Memahami Hukum Sewa Menyewa Properti

Bisnis sewa-menyewa properti, kini menjadi salah satu bisnis andalan di sektor properti. Tidak saja kebutuhan properti yang begitu besar dalam pengembangan bisnis sebuah perusahaan, namun juga sewa-menyewa dalam bisnis properti memiliki banyak keuntungan dibanding jenis bisnis properti lainnya.

Agar semua berjalan lancar, ada baiknya kita mengetahui dengan benar kaitan hukum properti dalam hal sewa-menyewa. Setidaknya, dalam KUH Perdata Tentang Sewa Menyewa pada pasal 1548 – 1600 dijelaskan bahwa definisi perjanjian sewa- menyewa adalah terjadinya sebuah perjanjian. Dimana pihak pertama mengikatkan dirinya untuk memberikan kepada pihak lainnya suatu peminjaman dari sebuah barang selama waktu tertentu dengan pembayaran suatu harga yang telah disepakati bersama.

Kini, kita sudah dapat melihat dan menilai bahwa terjadinya transaksi sewa- menyewa, memang harus berdasarkan kesepakatan antara kedua belah pihak. Jika kesepakatan belum terwujud, maka bisa dikatakan perjanjian tersebut belum bisa direalisasikan. Pada akhirnya, muncul hak dan kewajiban dari masing-masing pihak yang melakukan kerjasama.

Pertama adalah hak dan kewajiban dari pemilik properti. Berdasarkan pada pasal 1550 KUH Perdata. Kewajiban tersebut diantarnya:

  1. Menyerahkan properti yang disewakan kepada pihak penyewa.
  2. Memelihara properti yang disewakan sedemikian rupa sehingga dapat di pakai dan di pergunakan untuk keperluan yang dimaksud.
  3. Memastikan ketentraman, kenyamanan, dan keamanan kepada penyewa properti.

Dari 3 hal yang menjadi kewajiban pemilik properti, masih terdapat lagi kewajiban yang mesti dipenuhi sebelum pihak penyewa menerima properti yang menjadi haknya. Hal itu sesuai dengan bunyi hukum yang mengatur bahwa pihak sewaan wajib menanggung semua cacat atau kerusakan properti yang disewakan. Meskipun, saat transaksi sewa-menyewa pihak penyewa belum mengetahui kerusakan atau cacat pada properti tersebut. Itu adalah bentuk tanggung jawab yang mesti dilakukan oleh pihak pemilik properti agar pihak penyewa merasa aman, nyaman dan tentram ketika menjalani sewa menyewa tersebut.

Namun di samping kewajiban yang mesti dipenuhi, pemilik propertipun memiliki hak yang dapat dijalankan selama masa perjanjian sewa menyewa tersebut masih berlangsung. Hal itu telah tercantum dalam KUH Perdata paada pasal 1548 yang isinya sebagai berikut :

  1. Menerima uang sewa sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan dalam perjanjian.
  2. Menegur atau memberikan peringatan kepada penyewa apabila penyewa tidak menjalankan kewajibannya dengan baik dan benar.
  3. Menuntut ganti kerugian atas properti yang disewakan jika penyewa merusak kondisi properti, sehingga hal itu tidak sesuai dengan tujuan penggunaan properti yang telah tercantum dalam perjanjian sewa.

Dari penjelasan di atas, kita bisa melihat bahwa agar transaksi bisa berjalan dengan lancar, sebaiknya kedua belah pihak memahami dan menjalankan apa yang sudah menjadi hak dan kewajibannya masing-masing. Di [Rentfix](https://www.rentfix.com/for-tenant), kami menyediakan fitur perjanjian digital sewa-menyewa, dimana users dapat hemat waktu dan biaya dengan perjanjian sewa-menyewa digital Rentfix yang sederhana dan gampang dipahami. Dengan mempelajari standar sewa-menyewa di Indonesia, perjanjian digital ini dirancang melingkupi syarat dan ketentuan yang penting untuk memberi Anda ketenangan sebelum melanjutkan serah-terima tempat.

Jakarta Masuk di “Top Asian Cities for Real Estate Investment”

Semakin hari, keberadaan Jakarta sebagai Ibukota Negara Indonesia, memang menunjukan potensi yang luar biasa di mata para pebisnis luar negeri. Hal itu bisa dilihat dari beberapa prediksi dan analisa yang dilakukan oleh konsultan asing terhadap Jakarta. Salah satu yang menarik adalah analisa dan prediksi dari apa yang telah dilakukan oleh Urban Land Institure & PWC, bahwa ternyata dengan adanya perkembangan Jakarta hingga saat ini, Kota Jakarta di prediksikan menjadi nomor 6 dalam posisi kota-kota yang paling favorite dalam pengembangan bisnis properti dibawah Bangalore, Ho Chi Mink City, Mumbai, Manila dan Shenzhen.

