Masih Pandemi, Jaga Kesehatan Jadi Harga Mati

Rentfix.com – Hampir enam bulan virus corona mewabah di Indonesia dan belum ada tanda-tanda kondisi ini akan berakhir. Menurut data per Kamis (10/9/2020), angka positif Covid-19 mencapai 207.203 kasus dengan jumlah pasien sembuh sebanyak 147.510 orang dan total kematian 8.456 jiwa. Padahal, sehari sebelumnya, yakni Rabu (9/9/2020), kasus positif Covid-19 yang terkonfirmasi berjumlah 203.342 dengan total pasien sembuh mencapai 145.200 orang dan kematian sebanyak 8.336 jiwa.

Dengan demikian, pertambahan jumlah penderita Covid-19 dalam sehari mencapai 3.861 orang. Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan menjadi provinsi dengan kasus positif terbanyak di Indonesia. Lonjakan kasus positif Covid-19 di Tanah Air sendiri ditengarai karena masyarakat mulai abai menerapkan protokol kesehatan.

Hal ini menyusul pemberlakuan fase adaptasi kenormalan baru. Sebagian masyarakat menganggap penerapan fase tersebut merupakan fase kembali ke normal seperti sebelumnya. Padahal, Covid-19 belum sepenuhnya selesai. Oleh karena itu, pemerintah daerah seperti Jakarta menarik rem darurat dan kembali menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) secara ketat.

Menjaga kesehatan harga mati

Melihat fakta peningkatan kasus corona di Indonesia, urusan menjaga kesehatan menjadi hal yang tidak bisa ditawar lagi alias harga mati. Selain disiplin menjalani protokol kesehatan, upaya menjaga kesehatan juga bisa ditempuh lewat konsumsi makanan bergizi seimbang, istirahat cukup, olahraga, dan berjemur.

Khusus berjemur, kegiatan ini memang sudah menjadi kebiasaan masyarakat sejak awal pandemi. Pasalnya, tak sedikit ahli kesehatan menganjurkan masyarakat untuk melakukan aktivitas tersebut. Sinar ultraviolet (UV), khususnya UV B, berkontribusi bagi pembentukan vitamin D dalam tubuh. Menukil Kompas.com, Sabtu (25/7/2020), ahli Alergi Imunologi Anak Indonesia Prof Dr Budi Setiabudiawan dr SpA(K) mengatakan, vitamin D memiliki dua fungsi, yaitu klasik dan nonklasik. Fungsi klasik vitamin D, lanjut Budi, adalah memaksimalkan pembentukan tulang.

Sementara itu, fungsi nonklasik nutrisi ini adalah menjaga fungsi hemeostasis imunitas atau sistem kekebalan tubuh. ” Vitamin D ini dapat memodulasi sistem kekebalan tubuh alamiah dan adaptif sehingga membantu mengatur sistem kekebalan tubuh,” tambah Budi. Seperti diketahui, sistem imunitas yang kuat akan melindungi tubuh dari berbagai risiko penyakit, termasuk Covid-19.

Untuk mendapatkan manfaat dari vitamin D, Budi menganjurkan agar berjemur di waktu yang tepat. “Sinar UVB pada rentang waktu 10.00 hingga 15.00 dengan durasi 10-20 menit,” katanya.

Cara lain mendapatkan vitamin D

Secara teori, kebutuhan vitamin D dapat dipenuhi dengan mudah lewat aktivitas berjemur pada waktu yang sudah disebutkan oleh Budi. Sayangnya, tak semua orang punya kesempatan untuk berjemur. Meski demikian, masih ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tersebut, yakni lewat konsumsi makanan dan suplemen. Mengutip laman Healthline, setidaknya ada 10 makanan dengan kandungan vitamin D tinggi yang mudah dijumpai di pasaran.

Contohnya, salmon, sarden, tuna, minyak ikan kod, kuning telur, jamur, susu sapi, susu kedelai, jeruk, sereal, dan oatmeal. Untuk suplemen, menurut rilis Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) seperti yang dilansir dari Kompas.com, Selasa (9/6/2020), sebaiknya hanya dikonsumsi suplemen saat kebutuhan vitamin tidak terpenuhi lewat konsumsi makanan alami.

Guna berjaga-jaga, tak ada salahnya melengkapi kebutuhan harian dengan menyediakan suplemen vitamin D di rumah. Terlebih, saat ini suplemen vitamin D juga mudah didapat. Salah satunya Prove D3 dari Kalbe Farma. Prove D3 mengandung vitamin D3 (cholecalciferol) yang disesuaikan dengan kebutuhan harian anak-anak maupun orang dewasa. Jika ingin mengonsumsinya, perhatikan dulu kebutuhan harian sesuai usia. Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019, kebutuhan vitamin D tiap orang berbeda-beda. Bayi berusia di bawah satu tahun membutuhkan vitamin D sebesar 400 IU per hari.

Bayi berusia di atas satu tahun, remaja, dewasa, serta ibu hamil dan menyusui membutuhkan vitamin D lebih banyak, yakni 600 IU per hari. Untuk orang lanjut usia (lansia) atau di atas 65 tahun, kebutuhan vitamin D mereka mencapai 800 IU setiap harinya. Pada beberapa kondisi tertentu, misalnya defisiensi, kebutuhan vitamin D dapat ditingkatkan berdasarkan kebutuhan atau kadar vitamin D dalam darah. Seluruh kebutuhan harian tersebut dapat dipenuhi oleh suplemen Prove D3 yang tersedia dalam dua varian, yakni bentuk drops dengan kandungan vitamin D3 400 IU di tiap tetesnya dan tablet salut yang mengandung vitamin D3 mencapai 1.000 IU di tiap setrip.

