Sektor Perumahan Diyakini Mampu Pulihkan Ekonomi

Rentfix.com – Kolaborasi berbagai entitas keuangan dan perumahan diyakini dapat mengakselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang saat ini menjadi fokus pemerintah untuk menggerakkan ekonomi dalam negeri. Potensi dan daya ungkit dari dua sektor tersebut, dinilai sangat besar terhadap perekonomian nasional.

Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu), Suahasil Nazara, mengatakan, program PEN merupakan bagian dari kebijakan luar biasa yang ditempuh pemerintah untuk memitigasi dampak pandemi Covid-19.

Terutama, dampak terhadap ekonomi yang mengalami penurunan tajam akibat virus tersebut. Program PEN juga digelontorkan untuk industri perumahan mengingat dampak lanjutan yang besar dari akselerasi di sektor tersebut.

“Untuk itu, sektor perumahan perlu terus melakukan terobosan dan instrumen baru karena sektor ini punya multiplier effect terhadap 170 industri lainnya.

Kami harapkan dengan upaya tersebut dapat meningkatkan permintaan dari sektor lain sehingga mendorong pemulihan ekonomi,” jelas Suahasil dalam webinar bertajuk ‘Sinergi untuk Percepatan Pemulihan Sektor Perumahan‘ di Jakarta seperti dilansir dari Beritsatu, Rabu (29/7/2020).

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera), Eko D Heripoerwanto, menjelaskan, Kempupera telah menggelontorkan berbagai skema kredit pemilikan rumah (KPR) bersubsidi, seperti subsidi selisih bunga (SSB), fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP), dan bantuan pembiayaan perumahan berbasis tabungan (BP2BT).

“Skema tersebut diberikan untuk mendongkrak industri perumahan subsidi di tanah air. Kami meyakini langkah strategis tersebut, akan mempercepat pemulihan sektor perumahan yang juga akan berpengaruh pada ekonomi nasional,” kata Eko.

Hingga kini, pemerintah memang telah memberikan berbagai stimulus untuk mendongkrak sektor perumahan. Stimulus tersebut diberikan untuk menggarap angka backlog perumahan di Indonesia sekaligus mengakselerasi program PEN.

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, Pahala Nugraha Mansury, menjelaskan, sebagai salah satu entitas perbankan dalam ekosistem perumahan ini, adanya keberpihakan pemerintah mulai dari aturan hingga penempatan dana negara menjadi angin yang segar.

“Kredit yang di alirkan Bank BTN, juga memiliki dampak ekonomi jangka panjang. Sebab, kredit tersebut akan menjadi tempat tinggal yang dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tidak hanya itu, kredit yang disalurkan ke sektor perumahan pun akan memberikan multiplier effect terhadap sekitar 177 subsektor industri lainnya,” jelas Pahala.

Menurut Pahala, Bank BTN sendiri tercatat telah menerima dana negara sebesar Rp 5 triliun pada medio Juni 2020. Seluruh dana negara yang telah ditempatkan pemerintah tersebut, diprediksi akan terserap habis pada akhir Juli 2020. “Kami meyakini perseroan bisa menyalurkan total kredit sebesar Rp 15 triliun dari dana negara tersebut sebelum akhir September 2020,” tegasnya.

Pahala melanjutkan,hingga kini sektor perumahan di tanah air, baru memberikan kontribusi terhadap PDB Nasional sebesar 2,77 persen. Posisi tersebut jauh di bawah kontribusi properti di negara kawasan Asean lainnya yang berkisar 8 persen hingga 23 persen.

“Sehingga, kami berkomitmen akan terus mendukung pengembangan sektor perumahan. Apalagi di masa pandemi ini, rumah menjadi tempat berlindung paling aman bagi masyarakat Indonesia,” tandas Pahala.

Jika Sektor Properti Pulih, Perekonomian Nasional Bangkit

Rentfix.com – Sektor properti disebut bisa menggerakkan perekonomian di Indonesia. Ini karena, sektor properti memilik dampak langsung ke 177 industri turunan lainnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN Pahala N Mansury dalam seminar daring yang diselenggarakan pada Rabu (29/7/2020).

“Sektor properti, terutama perumahan dapat menjadi salah satu andalan untuk bisa menggerakkan perekonomian Indonesia ke depannya,” ujar Pahala.

Pahala melanjutkan, pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia selama beberapa bulan terakhir turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Salah satu indikatornya terlihat dari penurunan kegiatan ekonomi di sektor real estat. Ini terlihat dari pertumbuhan sektor perumahan pada kuartal I-2020 mengalami pelambatan bila dibandingkan dengan kuartal I-2019.

“Yaitu sebesar 3,8 persen dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan I-2019 yang tumbuh mencapai 5,4 persen,” kata Pahala. Besarnya pengaruh industri ini juga disampaikan oleh Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida.