Mengamati apa yang terjadi dalam kota Jakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya. Sebenarnya bukan hanya Jakarta yang menarik menjadi salah satu lokasi favorit dunia, tapi Indonesia sendiri sudah beberapa kali-pun masuk dalam daftar Negara favorit dalam investasi properti. Seperti juga yang pernah di sampaikan oleh McKinsey Global Institute dalam Indonesia Economic Growth. Dalam paparannya yang selalu melihat Indonesia dalam kaca mata luas, jelas memberikan satu potensi yang luas biasa bagi Indonesia. Jika Jakarta masuk dalam kota dengan tujuan favorite ke 6, maka Indonesia dalam kurun waktu 2012 menuju 2030 meningkat cukup tinggi. Dari tahun 2012 posisi Indonesia masih berada di posisi nomor 16 dari Negara yang memiliki tingkat pertumbuhan tertinggi di dunia. Namun pada tahun 2030 prediski yang diberikan oleh McKensey justru meningkat cukup tinggi, dimana prediksinya pada tahun 2030 Indonesia akan berada di posisi ke-7 dari semua Negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia.

Memang bisa di katakan bahwa Jakarta sebagai sebuah barometer pertumbuhan properti di Indonesia tetap masih menjadi tujuan utama para pebisnis baik di dalam dan luar negeri ketika mereka ingin mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Namun kedepan, agaknya dengan adanya perubahan tren yang terjadi di Indonesia dari beberapa model bisnis di sektor properti sudah pasti pola dan mekanisme bisnis yang mesti dilakukan oleh pebisnis yang bermain di Jakarta mesti melakukan perubahan jika tidak akan ketinggalan dari pebisnis lainnya.

Agaknya apa yang dilakukan oleh Rentfix dengan model bisnis marketplace bidang sewa menyewa properti sudah tepat. Rentfix melihat besarnya potensi bisnis di sektor ini memang pada akhirnya tidak bisa di lihat secara sporadis, tetapi mesti dilihat secara global Indonesia. Sehingga dengan adanya aplikasi terbaru yang di munculkan guna mendukung perkembangan bisnis sewa menyewa properti pada akhirnya akan mempermudah pertemuan antara pengelola sewa, pemilik tempat dan tenant yang membutuhkan ruang usaha. Ini adalah strategi terbaik dalam bisnis sewa menyewa properti yang akan menintegrasikan semua pelaku bisnis ini dalam satu platform yang bernama Rentfix.

Teknologi Properti (Proptech), Kunci Pengembangan Bisnis Properti Masa Depan

Bisnis properti adalah bisnis yang tidak saja mengandalkan data dan update informasi semata, tapi ke depan bisnis properti sudah harus mengakomodir perkembangan teknologi yang sedang berkembang. Kenapa, karena masa depan adalah masa dimana teknologi akan menjadi salah satu cara untuk membuat bisnis properti menjadi lebih menarik.

Setidaknya itulah yang pada akhirnyabisa dilihat dari apa yang diutarakan oleh George Thomas, Chief Information Officer , JLL Asia Pacific. Dalam paparannya George mengatakan “ Semakin banyak investor,pengembang dan pemilik lahan yang sudah mulai memanfaatkan layanan proptech dalam menjalankan bisnisnya. Sehingga jika pelaku properti tidak bisa mengikuti tren yang sedang terjadi, maka bisa jadi mereka akan ditinggalkan oleh pebisnis properti lainnya.”

Dari apa yang di utarakan George diatas, pada akhirnya kita bisa menyatakan bahwa kemajuan teknologi memang akan mengubah pola bisnis dari properti dimasa kini dan mendatang. Tinggal masalahnya kini adalah, sejauh mana pelaku mampu memainkan peranan kemajuan teknologi dengan model aplikasi yang ada bisa memaksimalkan bisnis properti yang menjadi andalan mereka. Karena tanpa adanya kreatifitas dan inovasi dalam hal kemajuan teknologi pun media ini tidak akan bisa berguna secara maksimal.

Itulah tren yang saat ini sedang terjadi dalam bisnis properti di dunia. Setidaknya, dari apa yang di jelaskan oleh George Thomas, bahwa penggunaan teknologi memang telah lama menjadi pembeda dalam industri real estat. Dimana keberadaan teknologi tersebut telah dimanfaatkan oleh pengembang dan pengelola aset properti dalam mengembangkan bisnis yang sedang mereka jalankan. Sejatinya memang peran teknologi, jika di manfaatkan secara maksimal bisa memberikan dampak positif yang luar biasa bagi pelakunya.

