkan terlebih dahulu barang-barang yang sifatnya privasi agar Anda tetap tampak profesional,” ujar Rosi.

Tak hanya itu, Rosi mengatakan, dalam komunikasi virtual, blocking adalah sesuatu yang juga harus diperhatikan. Ini akan membuat tubuh pembicara terlihat jelas. Caranya, sesuaikan jarak kamera dengan diri Anda seukuran medium close up.

“Berikan jarak kosong di atas kepala (headroom) Anda. Lalu, berikan pula jarak di sebelah kiri dan kanan tubuh agar Anda bisa menggerakkan tangan saat berbicara,” jelas perempuan yang juga pernah mengisi kelas untuk pelatihan Beswan Djarum angkatan sebelumnya. Namun, tambahnya, jangan terlalu banyak bergerak agar tidak mengganggu visual lawan bicara.

Sebab, transmisi jaringan internet memerlukan beberapa waktu agar terkirim sepenuhnya. Dengan demikian, tantangan untuk berkomunikasi virtual tidak akan menjadi hambatan yang berarti. Hal terpenting adalah fokus dalam menemukan solusi dan Anda akan tetap bisa melakukan komunikasi digital dengan lancar seperti dilansir dari Kompas.com.

Era New Normal, Fungsi Rumah Tak Lagi Hanya sebagai Tempat Tinggal

Rentfix.com – Sejak virus corona mewabah, fungsi rumah tak lagi sekadar tempat tinggal, tapi juga untuk tempat bekerja hingga belajar. Hal itu terjadi menyusul diberlakukannya kebijakan karantina mandiri oleh pemerintah guna mencegah penularan Covid-19.

Bahkan, meski saat ini pemerintah telah melonggarkan beberapa pembatasan dan masyarakat tengah menjalani fase kehidupan new normal, keadaan tak akan sepenuhnya sama seperti sebelum pandemi. Sebagai contoh, sektor bisnis yang sudah kembali beroperasi sejak minggu pertama bulan Juni.

Kewajiban mematuhi protokol physical distancing membuat perusahaan harus membatasi jumlah karyawan yang masuk. Ini artinya, kegiatan work from office belum sepenuhnya berjalan dan kebijakan work from home untuk beberapa perusahaan masih akan berlanjut.

Begitu pula dengan sektor pendidikan yang menerapkan sistem belajar dari rumah. Untuk hal ini, belum ada kabar kapan sekolah atau kampus akan dibuka lagi.

Berkaca dari situasi tersebut, tak sedikit orang mulai berpikir untuk mencari hunian yang tak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tapi juga mampu menunjang produktivitas, kesehatan, dan kesenangan penghuninya. Berikut merupakan prediksi hunian masa depan yang diungkapkan sejumlah desainer interior dalam Architectural Digest, Jumat (22/5/2020).

Kembali ke gaya tradisional

Rumah bergaya modern dengan konsep open space (denah terbuka) memang populer karena berbagai pertimbangan. Salah satunya, memberi kesan lebih luas. Namun, di masa pandemi, hunian seperti itu mungkin akan ditinggalkan.

Konsep rumah masa depan bakal kembali ke desain tradisional dengan denah ruang yang terdefinisikan secara jelas dari segi fungsinya. Misalnya, kamar hanya untuk tidur, bukan untuk bekerja. “Keuntungan rumah berkonsep tradisional adalah memungkinkan adanya demarkasi yang berbeda antara rumah dan kehidupan kerja,” kata desainer interior asal New York, Amerika Serikat, Daun Curry.

Punya banyak ruang

Kembalinya tren hunian bergaya tradisional sekaligus mengartikan bahwa rumah nantinya akan memiliki ruang lebih banyak, terutama bagi pasangan yang memiliki anak. Hal tersebut perlu dipertimbangkan mengingat kegiatan work from home diprediksi akan menjadi kenormalan di kemudian hari.

“Konsep denah terbuka mungkin tidak bekerja dengan baik jika lebih dari satu orang bekerja dari rumah atau jika anak-anak berisik sehingga konsep ini dapat disempurnakan dengan partisi untuk mendedikasikan ruang bekerja atau kantor di rumah,” ucap Kepala Sekolah William Duff Architects, Jim Westover.

