Padang-jam-gadang.jpg

Bisnis Pergudangan di Padang Masuk 3 Besar Bisnis Utama

Padang atau biasa di sebut Kota Padang sebagai Ibukotanya Propinsi Sumatera Barat. Memang dari dulu hingga sekarang terkenal dengan potensi pariwisatanya. Tidak saja karena Padang menyimpan begitu banyak lokasi yang menarik, tapi juga Padang terkenal dengan budayanya yang memang masih memegang teguh budaya leluhur.

Namun jangan salah, dibalik menariknya bisnis pariwisata di Padang, sejatinya jika melihat struktur pembentukan ekonomi yang ada di Sumatera Barat, ternyata ada 3 sektor yang menjadi pendukung utama pembentukan struktur ekonominya yaitu sektor pertanian yang masih menjadi contributor utama : 23,61%, sektor perdagangan yang mencapai 14,94% dan sektor transportasi dan pergudangan yang mampu memberi kontribusi hingga 12,88%.

Dari ketika sektor tersebut, yang menarik adalah mampu memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang pada tahun lalu mencapai 5,38% lebih tinggi diatas pertumbuhan nasional yang berada di level 5,06%. Hal itulah yang disampaikan oleh Hefinanur, Kabid Neraca wilayah dan Analisa Statistik BPS Sumatera Barat. Lantas, jika kondisinya seperti pasti kita berharap kedepan sektor pergudangan di harapkan bisa menjadi salah satu motor penggerak bisnis properti di kota yang terkenal dengan Jam Gadangnya.

Namun memang agak berbeda dengan kota-kota atau wilayah lain yang ada di Indonesia, karena seperti halnya Yogyakarta dengan lingkugan kratonnya. Maka di Jogja tidak semua lahan atau lokasi bisa di kembangkan untuk pengembangan properti. Di Padang Sumatera Baratpun terkenal dengan istilah tanah ulayat. Dimana pada prisipnya tidak semua lahan yang ada di Padang bisa dengan mudah di kembangkan untuk kepentingan bisnis.

Secara deskripsi umum, tanah ulayat itu memiliki pengertian : Secara deskripsi, tanah ulayat bisa diartikan, tanah bersama para warga masyarakat hukum adat yang bersangkutan. Hak penguasaan atas tanah masyarakat hukum adat dikenal dengan Hak Ulayat. Hak ulayat merupakan serangkaian wewenang dan kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam lingkungan wilayahnya. Sehingga karena faktor itulah agak sulit jika pada akhirnya status tanah ulayat di gunakan sebagai lahan untuk bisnis properti.

Melihat kondisi tersebut, pada akhirnya Harriandy seorang Independent Property yang berasal dari Padang mencoba memberikan sedikit masukan terkait apa yang mesti dilakukan oleh seorang pebisnis ketika hendak berinvestasi di Padang. Ada 3 cara yang bisa dilakukan demi mengembangkan bisnis dalam sektor properti, terlebih jika arahnya untuk sektor pergudangan dan properti komersial lainnya. Pertama cek and ricek status tanah, kedua balik nama status tanah tersebut dengan mendaftarkan di Badan Pertanahan setempat dan ketiga baru lakukan proses pembangunan. Karena jika hal itu kurang diperhatikan oleh pebisnis, maka bisa terjadi dalam beberapa waktu ke depan biasanya sekitar 5-10 tahun kedepan klaim lahan itu menjadi tanah ulayat sehingga bisa merugikan pebisnis yang bersangkutan.

Kedepan Padang dan Sumatera Barat sudah pasti tetap akan menjadi salah satu potensi bisnis yang menarik dalam sektor properti. Terlebih dengan pertumbuhan ekonominya yang cukup menarik. Semoga dengan adanya beberapa kondisi diatas, baik pelaku ataupun Pemerintah Daerah bisa terintegrasi sehingga bisa memberikan manfaat yang maksimal bagi pelaku bisnis yang memang tertarik berinvestasi di Padang Sumatera Barat. Kami di Rentfix berterimakasih telah mendapatkan seorang user warga Kota Padang yang menyewakan ruang usahanya melalui platform Rentfix.