Ambil contoh apa yang dilakukan oleh Rentfix, sebuah konsep yang memfokuskan dirinya dalam bisnis properti di sektor sewa menyewa properti. Jika cara konvensional digunakan oleh Rentfix, maka akan ada berapa banyak jumlah marketing yang akan di recruit guna memasarkan proyek-proyek properti. Namun dengan aplikasi Rentfix yang saat ini sedang dikembangkan menjadi matketplace khusus dibidang sewa menyewa properti, perusahaan tidak saja diuntungkan karena bisa memasarkan proyeknya hingga ke seluruh dunia, namun juga akan lebih mudah memproses permintaan, pemesanan dan pembayaran booking fee dari para klien yang ada di dalam maupun luar negeri. Inilah salah satu manfaat teknologi bagi perkembangan dan pengembangan bisnis properti masa depan.

Pada akhirnya memang kemajuan teknologi akan merubah pola kerja dan pola tindak dari pelaku di sektor properti. Karena keuntungan dan keunggulan yang akan di dapat dengan memanfaatkan kemajuan teknologi itu sendiri seperti yang disampaikan oleh George Thomas sebagai berikut :

  1. Kemajuan teknologi akan meningkatkan efisiensi dan keuntungan bagi perusahaan sehingga hasilnya bisa lebih optimal.
  2. Kemajuan teknologi bisa mengubah metode dan teknik pemasaran dan promosi sehingga bisa lebih global dibanding cara yang bersifat konvensional.
  3. Kemajuan teknologi pada akhirnya akan membuat bisnis properti tanpa jarak, dan tanpa batasan waktu kerja karena selama teknologinya bekerja dengan baik, maka bisnis bisa di jalankan selama 24 jam.

Peta Bisnis Perkantoran di Jakarta

Jika kondisi bisnis perkantoran di Surabaya bergeser dari Surabaya Tengah ke Surabaya Barat dan Timur. Maka, tidak jauh beda dengan apa yang terjadi di Jakarta. Dimana potensi gedung-gedung yang ada di luar CBD rupanya memiliki tingkat occupancy rate yang cukup tinggi.

Dalam pandangan Colliers International, masuk ke semester 1-2018 kondisi bisnis perkantoran yang ada di Jakarta dan sekitarnya untuk permintaan sewa perkantoran yang ada di CBD mengalami penurunan secara moderate diangka 2,2% dalam setahun. Sementara untuk quartal to quartal tingkat occupancy berada di level 82,6%.

Sementara total ruang perkantoran baru yang masuk di tahun 2017 sebesar 359.104 m2 berasal dari gedung baru. Dimana sebanyak 47% dari total gedung yang ada terserap oleh perusahaan seperti : Tokopedia, Hanabank, BCA, Excelcomindo, Garena , dll. Dimana ke-9 gedung baru yang masuk pasar Jakarta adalah sebagai berikut : Convergence – Jl.HR Rasuna Said : 36,367 m2, Menara Pertiwi -, Jl Mega Kuningan : 41,456 m2, Satrio Tower –Jl. Satrio : 31,604 m2, Tokopedia Tower – Jl. Satrio : 70,000 m2, Sopo Del Tower A- Jl.Mega Kuningan : 64,000, Telkom Landmark Tower II- Jl. Gatot Subroto : 65,000, Menara Palma 2- Jl.HR Rasuna Sad : 50,000 m2, Pacific Century Place Tower – Jl.Jend Sudirman : 90,500 m2, serta Mangkuluhur Tower- Jln. Gatot Subroto : 53,000 m2.

Di tahun 2018, Jakarta khususnya CBD akan ketambahan lagi sekitar 10 gedung baru dengan jumlah ruang yang disediakan untuk disewa sebesar 630,000 m2. Dan untuk tahun 2017-2018 total ruang yang ditawarkan ke pasar untuk di sewa sebesar 560,000 m2 atau 49,6% dari total persediaan ruang perkantoran yang ada di periode tersebut.

Hampir sama dengan yang terjadi di Surabaya. Di luar area CBD pun lebih banyak tenant baru yang masuk ke gedung-gedung perkantoran terutama berasal dari kalangan pebisnis Teknologi Informasi, Asuransi and Perbankan. Mereka khususnya masuk untuk gedung-gedung baru yang ada di Jakarta Pusat dan Selatan. Sementara untuk tenant yang masuk di gedung yang ada di Jakarta Utara dan Barat adalah pebisnis dari sektor airport or seaport yaitu dari jenis usaha freight forwarding dan perusahaan logistik dan perairan.