Tak perlu khawatir dengan kandungan Prove D3. Pasalnya, suplemen ini bebas gluten, pewarna, dan alkohol, serta tidak berasa sehingga dapat dikonsumsi dengan cara dicampur ke dalam makanan atau minuman. Dengan begitu, Prove D3 dapat Anda andalkan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D harian, terlebih di masa pandemi ini. Untuk mendapatkan produk tersebut, silakan kunjungi tautan ini.

PSBB Berlaku Lagi, Simak Tips Desain Ruang Kerja di Rumah

Rentfix.com – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) mulai 14 September 2020. Hal ini dilakukan karena mempertimbangkan kasus positif Covid-19 di Jakarta terus mengalami peningkatan. 

Dengan demikian, seluruh kegiatan perkantoran non-esensial harus dilakukan dari rumah atau Work from Home ( WFH). Apakah Anda salah satu karyawan yang harus melakukan pekerjaan dari rumah? Coba terapkan tips ini ketika membuat ruang kerja di rumah.

Berikut ini empat tips tersebut:

1. Ketahui ruang yang tepat

Sebelum mendesain ruang kantor, Anda perlu menentukan tempat mana paling cocok untuk bekerja. Desainer Interior Next Wave Noz Nozawa mengatakan, membangun ruang kerja sangat penting dilakukan bersamaan dengan aktivitas di luar pekerjaan. 

Hal itu membuat Nozawa merasa nyaman karena bisa melakukan hal-hal secara bersamaan. Dalam hal ini, ia menentukan ruang bekerjanya di dalam kamar.  “Saya tidak memiliki kamar terpisah, sehingga meja (kerja) saya berada di tempat yang sama,” tuturnya seperti dilansir dari Kompas.com.

Oleh karena itu, ia menambahkan beberapa perabotan pendukung untuk bekerja seperti meja, kursi ergonomis, cangkir, bahkan peralatan tulis.

Menurut Nozawa, hal ini membuatnya tak terganggu dengan suara bising yang berasal dari dapur hingga membuat pekerjaannya selesai.

2. Jangan meletakkan kertas tak penting di meja kerja

Menurut Desainer Jenny Brown, penting agar Anda tak mencampur-adukkan masalah pekerjaan dengan pribadi. Hal ini tentu akan membuat Anda kehilangan konsentrasi. Oleh karena itu, hindari meletakkan barang-barang yang tak berhubungan dengan peralatan kerja kecuali yang membuat Anda nyaman. Sebagai contoh, jangan pernah meletakkan catatan tagihan telepon, listrik, atau biaya lainnya di meja kerja karena hal itu berpotensi membuat Anda stres dan tak nyaman.

3. Manfaatkan penyimpanan

Apakah pekerjaan Anda membutuhkan banyak peralatan kantor, seperti kertas, pensil, pulpen dan lain sebagainya? Cara terbaik untuk memastikan peralatan kantor menjadi terorganisasi adalah dengan menyiapkan banyak penyimpanan.

Tak perlu mahal, Anda bisa memanfaatkan keranjang atau tempat sampah yang harus ada di dekat meja kerja jika sudah tak digunakan kembali.

“Miliki keranjang atau tempat sampah atau tempat file di dekat meja Anda atau di permukaan keras di dekatnya untuk membantu menjaga dokumen tetap bagus dan rapi,” saran Lauren Clement dari Lauren Nicole Designs.

Dengan demikian, kata Clement, permukaan meja kerja yang bersih dan rapih tanpa sadar membuat Anda fokus pada pekerjaan yang dilakukan.

4. Hindari aksesori meja yang tak penting

Menurut Clement, ada beberapa hal tak penting berada di meja kerja yang membuat Anda tak fokus seperti aksesoris. Akesoris tak penting di meja kerja sebaiknya dihindari agar Anda bisa fokus dalam melakukan pekerjaan, terutama yang berpotensi membuat stres. Sebaiknya, tempatkan aksesoris yang perlu ada di meja kerja di rumah yang bisa membuat semangat yakni, foto atau vas bunga.

Setelah PSBB, Permintaan Rumah Subsidi Meningkat

Rentfix.com – Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk ( BTN) Pahala N Mansury menyatakan optimismenya terkait industri perumahan selama pandemi.

Meski permintaan rumah secara umum mengalami penurunan sekitar 20-30 persen, namun permintaan rumah subsidi, justru cukup tinggi.

“Kami melihat bahwa sebetulnya yang namanya sektor perumahan selain merupakan kebutuhan dasar, sehingga tentunya perkonomian dibuka, maka permintaan akan perumahan akan meningkat,” kata Pahala saat seminar daring sperti dilansir dari Kompas.com, Rabu (29/7/2020).

Hal ini terlihat sejak dilonggarkannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pada Bulan Juni 2020. Berdasarkan data BTN, pada Bulan Mei, jumlah aplikasi Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah subsidi yang masuk ke BTN mencapai 7.430.

Jumlah ini mengalami peningkatan hingga 75 persen pada Bulan Juni hingga mencapai 12.981. Pahala menuturkan, dari total jumlah aplikasi yang masuk ke BTN, pihaknya hanya dapat memberikan persetujuan sebanyak 6.100 pada Bulan Mei dan 8.700 pada bulan selanjutnya. “Sayangnya yang bisa diakadkan hanya sebesar 5.871,” ucap dia.

Pahala berharap, permintaan hunian bakal kembali pulih pada Bulan Juli dan Agustus. “Mudah-mudahan pada Bulan Agustus kondisi sudah pulih baik untuk KPR subsidi atau KPR non-subsidi,” tutur dia.