Menunjang work from home

Selain kembali pada konsep tradisional, prediksi hunian ke depan diharapkan mampu menunjang produktivitas orang-orang yang bekerja dari rumah. Sebut saja bisa menempatkan peralatan kantor macam meja dan kursi yang sesuai.

“Ketimbang bekerja di ruang makan atau ruang keluarga bersama anak-anak, memiliki ruang kerja sendiri jauh lebih baik karena seseorang bisa produktif selayaknya saat ia berada di kantor,” kata arsitek asal San Francisco, Andrew Mann.

Punya area untuk olahraga

Seperti diketahui, pembatasan sosial akibat wabah virus corona juga berdampak pada ditutupnya sejumlah ruang terbuka hijau dan tempat-tempat kebugaran. Alhasil, kegiatan olahraga pun hanya bisa dilakukan dari rumah.

Selain itu, mengingat olahraga menjadi salah satu cara menjaga kesehatan di tengah pandemi, tak sedikit orang yang melakukan aktivitas ini hampir setiap hari.

Westover kembali mengatakan, gym di rumah kini nyaris sama pentingnya dengan kantor di rumah. Apalagi, kesadaran orang akan kesehatan semakin tumbuh. Karena itu, rumah-rumah masa depan diprediksi akan memiliki area khusus untuk berolahraga.

Memiliki area terbuka berkonsep alfresco

Akses udara segar menjadi kebutuhan penting. Maka dari itu, hunian yang memiliki area terbuka berkonsep alfresco juga diprediksi akan menjadi salah satu tren rumah masa depan karena mampu meningkatkan kenyamanan penghuninya.

Alfresco sendiri berasal dari bahasa Italia yang berarti di luar ruangan. Contohnya, balkon, teras, taman, atau halaman belakang dengan rumput hijau yang dapat difungsikan sebagai tempat rekreasi, berolahraga, atau area bersantai minum kopi.

Di Indonesia sendiri, sejumlah pengembang properti sebenarnya sudah menyediakan hunian berkonsep seperti yang disebutkan pada poin-poin di atas. Sebut saja Sinar Mas Land dengan beberapa contoh klaster hunian, seperti The Mozia – Amarine, Greenwich Park – Caelus, Greenwich Park – Whelford, dan Nashville.

Mengusung konsep tropical urban living, produk hunian dari Sinar Mas Land tersebut akan membuat penghuninya merasakan hidup di lingkungan asri. Hal itu dilihat dari desain jendela dan pintu yang berukuran besar sehingga sirkulasi udara menjadi lancar dan memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam rumah. Nuansa hijau pun mendominasi lingkungan sekitar hunian seperti dilansir dari Kompas.com.

Properti Sewa Mulai Menggeliat di Tengah New Normal

Rentfix.com – Bisnis properti sewa lambat laun mulai kembali menggeliat menyusul adanya pelonggaran pembatasan sosial dan jelang penerapan kenormalan baru atau new normal.

Perusahaan marketplace properti Rentfix.com mencatat kenaikan 15 persen. Direktur Rentfix Effendy Tanuwidjaja mengatakan pihaknya mencatat adanya kenaikan di segmen tertentu seperti ruang sewa perkantoran yang sebelumnya mengalami tekanan hebat karena adanya anjuran bekerja dari rumah atau work from home.

Kenaikan properti sewa terutama terjadi pada saat pembatasan sosial berskala besar transisi di DKI Jakarta diterapkan.

“Dengan mulainya masyarakat maupun perusahaan mulai menghadapi era new normal, ada permintaan sewa yang mulai meningkat. Selama dua minggu terakhir saat kita memasuki PSBB transisi, ada peningkatan permintaan sewa kurang lebih 15 persen dari masa PSBB, namun masih pada level di bawah normal sebelum ada pandemi,” katanya seperti dilansir dari Bisnis, Kamis (18/6/2020).

Effendy mengatakan bahwa segmen pergudangan masih menjadi permintaan tertinggi untuk sewa, atau masih sama seperti pada masa PSBB seiring dengan semakin berkembangnya retail online.