Berikut adalah nama-nama gedung baru yang akan masuk di luar CBD periode 2018 – 2020 bersumber dari Colliers International Indonesia :

Tahun 2018 :
Tamansari parama – KH Wahid Hasyim : 10,800 m2, One Belpark Office – Pondok Labu : 17,800 m2, St.Moritz Office Tower- Puri Indah : 19,500 m2, BKP Office Tower – Sunter : 16,000 m2, Hermina Office Bandung – Kemayoran : 20,000 m2, Soho Pancoran – Pancoran : 30,000 m2, One Tower- Kemayoran : 21,400 m2, Ciputra International Puri 1 phase 1- Puri : 15,000 m2, Ciputra International Puri 2 phase 1 : 20,000 m2, Arcade Business Centre – Pluit : 22,000 m2

Tahun 2019 :
MNC Tower II – Kebon Sirih – 60,000 m2, Jakarta Box Tower – Kebon Sirih : 36,000 m2, The Unity@ Kota Kasablanca – Casablanca : 80,000 m2, Ciputra International Puri 3 phase 1- Puri : 30,000 m2, Ciputra International Puri phase 2 : 15,000 m2, Ciputra International Puri 1 phase 3- Puri : 15,000 m2, Ciputra International Puri 2 phase 31 :15,000 m2.

Tahun 2020 :
Ciputra Twin Tower 1 – Kemayoran : 40,000 m2, Ciputra Twin Tower 2 – Kemayoran: 40,000 m2, Agung Sedayu Office Tower – Pantai Indah Kapuk : 50,000 m2 .

Kenaikan 476% Nilai Transaksi E-commerce dan Efek bagi Pasar Properti Indonesia

Tidak bisa di pungkiri, semakin kedepan manusia membutuhkan segala sesuatu yang lebih cepat, praktis dan sudah pasti efektif dan efisien dalam hal waktu dan biaya. Itulah sebabnya, terjadinya tren perubahan pola berbelanja orang beberapa tahun terakhir ini menjadikan bisnis e-commerce mengalami perkembangan yang cukup signifikat.

Ada dua hal yang pada akhirnya menjadi dasar kepada bisnis e-commerce begitu cepat berkembang di Indonesia. Pertama sudah pasti karena market Indonesia yang begitu besar, sehingga potensi ekonomi yang bisa di garap begitu besar dan kedua sudah pasti adanya dukungan sarana dan prasana yang memadahi sehingga bisnisnya seperti mendapatkan tempatnya untuk bisa berkembang secara maksimal di Indonesia.

Dari telusuran litbang Rentfix yang berasal dari Bank Indonesia, periode hingga 2018. Terlihat memang peningkatan yang cukup tinggi dalam bisnis e-commerce, dari tahun 2014 yang baru mencapai Rp25triliun, meningkat menjadi Rp69,8 triliun di tahun 2016. Namun sungguh menakjubkan justru di tahun 2018 ini prediksi yang dibuat oleh Bank Indonesia dengan melihat fenomena yang terjadi di tahun 2017 maka kenaikan di bisnis ini di taksir mencapai 476% dibanding tahun 2014 yaitu mencapai Rp144 triliun.

Peningkatan itupun salah satunya juga di sebabkan karena peningkatan jumlah pengguna internet yang ada di Indonesia. Setidaknya dari data yang bisa kita himpun dari beberapa sumber, kenaikan pengguna internet dari tahun 2013 – 2017 mencapai 54,67%. Dimana pada tahun 2013 baru mencapai 72,8 juta tapi di tahun 2017 sudah mencapai 112,6 Juta. Ini merupakan pencapaian yang cukup menarik, namun satu hal yang membuat terjadinya peningkatan jumlah pengguna internet itu sendiri adalah peran dari para pebisnis e-commerce yang selalu mengupdate aplikasinya sehingga menjadi lebih menarik dan membuat masyarakat lebih tertarik untuk menggunakan aplikasi tersebut untuk berbelanja. Dalam satu penelusuran kita bisa melihat bahwa nilai investasi untuk pengembangan bisnis e-commerce itu sendiri tidak sedikit ada dana sekitar Rp22,6 triliun yang telah di keluarkan oleh pebisnis e-commerce untuk pengembangan model bisnis ini sehingga bisa menjadi lebih menarik.

Terjadinya semua hal yang telah di jelaskan di atas itulah yang pada akhirnya juga mempengaruhi tren yang terjadi pada bisnis properti. Dimana menurut James Taylor, Head of Research PT Jones Lang LaSalle Indonesia perubahan tren bisnis belanja itulah yang juga turut mengubah tren pebisnis yang membutuhkan ruang hingga masuk tahun 2018 ini.

Setidaknya dari kaca mata James Taylor, hingga tahun 2017 lalu ada 3 bagian besar dalam bisnis logistic yang mengusai pasar di Indonesia yaitu Occupier Demand terdiri dari Perusahaan e-commerce, Third-party Logistic (3PL) dan Fast-moving Consumer Goods (FMCG). Penjelasannya adalah untuk E-Commerce investor demandnya adalah pengembang yang disebabkan karena produk ini bersifat favourable demographics. Sementara 3PLs investor demandnya lebih bersifat private equity karena alasan “improving infrastructure” dan yang terakhir adalah FMCGs dengan investor demandnya adalah Sovereign Wealth Funds, hal itu disebabkan karena easier to do business.