Dia mengungkapkan, selama pandemi, sebanyak 4,1 juta karyawan dari total 30 juta orang dirumahkan. “Kalau sekarang kita tidak mendapatkan stimulus di sini, properti juga enggak jalan, industri lain kayak semen juga enggak jalan,” tutur Totok.

Oleh karenanya, Pemerintah menggelontorkan berbagai stimulus selama pandemi. Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, selama pandemi, Pemerintah telah memberikan berbagai stimulus.

“Pemerintah mendesain apa yang disebut dengan program pemulihan ekonomi nasional,” kata Suahasil. Salah satu manfaat yang bisa dirasakan di sektor perumahan adalah subsidi bunga kepada debitur KPR sampai dengan tipe 70.

“Artinya teman-teman yang memiliki KPR 70 seyogyanya nama dan nasabahnya tercatat di OJK. Lalu OJK akan menginformasikan ke Kemenkeu dan akan bekerja sama dengan bank penyalur untuk menghitung besarnya subsidi bunga yang bisa diberikan kepada nasabah,” ucap Suahasil.

Sementara khusus di sektor perumahan, Pemerintah juga memberikan tambahan stimulus pembiayaan perumahan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Stimulus tersebut berupa berupa pengalokasian dana untuk Subsidi Selisih Bunga (SSB) dan tetap melaksanakaan Subsidi Bantuan Uang Muka (SBUM) untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Selain itu, ada pula Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Berbagai upaya ini diharapkan dapat mendongkrak ekonomi nasional serta mengakselerasi Program Pemulihan Ekonomi Nasional. “Saya berharap dengan sektor perumahan meningkat, properti meningkat, konstruksi membaik lalu 170 industri turunan dari properti kemudian bisa menggeliat,” kata dia.

Jakarta Nomor 24 Dunia Pertumbuhan Harga Rumah Mewah

Rentfix.comJakarta masih menunjukkan potensi besar untuk perumahan mewah. Terbukti dari pertumbuhan harga residensial mewah di ibu kota Indonesia ini yang mencapai 3,9 persen pada 2019. Angka pertumbuhan ini menempatkan Jakarta di posisi ke-24 di antara 100 kota teratas dunia dalam indeks Prime International Residential Index (PIRI) keluaran Knight Frank.

Country Head Knight Frank Indonesia Willson Kalip mengatakan, pertumbuhan ini digrakkan oleh selesainya jalur moda raya terpadu atau MRT serta membaiknya sentimen setelah kontestasi politik pemilihan presiden pada pertengahan 2019.

Pengembangan infrastruktur ini, Willson menambahkan, membangkitkan optimisme tinggi bagi pasar residensial hanya di segmen premium, juga di segmen menengah ke bawah, dan potensi ultra high net worth individual (UHNWI) yang masih prospektif. Hal ini diharapkan berdampak positif pada kondisi pasar properti dan pertumbuhan ekonomi Nasional,” tutur Willson dalam riset yang dikutip Kompas.com, Selasa (17/3/2020).

Adapun dalam laporan PIRI 100, Knight Frank mencatat rata-rata pertumbuhan harga residensial premium tahun 2019 sebesar 1,8 persen, sementara tahun sebelumnya 1,3 persen. Di seluruh Asia Pasifik, rata-rata pertumbuhan harga tahunan di pasar primer adalah 3,1 persen, lebih tinggi dari 2,7 persen yang tercatat pada 2018. Terdapat empat negara Asia Pasifik yang berada di posisi 10 teratas yakni Taipei, Seoul, Manila, dan Guangzhou.

Berikut 25 besar kota dengan pertumbuhan hunian premium tertinggi di dunia:

  1. Frankfurt, Eropa, 10.3 persen
  2. Lisbon, Eropa, 9.6 persen
  3. Taipei, Asia, 8.9 persen
  4. Seoul, Asia, 7.6 persen
  5. Houston, Amerika Utara, 7.4 persen
  6. Athens, Eropa, 7.0 persen
  7. Mexico City, Amerika Latin, 6.6 persen
  8. Manila, Asia, 6.5 persen
  9. Berlin, Eropa, 6.5 persen
  10. Guangzhou, Asia, 6.3 persen
  11. Stockholm, Eropa, 5,2 persen
  12. Madrid, Eropa, 5,1 persen
  13. Aspen, Eropa, 5 persen
  14. British Virginia Island, Atlantik Utara, 5 persen
  15. Toronto, Amerika Utara, 4,9 persen
  16. Delhi, Asia, 4,7 persen
  17. Moskow, Eropa, 4,7 persen
  18. Zurich 4,5 persen
  19. Siprus, Eropa, 4,3 persen
  20. Paris, Eropa, 4,3 persen
  21. St Barts, Kepulauan Karibia, 4 persen
  22. Milan, Eropa, 4 persen
  23. Amsterdam, Eropa, 4 persen
  24. Jakarta, Asia, 3,9 persen
  25. Barcelona, Eropa, 3,8 persen