Sementara itu, untuk sewa perkantoran dan tempat usaha, katanya, secara kesuluruhan mulai mengalami peningkatan meskipun kecil lantaran adanya kebutuhan sementara untuk ruang kantor tambahan guna mengakomodasi kebutuhan tempat kerja yang menerapkan jaga jarak minimal.

“Contohnya di daerah Jakarta Barat, ada beberapa perusahaan yang membutuhkan sewa kantor selama 6 bulan ke depan karena kantor pusatnya tidak bisa lagi menampung full team dalam satu kantor, maka memiliki kantor fleksibel selama new normal,” katanya.

Selain itu, Effendy menambahkan bahwa ada juga tren baru yang menerapkan kerja dekat rumah. Bila tadinya pegawai tersebut kerja di rumah karena corona, akan tetapi sekarang perusahaan memilih untuk tempat kerja tersebar berdasarkan jarak dekat tempat tinggal karyawan tersebut.

Ke depan, pihaknya tetap optimis bahwa bisnis ini terus tumbuh seiring dengan pendekatan digital. Digitalisasi ruang dan tempat, sewa menyewa seperti pelayanan customer, pembayaran, maupun perjanjian digital dinilai makin penting.

“Kami tetap bekerja keras untuk meyakinkan para stakeholder sektor properti Indonesia bahwa dengan sewa fleksibel dan proses digital akan menciptakan peluang baru di sektor properti yang memerlukan inovasi baru,” tuturnya.

Ini Kriteria Hunian yang Dicari Konsumen Saat “New Normal”

Rentfix.com – Pengembang properti nampaknya telah melihat tren pergeseran minat konsumen dalam mencari hunian yang tepat pasca mewabahnya Covid-19. Menurut CEO AKR Land Development Thomas Go, konsumen yang saat ini mencari hunian akan mempertimbangkan properti bebas risiko (risk free product).

“Kalau kami perhatikan sekarang, pelanggan akan mempertimbangkan produk yang bebas risiko atau sudah jadi dan siap huni,” kata Thomas dalam konferensi virtual, seperti dilansir dari Kompas.com, Kamis (18/6/2020).

Thomas melanjutkan, produk properti berisiko tinggi yang tidak akan dipilih konsumen adalah apartemen dan kondotel (kondominium-hotel) yang baru rilis atau diperkenalkan kepada publik.

Alasannya, konsumen akan mempertanyakan kepastian jadwal selesainya pembangunan dan serah terima kedua jenis hunian tersebut. Konsumen pun pada akhirnya lebih memilih hunian yang sudah rampung dan siap huni atau ready stock. Selain itu, konsumen juga akan mempertimbangkan harga jual lebih selektif dan dan se dengan kemampuan finansialnya.

Segmen konsumen rumah pertama (end-user) kelas menengah akan mencari hunian dengan harga Rp 10 juta hingga 20 juta per meter persegi. Sementara pasar kelas menengah bawah akan memilih hunian dengan harga maksimal Rp 7 juta per meter persegi.

Adapun untuk konsumen yang berniat menyewakan propertinya tentu akan mempertimbangkan capital gain setidaknya 7 persen. Maka dari itu, Thomas memastikan, apartemen dengan aksesibilitas bagus dan berada di pusat kota atau berlokasi strategis bakal dikejar konsumen.

Hal ini karena perjalanan menuju kantor atau tempat aktivitas sehari-hari akan lebih cepat dan efektif. “Apalagi kalau propertinya dekat akses transportasi publik, pasti dicari konsumen karena bisa menghemat ongkos transportasi,” imbuh dia.

Kriteria selanjutnya adalah properti yang dikelola secara higienis. Pengembang menerapkan protokol kesehatan secara ketat sehingga konsumen merasa aman, nyaman, dan tidak khawatir akan risiko tertular virus.

Panduan Lengkap Berangkat hingga Pulang Kerja di Era New Normal

Rentfix.com – Mulai Senin (8/6/2020), para pekerja di bidang-bidang yang diizinkan beroperasi dan para aparatur sipil negara (ASN) mulai kembali bekerja di kantor dengan penerapan new normal.