Dari analisa yang di kemukakan oleh James, dengan melihat tren yang terjadi hingga tahun 2017 lalu setidaknya akan terjadi 2 model yang kedepan akan menjadi model yang bisa di pilih oleh para pebisnis di sektor ini ketika mereka membutuhkan ruang atau lahan untuk mereka bisa mengembangkan bisnis ini menjadi lebih besar. Kedua model itu adalah : model Built to suite implementasinya akan berupa : konsep limited available space dengan model developer to build warehouse. Sedangkan pola kerjasama yang kedua adalah model Warehouse for leasing dengan model bisnisnya some developers building warehouses for lease in the open market.

Dengan penjelasan diatas, pada akhirnya kini para pemilik lahan atau ruang sewa mesti melakukan strategi bisnis yang lebih menarik agar para pebisnis yang ada di sektor ini tertarik untuk bisa masuk di kawasan bisnis atau kawasan pergudangan yang mereka miliki. Setidaknya jika kita mengamati jumlah pemain besar yang akan menjadi target klien dari perusahaan-perusahaan penyedia jasa pergudangan.

Pergeseran Potensi Bisnis Perkantoran Surabaya, Mengarah ke Surabaya Barat dan Timur

Bisnis properti memang bergerak secara dinamis karena pada dasarnya perkembangan dan pergerakan bisnis properti didasarkan pada kebutuhan dan adanya perkembangan pada bisnis lainnya. Seperti misalnya sektor perkantoran yang ada di Surabaya. Jika sebelumnya terpusat di Surabaya Tengah, maka kini mulai bergeser ke Surabaya Timur atau Barat.

Setidaknya dalam periode waktu 2018-2020 perkembangan bisnis sewa dan jual beli ruang perkantoran akan berada di Surabaya Timur dan Barat. Seperti yang juga di sampaikan oleh Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Collier International . Bergesernya pusat bisnis perkantoran ke arah barat dan timur, sejatinya dikarenakan untuk wilayah Surabaya Tengah sudah sulit untuk mendapatkan lahan yang cukup luas untuk pengembangan bisnis perkantoran.

Kondisi terkini yang ada di Surabaya Tengah menurut Ferry adalah, luas areal perkantoran yang ada di Surabaya Tengah mencapai 190.000 meter atau sekitar 55% dari total luas wilayah perkantoran yang ada di Surabaya . Sedangkan Surabaya Barat dan Timur sendiri saat ini sudah menunjukan pergerakannya sebagai primadona baru dalam bisnis perkantoran di Surabaya. Setidaknya dengan adanya beberapa pembangunan pusat perkantoran menjadi pertanda bahwa memang Surabaya Barat dan Timur menjadi primadona baru pusat bisnis perkantoran.

Ambil contoh kolaborasi anatara PT. Waskita Karya Realty dengan PT. Darmo Permai, yang rencananya akan membangun pusat bisnis dan kawasan terpadu yang berada di lahan seluas 34.088 m2. Proyek yang mereka namakan 88 Avenue tersebut telah berjalan dari tahun 2016 dan direncanakan pada tahun 2018 ini akan selesai. Nantinya dalam kawasan ini akan ada 8 tower yang menawarkan fungsi, estetika dan pilihan unit yang berbeda-beda. Hal ini untuk mengantisipasi perbedaan kebutuhan klien yang ada di Surabaya Barat dan Timur . Disamping pembangunan 8 tower, di areal inipun akan berdiri SOHO 150 unit dan hunian sebanyak 500 unit.

Kemampuan pemerintah daerah Surabaya untuk membagi pasar memang boleh dikatakan cukup sukses, karena pada akhirnya potensi Surabaya Timur dan Barat akan bersaing dalam memperebutkan gengsinya sebagai pengganti Surabaya Tengah. Hal itu dapat dilihat dari pergerakan yang terjadi di kedua wilayah ini. Jika kawasan Surabaya Timur dengan proyek Middle East Ring Road ( MERR) nya yang menjadi daya tarik pelaku bisnis properti untuk pengembangannya. Justru wilayah Surabaya Barat dengan proyek Spazio Tower yang dikembangkan oleh PT. Intiland, sedangkan tidak saja Intiland yang masuk ke Surabaya Barat, ada jugua Voza Office Tower yang dibangun oleh Avia Avian serta Satoria Tower yang dikembangkan oleh Satoria Group. Setidaknya jika kedua wilayah ini digabungkan maka potensi pasokan baru ruang perkantoran yang ada di Surabaya Barat dan Timur mencapai 280.000 hingga tahun 2020.