Penerapan new normal mengharuskan adanya praktik pencegahan penularan virus corona. Contohnya, di Provinsi DKI Jakarta, yang mengumumkan masa PSBB transisi pada 4 Juni 2020. Salah satu yang diatur adalah para pegawai dipersilakan kembali bekerja ke kantor, tetapi hanya 50 persen dari total keseluruhan.

Di tengah situasi pandemi virus corona ini, semua warga diingatkan untuk benar-benar menerapkan protokol pencegahan Covid-19. Perhatikan sejumlah panduan yang disarikan Kompas.com dari sejumlah lembaga pemerintah  sebagai panduan menjalankan aktivitas sesuai prinsip new normal, dari berangkat kerja hingga pulang kerja dan tiba di rumah.

Berangkat kerja

Berikut ini hal-hal yang perlu diperhatikan saat perjalanan dari atau ke tempat kerja yang kutip dari akun resmi BPOM:

  • Pastikan diri Anda dalam kondisi sehat
  • Selalu gunakan masker

Jika menggunakan transportasi umum, perhatikan hal-hal berikut:

  1. Kurangi menyentuh fasilitas umum
  2. Gunakan hand sanitizer
  3. Jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter
  4. Upayakan membayar non tunai
  5. Gunakan helm sendiri

Sesampainya di tempat kerja, bukan berarti sudah aman. Masih ada protokol kesehatan yang perlu ditaati, yaitu sebagai berikut:

  1. Saat tiba, segera mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
  2. Gunakan siku untuk menekan tombol lift dan membuka pintu
  3. Tidak berkerumun, jaga jarak
  4. Bersihkan meja/area kerja
  5. Kurangi menyentuh fasilitas/peralatan bersama
  6. Usahakan aliran udara dan sinar matahari masuk
  7. Biasakan tidak berjabat tangan
  8. Tetap gunakan masker selama berada di kantor.

Panduan Pulang Kerja

Sesampainya di rumah, jangan bersentuhan dengan anggota keluarga sebelum membersihkan diri. Pakaian dan masker perlu dicuci dengan detergen.

Jika Anda memakai masker sekali pakai, sobek dan basahi dengan disinfektan. Ponsel, kacamata, dan tas juga sebaiknya dibersihkan. Berikut panduan lengkap sepulang kerja di era normal baru menurut Kemnaker:

  1. Lepas dan simpan sepatu di luar rumah
  2. Cuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir
  3. Minta anggota keluarga membuka pintu, jaga jarak, dan jangan sentuh dia
  4. Letakkan kunci, dompet, dan tas di tempat yang disiapkan
  5. Bersihkan permukaan benda yang dibawa dari luar dengan disinfektan
  6. Mandi sebelum berinteraksi dengan keluarga
  7. Cuci langsung pakaian yang kotor dan masker kain dengan detergen.

Sementara itu, untuk menjaga kesehatan, Anda perlu meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Selain itu, lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, istirahat cukup (tidur minimal 7 jam), dan berjemur di pagi hari.

Kementerian Kesehatan mengingatkan, keluarga memiliki peran penting untuk mengingatkan kebiasaan-kebiasaan baru di era new normal ini.

New Normal Berdampak Positif untuk Sektor Perumahan

Rentfix.com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) menyatakan optimistis adanya kondisi new normal akan berdampak positif pada program sejuta rumah (PSR).

Direktur Jenderal Perumahan, Kempupera Khalawi Abdul hamid, menyatakan, Kempupera akan mendorong sejumlah program padat karya di sektor perumahan untuk memacu pergerakan ekonomi dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat terdampak Covid-19.

“Kami berharap, new normal membuat pelaksanaan pembangunan perumahan dapat berjalan kembali,” ujar Khalawi Abdul Hamid seperti dilansir dari Berita Satu, Minggu (31/5/2020).

Khalawi mengatakan, untuk mendukung pelaksanaan new normal di sektor perumahan, Ditjen Perumahan akan mengoptimalkan program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) dan bantuan prasarana, sarana dan utilitas (PSU) untuk perumahan bersubsidi.

“Program padat karya bidang perumahan merupakan salah satu hal yang dapat membangkitkan era new normal di tengah masyarakat dan mendorong perputaran uang di masyarakat,” tandas Khalawi.

Normal Baru Diprediksi Katrol Program Sejuta Rumah

Rentfix.com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) optimistis kondisi tatanan baru atau new normal akan berdampak positif pada Program Sejuta Rumah.

Untuk itu, Kementerian PUPR akan mendorong sejumlah program padat karya di sektor perumahan melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dan pembangunan Prasarana, Saran dan Utilitas (PSU).

Hal ini dilakukan untuk memacu pergerakan perekonomian dan menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat terdampak Covid-19. Direktur Jenderal Perumahan Kementerian PUPR Khalawi Abdul hamid mengatakan, para ASN di Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian PUPR dan masyarakat akan beraktivitas seperti biasa dengan tatanan normal baru.

“Kami berharap dengan new normal ini pelaksanaan pembangunan perumahan dalam Program Sejuta Rumah dapat berjalan kembali,” ujarnya saat membuka kegiatan Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Penajaman Kegiatan Tahun Anggaran 2021 Ditjen Perumahan di Jakarta, Kamis, (28/5/2020).

Khalawi menambahkan, para pegawai Ditjen perumahan baik di pusat dan daerah akan mengikuti Standar Operasional Prosedur (SOP) dan protokol kesehatan dalam kegiatan new normal. Dengan demikian, segala kegiatan dan program Ditjen Perumahan dapat terus berjalan, sehingga target-target yang ditetapkan dapat tercapai.

“Kementerian PUPR telah mengeluarkan Instruksi Menteri PUPR dan Surat Edaran untuk pelaksanaan kegiatan perumahan di daerah,” terangnya. Untuk mendukung pelaksanaan new normal di sektor perumahan, imbuh Khalawi, Ditjen Perumahan akan mengoptimalkan Program Padat Karya.

Baik melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) maupun bantuan Prasarana, Sarana dan Utilitas (PSU) untuk perumahan bersubsidi. Program Padat Karya Bidang Perumahan berdasarkan arahan Presiden dalam masa pandemi ini merupakan salah satu hal yang dapat menjaga daya beli, dan perputaran uang di masyarakat.

Program bantuan PSU dipadatkaryakan mengacu protokol Covid-19 dengan maksimal satu kelompok kerja lima orang. Mitra kerja seperti pengembang siap untuk membantu pemerintah dengan memberikan lapangan kerja dan menampung masyarakat yang kena PHK agar bisa jadi tenaga padat karya.

Ditjen Perumahan juga berharap ke Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) Penyediaan Perumahan di setiap provinsi juga dapat mengoptimalkan peran Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL).

Tak hanya itu, Khalawi juga berharap SNVT dapat berkoordinasi dengan Gugus Tugas Covid-19 di daerah masing-masing sehingga pengawasan teknis dan kesehatan para petugas tetap terjaga dengan baik.

Untuk diketahui, BSPS dengan total bantuan Peningkatan Kualitas Rumah Swadaya dikucurkan senilai Rp 17,5 juta dan Pembangunan Baru (PB) Rp 35 juta dengan pola padat karya. Pemilik rumah atau penerima bantuan bisa mendapatkan upah untuk menambah penghasilannya.

“Sedangkan dalam program pembangunan PSU pengembang dapat melibatkan masyarakat untuk bekerja dalam pelaksanaan pembangunan,” tuntas Khalawi.

Indonesia Menyongsong Fase New Normal

Rentfix.com – Pemerintah meminta masyarakat “berdamai” dengan Covid-19 dengan menggaungkan apa yang disebut sebagai new normal atau pola hidup baru. New normal adalah pola hidup baru yang ditandai dengan penyesuaian perilaku di tengah pandemi Covid-19 dengan cara menjalankan protokol kesehatan dalam aktivitas keseharian.