Jika di breakdown jumlah pasokan ruang perkantoran yang ada di Surabaya sendiri sebenarnya dari data yang disampaikan oleh Colliers International adalah 347.333 m2 dari tahun 2018-2020. Dimana dalam tahun 2018 ini potensial ruang yang mungkin bisa masuk untuk kawasan Surabaya berjumlah 124.347 m2. Pasokan ini menurut Colliers berasal dari 2 gedung baru yang akan masuk ke pasaran gedung perkantoran baru di Surabaya seperti : Praxis Office seluas 12.000 m2 dan Voca Office Tower 18.607 m2. Sementara hingga tahun 2020 3 gedung baru yang akan masuk ke pasar adalah : Pakuwon Tower 39.740 m2, Spazio Tower 20.000 m2 dan Satoria Tower yang memiliki luas 34.000 m2. Dari ke-5 gedung baru tersebut memang terlihat ada 2 yang berada di Surabaya Tengah dan 3 berada di Surabaya Barat.

Secara global jika kita lihat Surabaya, sebenarnya dengan tidak adanya pasokan baru yang masuk di tahun 2017 membuat prosentase tingkat hunian perkantoran di Surabaya masih cukup tinggi. Secara rata-rata tingkatnya berada di level 75,7%. Dimana Colliers International melihat industri yang terkait dengan bidang perbankan dan asuransi masih menjadi dominasi pengisi gedung perkantoran yang ada di Surabaya. Sementara untuk tenantnya sendiri, selain berasal dari dalam negeri, ada pula beberapa Negara yang sudah mulai mengembangkan bisnisnya di Surabaya seperti : China, Korea dan Jepang.

Itulah sekilas pergeseran potensi bisnis perkantoran yang ada di Surabaya. Dari wilayah Surabaya Tengah menuju Surabaya Barat dan Timur. Kami dari Litbang Rentfix akan secara berkala memberikan update terkini mengenai perkembangan dan pengembangan bisnis perkantoran yang ada di Surabaya. Kirimkan permohonan kepada kami menyangkut apa yang menjadi kebutuhan anda menyangkut bisnis sewa menyewa ruang perkantoran yang menjadi kebutuhan anda, dan kami akan berikan saran terbaik bagi bisnis anda sesuai dengan spesifikasi yang anda butuhkan.

Trend 5 Teknologi di Sektor Properti

Sektor real estate memang lebih tahan terhadap perubahan teknologi daripada industri lain. Namun, teknologi ternyata bisa membantu sebuah perusahaan properti untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak. Maka dari itu, mulai banyak teknologi baru yang dimanfaatkan oleh para pengusaha dan pemilik real estate, seperti aplikasi smart building dan portal analisa pencarian building.

Berdasarkan kutipan dari beberapa media online, perkembangan trend sektor properti sekarang ada lima teknologi yang kerap digunakan oleh pelaku usaha di bidang properti.

  1. Internet of things

Internet of Things (IoT) adalah konsep pemanfaatan koneksi internet yang tersambung terus-menerus. Konsep ini sekarang mulai diterapkan pada rumah, seperti sensor cerdas dan aplikasi terintegrasi. Di masa depan, jika rumah bermasalah, penghuni hanya mengirim sinyal pemberitahuan sehingga tidak perlu repot-repot memanggil teknisi.

  1. Analisis prediktif

Kini, investor bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada bisnis real estate ke depannya. Dengan analisis ini, para profesonal bisa memutuskan dengan bijak, investasi apa yang akan mereka ambil berikutnya. Menganalisis berbagai informasi, baik tren kerja, pola demografi, dan biaya modal broker, tentu akan memberikan banyak keuntungan.

  1. Perbandingan pasar secara real time

Dengan teknologi ini, investor dengan mudah bisa melacak pesaing bisnis serta mengetahui aset yang belum diketahui dan laporan pasar secara real time. Tren bisnis masa depan pun bisa dilihat dari perbandingan pasar secara real time. Di Rentfix, para users bisa dengan mudah membandingkan harga sewa, fasilitas dan keunggulan lainnya.

  1. Jaringan untuk ruang kantor dan tempat usaha

Dulu, penggunaan ruang kantor kerap tidak efisien. Pengguna kerap menyewa ruangan secara penuh, padahal jumlah karyawannya hanya 2-3 orang. Kini, ada teknologi untuk menyediakan ruangan kantor yang fleksibel. Dengan teknologi ini, orang bisa menyewa ruangan kerja per jam atau per minggu. Solusi ini dinilai menguntungkan kedua belah pihak, baik penyewa maupun yang menyewakan. Inilah salah satu keunggulan yang bisa dicapai dengan Rentfix.

  1. Kecerdasan buatan

Mesin yang bisa memberikan data atau ramalan bisnis dengan cepat. Teknologi ini tentu akan membantu seluruh proses penjualan. Agen yang berpengalaman akan memiliki data secara mudah untuk membuat asumsi tentang klien dan pasar. Dengan begitu, mereka bisa tahu kapan waktu terbaik untuk menghubungi pelanggan mereka.

Semoga sektor properti di Indonesia juga dapat memanfaatkan teknologi digital untuk lebih maju dan berkembang.

27 Kawasan Industri (KI) Pemerintah Akan Bersaing Dengan 73 KI Swasta

Bisnis dalam sebuah kawasan industri, memang sebaiknya terintegrasi dengan bisnis lain yang ada di sekitarnya. Karena hal itu menjadi satu keharusan agar pencapaian hasil yang di harapkan dengan masuknya industri dalam sebuah kerangka model bisnis didalam kawasan industri bisa tercapai.
Pola bisnis itulah yang pada akhirnya mengharuskan pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam pengelolaan kawasan industri di sektor pemerintah terus melakukan pembenahan agar mampu bersaing dengan kawasan industri yang di kelola oleh pihak swasta nasional.

Setidaknya , saat ini ada sekitar 100 kawasan industri yang ada di Indonesia. Dari jumlah tersebut, memang potensi swasta mendominasi dalam jumlah kawasan industri yang ada di Indonesia. Namun sayangnya dari jumlah yang di miliki swasta tersebut memang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Hingga saat ini kawasan industri yang dimiliki oleh swasta masih di koordinir oleh Himpunan Kawasan Industri ( HKI). Dimana hingga tahun 2017 lalu jumlahnya berada di angka 73 perusahaan kawasan industri. Dengan luas total areal yang mencapai 54.650,52 Ha.

Keberhasilan swasta dalam mengembangkan bisnis kawasan industri memang cukup terlihat. Hingga kini, kawasan industri tersebut telah mampu merealisasikan beroperasinya perusahaan industri manufaktur sebanyak 9.200 perusahaan yang tersebar di seluruh kawasan industri dalam 73 perusahaan kawasan industri dengan jumlah penyerapan tenaga kerja yang mencapai 3,68 juta karyawan.

Dari pihak pemerintah sendiri, agaknya pemerintah cukup jeli dalam melihat sebuah peluang. Jika swasta nasional memiliki jumlah yang begitu besar akan sulit bersaing jika konsep yang ditawarkan hampir sama dengan apa yang telah di kerjakan oleh swasta. Itulah sebabnya, pada akhirnya pemerintah lebih berkonsentrasi dalam pengembangan kawasan industri yang lebih khusus. Konsep KEK ( Kawasan Ekonomi Khusus) adalah solusi terbaik dari pemerintah terhadap pelaku bisnis industri di Indonesia.

Dari total 27 kawasan industri yang masuk dalam rencana Proyek Strategis Nasional, setidaknya pemerintah sudah merencanakan strategi baru dalam meraih sebanyak mungkin perusahaan untuk masuk dalam kawasan industri yang di kelola oleh pemerintah. Dari total 27 tersebut, total 7 kawasan sudah beroperasi, 10 kawasan dalam tahap konstruksi ( di rencanakan dalam 2 tahun kedepan kawasan ini sudah mulai beroperasi ) dan 10 kawasan dalam tahap perencanaan ( dalam 1 tahun kedepan masuk dalam tahap konstruksi).
Menariknya, apa yang coba disajikan oleh pemerintah ini bisa menjadi alternative solusi bagi pelaku bisnis. Hal itu dikarenakan pengembangan bisnis yang kedepan akan merambah ke luar pulau Jawa telah diantasipasi dengan baik oleh pemerintah. Hingga pada akhirnya ke-7 kawasan industri yang telah beroperasi mayoritas ada di luar pulau Jawa seperti : Kawasan Industri Palu, Sulawesi Tengah (status KEK), Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah, Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara, Kawasan Industri Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kawasan Industri Sei Mangkei, Sumatera Utara, Kawasan Industri Dumai, Riau, dan Kawasan Industri Wilmar Serang, Banten.
Koneksitas dan terintegrasi dalam kerangka bisnis setempat menjadi pola bisnis kawasan industri yang dikembangkan oleh pemerintah.

Itulah harapan yang selalu dikedepankan oleh Airlangga Hartarto selaku Menteri Perindustrian yang sejak awal berdirinya kawasan industri yang ada di daerah-daerah menjadi salah satu cara agar daerah bisa lebih berkembang dalam pola pengembangan industri berbasis komoditas local. Sebuah terobosan yang bisa dilakukan oleh pemerintah dengan melihat adanya koneksitas dan integrasi bisnis yang bisa dijalankan oleh pusat kepada daerah.