Protokol kesehatan tersebut antara lain selalu menjaga kebersihan tangan dengan cara mencuci tangan atau menggunakan hand sanitizer, menggunakan masker saat keluar rumah, physical distancing atau menjaga jarak dengan orang lain minimal satu meter, serta menjaga kesehatan dengan asupan gizi seimbang dan berolahraga.

Pemerintah kini bahkan tengah menyiapkan protokol untuk mengatur new normal. Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Muhadjir Effendy, usai rapat kabinet, seperti dilansir dari Kompas.com Senin (18/5/2020), mengatakan, protokol new normal tersebut akan mengatur mulai dari tata cara berkumpul di luar rumah, beribadah bersama-sama, hingga makan di restoran.

Konsep new normal sendiri sejatinya adalah fase berikutnya yang harus dijalani oleh masyarakat ketika pembatasan mulai dikendurkan. New normal menjadi keniscayaan manakala pembatasan mulai ditinggalkan.

Dengan dilonggarkannya pembatasan, masyarakat akan mulai keluar rumah untuk menjalankan aktivitas. Dalam konteks ini, pola hidup baru harus dijalani hingga ditemukannya vaksin atau obat yang efektif.

Dalam unggahan Twitter-nya, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebutkan, salah satu yang harus diperhatikan pemerintah suatu negara atau wilayah untuk melonggarkan pembatasan terkait Covid-19 adalah mendidik, melibatkan, dan memberdayakan masyarakat untuk hidup di bawah new normal.

Hal lainnya yang harus diperhatikan tentunya landasan bagi keputusan pelonggaran itu sendiri. Meski memaklumi alasan ekonomi, WHO menyatakan keputusan pelonggaran seharusnya berlandaskan data valid (data driven) yang menunjukkan terjadinya penurunan laju penyebaran penyakit.

Keduanya memiliki hubungan kausalitas. Sebelum berbicara new normal, pemerintah seharusnya fokus untuk mampu mengendalikan penyebaran Covid-19.

Terlepas dari polemik apakah sudah saatnya pemerintah melonggarkan pembatasan atau PSBB, skenario new normal muncul sebagai perdebatan baru.

Rendahnya kesadaran masyarakat

Adalah rendahnya kesadaran masyarakat kita sendiri yang menjadi penyebab munculnya kekhawatiran new normal tak akan menjadi norma baru di tengah masyarakat, setidaknya tidak dalam waktu dekat. Masyarakat kita masih tak acuh dengan protokol kesehatan.

Hal ini jelas tampak dari berbagai kondisi terkini yang terjadi di berbagai daerah. Pasar, pertokoan, bandara, pelabuhan, hingga jalanan kembali disesaki warga tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Situasi ini berlangsung bahkan di saat PSBB masih diberlakukan.

Tenaga medis termasuk pihak yang gamang dengan skenario new normal. Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadilah, khawatir skenario new normal berpotensi menciptakan peningkatan kasus Covid-19 yang akan berimbas pada tenaga medis.

Pasalnya, tidak ada garansi new normal akan diimbangi dengan protokol kesehatan yang ketat sehingga berjalan optimal. Sebelumnya, kekecewaan tenaga medis terhadap rendahnya kesadaran masyarakat telah digaungkan melalui tagar “Indonesia Terserah” yang viral di media sosial.

Namun demikian, new normal tak semata soal kesadaran masyarakat untuk menerapkan protokol kesehatan dan pola hidup bersih dan sehat. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merilis enam panduan bagi negara-negara yang ingin beralih ke fase new normal yang semuanya menitikberatkan pada tanggung jawab penuh pemerintah.

Selain harus memiliki bukti bahwa penularan Covid-19 dapat dikendalikan, negara yang ingin menjalankan skenario new normal harus dipastikan sanggup melakukan tindakan seperti mendeteksi, mengisolasi, memeriksa, melacak orang-orang yang kemungkinan berhubungan dengan pasien; menekan penyebaran di lingkungan berisiko tinggi seperti rumah-rumah lansia hingga tempat-tempat berkerumun; mengukur sistem pencegahan di tempat-tempat kerja; menangani penularan kasus impor; hingga melibatkan aspirasi komunitas dan warga dalam transisi menuju new normal.