Sumber: Penelitian dari berbagai sumber oleh Divisi Litbang Rentfix

Untuk melihat listing properti berkaitan dengan pergudangan dan industri, bisa dilihat di Rentfix.

Peta Bisnis Kawasan Industri, Potensi Investasi Masa Depan

Akhir 2017, bisnis di kawasan Industri telah menambah 10 kawasan industri baru, yang akan meramaikan pasar guna merebut potensial klien yang ada di Indonesia. Yakni, 10 kawasan industri telah tersebar 3 di pulau Jawa dan 7 di luar pulau Jawa.

Konsistensi pemerintah dalam pengembangan bisnis kawasan industri memang tidak main-main. Hal itu bisa dilihat dari mulai consernya pemerintah dalam melakukan penanganan bisnis di sektor kawasan industri. Ketika investor atau calon investor menanyakan soal lokasi yang tepat dalam pengembangan bisnis, yang mereka ingin kembangkan di Indonesia pada lokasi yang bisa ditawarkan.

Kemampuan pemerintah pada Kementerian Perindustrian dalam pengembangan kawasan industri boleh diacungkan jempol. Pasalnya, penyebaran kawasan industri sudah nampak. Ini jelas mengindikasikan bahwa pemerintah ingin meratakan menyebaran kawasan industri yang ada di Indonesia.

Penyebaran kawasan industri baru wilayah Jawa meliputi Karawang, Bekasi, Majalengka, Tangerang, dan Sidoarjo. Sedangkan, luar pulau Jawa, yakni Ketapang, Penajam Paser Utara, Deli Serdang, Simalungun, Muaro Jambi, dan Gorontalo Utara.

Peningkatan bisnis kawasan industri, akhirnya berdampak langsung terhadap peningkatan usaha industri di tanah air. Wajar, jika peningkatan itu tidak saja berdampak pada bisnisnya tetapi juga pada penyerapan jumlah tenaga kerja, yang masuk di sektor industri sebagai salah satu penunjang keberhasilan bisnis di sektor industri.

Dari data yang di himpun dalam perkembangan bisnis kawasan Industri di Indonesia, hingga memasuki akhir 2017. Jumlah unit usaha industri mengalami peningkatan sebesar 244,18% dari tahun 2014, yang baru mencapai 1.288 unit usaha menjadi 4.433 unit usaha di 2017. Di prediksi hingga tahun 2019 angka itu akan terus meningkat hingga 91,47% pada tahun 2019 sehingga jumlah unit usaha yang akan tumbuh menjadi sekitar 8.488 unit usaha. Sementara, untuk peningkatan dari sektor angkatan kerjanya sendiri, dalam kurun waktu 2 tahun kedepan diprediksi akan meningkat sekitar 11,11% dari jumlah tenaga kerja di tahun 2015-2017 yang mencapai 16,57 juta menjadi 17,10 juta pada tahun 2019.

Korelasi yang baik ini membuat sektor industri mampu meningkatkan jumlah investasi yang masuk ke Indonesia. Harapan itu memang terlihat dari data yang di himpun Kementerian Perindustrian dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya dari Rp706,9 triliun pada tahun 2015-2017 meningkat hingga 148,83% pada 2017-2019 dengan nilai Rp1.759 triliun.

Dengan tingginya angka pertumbuhan yang bisa dicapai dalam kurun 2 tahun kedepan, inilah saatnya para pemilik usaha menentukan pilihan di lokasi mana bisnisnya ingin di kembangkan. Karena diprediksi dalam 2 tahun ke depan kawasan industri baru yang di bangun pemerintah akan siap menampung pengembangan bisnis para pelaku industri.

Sumber: Penelitian dari berbagai sumber oleh Divisi Litbang Rentfix

Untuk melihat listing properti berkaitan dengan pergudangan dan industri, bisa dilihat di Rentfix.

Rentfix Public Beta Launching

Setelah kerja keras dan kerjasama yang baik oleh Tim Rentfix selama beberapa bulan, Rentfix public beta akhirnya dapat ‘go live‘ pada 18 September 2017, dengan dukungan yang luar biasa dari Seven Star Property, listing partner pertama kami.

Kami sedang dalam proses bertemu dan sharing dengan lebih banyak listing partners untuk mengenalkan konsep dan cara kerja Rentfix untuk menambah inventaris tempat sewa sebelum kita melakukan full-launching.

Di beberapa bulan yang akan datang di tahun 2018 ini, kami akan tetap fokus di penyempurnaan website dan users experience, kolaborasi dengan lebih banyak business dan listing partners, pengembangan Mobile Apps dan mulai melakukan Marketing Campaign untuk memperluas jaringan pengguna dan branding [Rentfix] (*https://www.rentfix.com).